Medeia pov... Aku menatap Bintang di atasku yang bertabur di indahnya langit malam. Angin berhembus menerbangkan beberapa helai rambutku dan juga membawa bau darah dari sekelilingku. Aku merasakan nyeri di punggungku. Lukanya masih terbuka lebar. Dan jika aku tidak menghentikan pendarahannya, kurasa aku pasti akan mati karna kehabisan darah. Tapi, entah kenapa rasa nyeri di hatiku terasa lebih sangat mengganggu. Rasanya sangat sakit. Lebih sakit daripada melibat tuan muda membunuh nona Safir. "Uhuk..." Sepertinya.. Tulang rusukku juga ikut patah. Aku memegang dadaku. Sedari awal aku tau, misi ini tidak mungkin untukku. Ayah membuangku. Berniat membunuhku. Karna aku ingin menjadi anak perempuannya. Tapi Ayah, apa ayah pernah menganggapku sebagai putrimu? Aku sangat ingin bertanya seperti

