BAB 4

791 Words
Aril menatap Lucas marah karna laki-laki itu sama sekali tak berperasaan. Lihat saja, Lucas masih terlihat sangat tenang dan diam ketika sudah ketahuan melakukan hal yang tidak benar. "Sebaiknya lo tanggung jawab ke adek gue!" "Dia nyuruh ngelupain tuh." balas Lucas santai. Lucas sudah tak mau memohon-mohon kepada perempuan lagi. Tak lama suara pintu di kamar mandi yang Aril kunci berbunyi keras. "Aril Bastard!! b******k!!" makinya dari dalam sana. Aril menghela nafas panjang. Ia lalu menuju ke arah kamar mandi tempatnya mengunci Cyrine. "Udah sadar?" "Are you crazy?? Bisa-bisanya kamu siram aku pake air hahh?? Open it b******k!" Aril berjalan mendekati pintu tersebut lalu membukanya. "Jerk!!" maki Cyrine tepat di muka Aril. Kini Ia mendorong Aril cepat. Cyrine berjalan naik ke atas kamarnya. Ketika melihat banyak orang yang menatapnya, Cyrine hanya melewatinya cuek. Ia tak peduli. "Hai Sexy girl." Cyrine langsung berhenti tepat di depan tangga. Suara berat itu, ia mengenal suara itu. Cyrine pun menoleh. Ia melihat laki-laki itu lagi. "You are- Oh s**t!! What are you doing?" tanya Cyrine penasaran. Maklum ia lupa jika Lucas adalah teman Aril. Dan ia baru saja menciumnya. Cyrine belum sepenuhnya sadar. "Kamu yang kenapa disini?" tanya Lucas balik. "Oh lupakan. I don't care!" "Really?" tanya Lucas tak yakin. "Sure!" jawabnya kesal. Tapi tiba-tiba ia teringat kejadian yang baru saja ia lakukan. Cyrine menegang, langkahnya berhenti. Wajah Cyrine pucat. Tapi tak lama ia merelaxkan wajahnya setenang mungkin. "Punya hubungan apa kamu sama dia?" tanya Aril. "Teman ONS maybe. Bye bye My Seksi Man." jawab Cyrine yang langsung berlari ke atas. Jelas Aril langsung mengejarnya. Rasya mengikutinya. "Cyrine ... Apa-apaan yang kamu lakuin tadi?" Cyrine tak mendengarkannya. "I will change my T-shirt. Get out please!" mohon Cyrine. Aril berhenti lalu menatap jengkel Cyrine. Disisi lain Sean langsung menggoda Lucas. Terlebih mendengar suara omelan Aril dari lantai atas. "Baru kali ini aku lihat Aril sejengkel itu sama orang." kata Darrell. "Yaudah sih Cas ... Nikahin aja. Daripada berharap sama yang udah pasti di tolak! Cantik loh anaknya." goda Sean. Lucas diam tak memperdulikannya. Tak lama Aril turun bersama Rasya yang menenangkannya. Baru saja ia akan mengomeli Lucas, Ia sudah melihat Cyrine turun dengan mengenakan setelan crop top dan mini skirt merah terang. Ia juga mengenakan heels tinggi bewarna merah. "Cyrine!! Mau kemana?" tanya Aril. Cyrine berbalik. "Of course clubbing!" jawab Cyrine dengan memakan permen karet. Aril melihat baju yang dikenakan Cyrine syok. Baju itu lebih pendek dan lebih seksi daripada tadi. "Apa-apa an baju kamu itu? Ganti!!" teriak Aril. Cyrine tak bergeming. "Kenapa nggak sekalian pake bikini sana!" "May i?" balas Cyrine. Mulut Aril terbuka. Fix ini sepupunya makin nggak waras. "Cyrine ini di Indonesia. Bukan Brazil. Jadi jangan pake baju kayak gitu ya. Baju kamu ini nggak sopan." kata Rasya menasehatinya. "Next time i will not use this again." jawab Cyrine. "Naik!" suruh Aril yang kini menggeggam tangan Cyrine. Cyrine berusaha melepaskanya. "Calon istrimu Cas. Lakuin sesuatu." "Calon istri?" ulang Cyrine. "Aku akan bilang ke Papamu. Ia mungkin akan menikahkan kalian." kata Aril. Cyrine menatap Aril panik. "Married?" "Yeah. Married." "No! Aku nggak mau nikah!" "Kenapa?" tanya mereka serempak. Pasti ada yang aneh dengan Lucas. Kenapa perempuan itu menolak untuk menikah dengan Lucas. "Kalau kamu nggak mau nikah harusnya nggak usah ONS-an segala!" sindir Aril. "Lagian kamu ngapain sih sama dia?" tanya Aril tak suka. Tak tahukah Cyrine jika ia hanya di jadikan pelampiasan. "Karna aku menyukainya." jawab Cyrine santai. Lucas langsung menatap Cyrine. "Menyukainya?" tanya Aril tak paham. "He's my type." "Oh, Damn it!!" maki Aril. Ia tak habis fikir dengan jalan pikiran sepupunya. Emang kalo tipenya, ia harus tidur dengan semua laki-laki itu? "Kamu kenal dengannya atau gimana gitu? Pernah ketemu?" "Yeah, I saw him sitting under a tree." jawab Cyrine. "Kalau gitu bagus. Kalian cocok, terlihat serasi. Lebih baik jika menikah." balas Sean. "Aku dengannya? My sexy man?" Tanya Cyrine dengan menunjuk Lucas. Mereka menganguk kecuali Aril dan Lucas. "No thanks. Aku nggak butuh!" balas Cyrine. "Kenapa? Ada yang salah denganya?" "Of course! Dia nggak tertarik denganku" jawab Cyrine yang langsung berlari pergi. Aril berteriak lalu mengejarnya. Tapi, Cyrine sudah keburu masuk mobil dan mengemudikannya keluar. ****** Cyrine tersenyum miring mengejek. Menikah?? Lucas, laki-laki itu bahkan sama sekali tak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Lucas bahkan tak mengingatnya. Buat apa ia menikah dengan orang seperti itu. Menikah?? Huh ... Harapan Cyrine saat ini hanya bisa hidup sampai seratus tahun. Hidup mewah bersenang-senang dan tak akan pernah bersedih. Cyrine memakirkan mobilnya lalu masuk kedalam club malam. Ia lalu bersiap sebelum tampil. Ia menemukan kesibukan yang lain. Cyrine mulai menari dan meminum whiskynya santai. Keesokan harinya, Aril menunggu Cyrine dengan amarah yang membabi buta. Adiknya itu, ia harus memulangkannya hari ini. "Kamu kan ada rapat, sana pergi kerja. Nanti Cyrine aku yang urus." kata Rasya. Aril mendecak tapi akhirnya ia menganguk. "Titip Cyrine." kata Aril yang kemudian mencium kening Rasya dan berangkat kerja. Sepeninggalnya Aril, Rasya menelfon Cyrine menyuruhnya pulang. Cyrine tersenyum. Ia lalu memeluk Rasya erat mengucapkan terimakasih karna telah menyelamatkannya dari amukan Aril. Rasya menyediakan Roti panggang untuk Cyrine. Cyrine memakannya menggunakan sayur. "Kamu serius suka sama Lucas?" tanya Rasya yang duduk disamping Cyrine. Cyrine tersenyum ia lalu menganguk. Ia menyukai laki-laki itu. Laki-laki itu benar-benar tipenya. Rasya lalu menceritakan hubungan Lucas dan Mentari yang ia ketahui. Cyrine menanggapinya santai. Ia sudah tau jika laki-laki itu menyukai perempuan lain. Yang tak ia ketahui adalah, siapa perempuan beruntung itu. Selesai sarapan Cyrine berpamitan untuk ke atas kamarnya. Ia langsung mandi. Selesai mandi ia menatap lukisan yang baru setengah jadi di depannya. Masih dengan handuk di tubuhnya Cyrine mulai melukis kembali. Membayangkan Lucas yang duduk bersandar di bawah pohon dengan memegangi botol Wine. ****** Mentari mengajak anak-anak panti asuhan untuk membersihkan panti asuhan bersama. Biasanya Lucas akan datang kesini dan membantunya. Tapi kini, laki-laki itu tak datang. Mentari sadar. Jika keputusannya waktu itu pasti sangat melukai Lucas. Tapi, entah kenapa Mentari tak tahan. Rasanya ia ingin sekali melihat Lucas. Melihat laki-laki itu tersenyum, berbicara, Ia ingin berbicara dengan Lucas. Tapi Lucas, Mentari tak mungkin datang memintanya kembali setelah menolaknya. Mentari menghela nafas. Perasaannya sangat tak tenang akhir-akhir ini. Padahal harusnya ia senang jika Lucas menghindarinya. Tapi ini perasaannya sangat tak tenang. Perasaannya menginginkan Lucas kembali padanya. Perasannya menginginkan Lucas datang padanya. Mentari berjalan ke kamar mandi. Ia lalu mencuci mukanya. Perasaan dan pikirannya benar-benar hanya tertuju pada Lucas. Sedang apa laki-laki itu. Apa ia sudah makan? Apa ia tidur tenang? Apa ia sudah berhenti minum alkohol? Apa ia kerja lembur lagi?? Sekarang, apa yang dilakukan Lucas? Mentari sangat penasaran. Apa yang dilakukan laki-laki itu sekarang tanpa dirinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD