BAB 58

1889 Words

Baru saja beberapa menit aku melintasi portal, suara ponsel baruku berdering dan sebuah nomor yang tidak kukenal terpampang di layar. Aku merasa tidak punya kewajiban untuk mengangkatnya jadi kuabaikan saja telpon itu dan membuat ponselku menjadi mode senyap. Biasanya mereka adalah orang-orang iseng yang mengerjaiku atau fans-fans gilaku yang sangat terobsesi padaku. Ponselku bergetar, layar menunjukkan nomor yang berbeda dari sebelumnya.

“Apa mereka tidak mengenal kata menyerah?!” omelku sambil melihat layar ponsel. Aku menahan diri untuk tidak membanting ponselku. Tubuhku mulai terasa semakin sakit, kekuatan regenerasiku benar-benar sangat lambat dan mungkin tidak berpengaruh sama sekali. Aku sedang menimbang-nimbang apakah aku harus berburu atau pergi ke tempat Elisiya, darah yang sudah dia pesan pasti sudah sampai. Lebih baik aku menemui Elisiya lebih dulu sebelum dia mengomel karena aku tiba-tiba saja menghilang.

***

“Dari mana saja tanpa memberitahu orang-orang kalau kau pergi?”  Jayden sudah menunggu di depan rumah Elisiya dengan ekspresi wajah yang masam. Tak kusangka dia akan menungguku seperti ini di depan rumah.

“Aku pergi sebentar menemui Dad,” aku tersenyum agar dia tidak begitu marah padaku.

“Dengan kondisi tubuhmu yang seperti itu kau memaksa pergi?”

“Memangnya kenapa? Tubuhku baik-baik saja, kekuatan regenerasiku menyembuhkan semua rasa sakitku. Jangan khawatir berlebihan Jayden, aku benar-benar tidak apa-apa.”

“Kelemahanmu yang tidak kau sadari Kim, kau tidak akan pernah bisa membohongiku. Aku tahu kau sedang menahan rasa sakitmu,” Jayden berjalan mendekat padaku, dengan satu gerakan aku sudah berada di punggungnya. Dia menggendongku masuk kedalam rumah.

“Aku tidak berbohong padamu, hanya tidak ingin membuatmu khawatir saja. Kau selalu begitu berlebihan jika sesuatu yang kecil terjadi padaku,” gerutuku di telinganya.

“Tentu saja aku bisa merasakannya dan tidak bisa mengabaikan itu, karena aku bisa merasakan emosi setiap vampire dan manusia, itu jadi lebih sensitif ketika merasakan perasaan matenya. Bahkan perubahan kecil dari emosimu aku bisa merasakannya.”

“Sepertinya kamu salah Jayden, kamu memang bisa merasakan perasaan orang lain dan juga aku, tapi kamu tidak bisa mengerti hatiku,” ungkapku di telinganya.

“Bisakah kau tidak bicara di dekat telinga?  Napasmu begitu menggelitik… bagian mana aku tidak mengerti hatimu, hah? Aku adalah vampire yang paling peka, mustahil aku tidak bisa mengerti hatimu,” begitu melihat sofa, Jayden langsung mendudukkanku dengan perlahan. “Tunggu disini, akiu akan mengambilkan beberapa kantung darah untukmu. Jangan sampai ketika aku kembali kau malah menghilang lagi.” Aku tertawa mendengarnya.

“Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menghilang lagi?” aku terkekeh membayangkan hal-hal yang akan dilakukan Jayden.

“Apa tidak ada yang terbayang dalam kepalamu ini?” Jayden datang dengan membawa empat labu darah. Jumlah yang cukup banyak jika itu untukku sendiri. Dia merobek ujung atas dari kantung darah itu dengan giginya lalu memberikannya padaku.

“Yang terbayang olehku adalah kau yang selalu mengomeliku, benarkan? Itu yang selalu kau lakukan jika aku membuatmu khawatir,” aku menyesap dalam-dalam darah itu kemudian meneguknya dalam jumlah yang banyak.

“Sepertinya kau hanya mengingat hal-hal yang buruk tentangku, apa aku sejahat itu di matamu?” aku nyaris tersedak melihat wajah memelas yang dia tunjukan.

“Kenapa wajahmu sep…”

Bibir Jayden mendarat dengan halus di bibirku. Kecupan-kecupan lembut di bibirku berubah perlahan berubah menjadi lumatan kasar, menuntut dan panas. Dia melesakkan lidahnya lalu menyapukannya dengan lidahku. Setelah beberapa menit, dia menghentikan aksi ciuman panasnya denganku. Aku hanya menatapnya dengan kosong sambil mengerjap-ngerjapkan mataku.

“Jangan kecewa karena aku menghentikan ciumannya, kita sedang ada di tempat orang lain. Jika kau menginginkannya aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini di tempat kita sendiri,” godanya sambil menjilat bibirnya sendiri. “Sangat manis, aku tidak tahu apa ini karena darah atau karena bibirmu.”

“Kau selalu bisa mengambil kesempatan, bisa-bisanya saat seperti ini…” aku mengerucutkan bibirku.

“Aku tahu kau menyukainya Kim, sangat menyukainya. Akui saja, tak perlu membohongi perasaanmu sendiri.” Jayden tersenyum lebar begitu dia tahu bagaimana perasaanku saat ini.

“Diam! Minum saja ini!” aku menyumpal mulutnya dengan kantung darah yang baru setengahnya aku minum. Aku merasa sangat malu dengan apa yang dia lakukan padaku tadi. Sebaliknya, dia dengan tidak tahu malu malah terkekeh-kekeh sambil terus menggodaku. Pipiku pasti sudah semerah tomat sekarang ini.

“Kau sudah kembali Kim? pergi kemana saja, bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Masih terasa sakit?” tanya Elisiya di kejauhan.

“Aku baru saja kembali El… tubuhku masih sedikit sakit tapi ini sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Penyihir memberiku ramuan yang entah terbuat dari apa sehingga aku bisa bergerak walaupun masih terbatas,” jawabku.

“Bagaimana dengan bahumu? Peluru itu nyaris membuatmu tidur abadi, kau pasti merasa sangat tersiksa sampai nyaris mati,” Elisiya kemudian terdengar khawatir, dia datang kemudian memeriksa lukaku.

“Sebelum aku meminum ramuan yang diberikan penyihir, setengah tubuhku dari atas sampai bawah terasa sangat panas seperti terbakar dengan api yang sangat panas, kemudian aku kejang-kejang dengan sangat hebat sampai membuat sedikit kehebohan di ruangan Dad.” Aku tidak ingin melihat apa yang Elisiya lakukan pada lukaku.

“Sepertinya kemampuanmu untuk menyembuhkan diri terhambat karena peluru dari The Hunters, lubang bekas peluru belum tertutup sama sekali, masih terlihat sama seperti sebelumnya.” Aku tidak mau membayangkan hal itu, sebuah lubang di bahuku. Aku menggeleng dengan perlahan.

“Itu akan membutuhkan waktu, aku pernah tersayat dengan senjata mereka yang seperti pisau kecil. Efeknya terasa sampai tiga minggu, tapi kau mungkin berbeda karena aku memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka. Kau bisa sembuh lebih cepat daripadaku,” Jayden mengecup rambutku.

“Kenapa kau menyamakan luka sayat dengan lubang karena tertembak peluru, itu dua hal yang sangat berbeda!” protesku padanya.

“Apa kau ingin berendam dengan darah? Itu bisa mempercepat penyembuhanmu seperti waktu itu, aku akan menyiapkannya sekarang juga. Kau tidak perlu khawatir tentang persediaan darah, ada darah lain selain manusia disini,” tawar Elisiya.

“Tidak perlu, itu terlalu menghambur-hamburkan persediaan darah. Aku takut ketika kita membutuhkan banyak darah tapi kita tidak memiliki cadangan sama sekali,” Aku meminum darah dari kantung yang baru karena yang sebelumnya sudah diminum Jayden.

“Benar juga, aku akan sulit mendapatkan darah lagi jika nanti ada pertarungan dengan chimera. Lalu, kudengar dari anak itu kau mengambil sesuatu miliknya. Dia terus merengek padaku agar aku mengambilnya darimu, memangnya apa yang kau ambil Kim?” Elisiya menatapku dengan sorot mata penuh keingin tahuan.

“Aku hanya mengambil sebuah foto dan juga kristal darah milik Cladius, dia memberitahuku untuk menggunakan kristal ini melawan chimera. Tapi aku tidak mengerti bagaimana cara untuk menggunakannya.” Aku merogoh saku celanaku kemudian menunjukkan dua benda yang aku ambil pada Elisiya. El, lebih tertarik pada sebuah foto yang ada di tanganku.

“Tidak mungkin, ini sangat tidak mungkin…” bisik Elisiya sambil menatap foto itu dengan lekat. Dia tampaknya mengenali perempuan yang ada di foto itu.

“Kau mengenali perempuan itu El? Siapa dia?” Jayden mewakiliku untuk bertanya pada Elisiya. Aku senang dia bisa membaca emosi dan perasaanku saat seperti ini.

“Ya, aku sangat mengenal wanita yang ada di dalam foto ini. Dia wanita yang sangat berbakat dalam dunia medis dan pengobatan, semua penelitian-penelitian medisnya sangat diakui seluruh dunia. Aku juga sering bertukar pikiran dengannya mengenai dunia medis dan pengobatan.” Elisiya terlihat sangat sedih.

“Lalu dimana dia sekarang?” tanyaku dengan suara yang sangat pelan.

“Dia keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja karena ada tawaran dari suatu Lembaga. Dengan senyum senang dia berkata padaku bahwa mimpinya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Aku yang tidak tahu apapun mengucapkan selamat padanya, ternyata dia pergi ke laboratorium milik The Hunters.”

“Bagaimana bisa dia tahu dan pergi ke tempat itu? bukankah The Hunters hanya mempekerjakan orang-orang yang memiliki garis keturunan dari leluhur mereka?”

“Tidak semua seperti itu, tidak semua keturunan mereka diwarisi kekuatan. Kadang diantara mereka terlahir menjadi manusia biasa, tidak memiliki kekuatan dan mereka juga merekrut orang-orang yang berbakat diluar dari garis keturunan,” Jayden menjelaskan tentang pekerja di organisasi The Hunters.

“Di rumah sakit sangat terbatas untuk melakukan penelitian yang dia inginkan karena ada peraturan yang harus di patuhi. Sedangkan laboratorium milik the hunters, semua orang bebas memakai fasilitas yang ada selama mereka membantu perkembangan organisasi dan anggota mereka,” sambung Eli. Wajahnya masih terlihat sangat sedih, sepertinya dia dan orang yang ada di dalam foto itu berteman sangat dekat.

“Apa mungkin, dia juga bekerja sama dengan Alec untuk membuat manusia super? Menurutku tidak mungkin Alec mampu memikirkan hal itu sendirian, pasti ada seseorang yang membantunya dan memberikan sebuah ide,”

“Hal itu sudah dibicarakan ketika pertemuan sebelumnya, tapi kalian berdua hilang ditengah perdebatan,” timpal Elisiya.

“Maaf, saat itu dadaku terasa sangat sakit. Aku terpaksa pergi agar tidak merepotkan semua orang yang berada di ruangan itu.”

“Ya, aku sudah mendengarnya dari Kael. Seseorang sudah memberitahumu tentang tempat itu ketika kau tidak sadarkan diri. David memintanya untuk selalu mengawasi kita semua saat sedang terpisah, itulah kenapa dia tahu dimana kalian berada,” wajah Elisiya sudah terlihat normal kembali, atau dia hanya mencoba untuk menyembunyikan perasaannya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan dengan perempuan itu? sepertinya dia akan menjadi incaran dua pihak,” Jayden bertanya padaku dan Elisiya. Aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya.

“Kita harus menyembunyikan anak ini dari mereka, maksudku dari Ruthven. Dia memimpin beberapa orang Elitish untuk memberontak menggulingkan vampire agung. Aku yakin dia akan memanfaatkan anak polos ini untuk kepentingan pribadinya, jangan biarkan dia jatuh ke tangannya.”

Aku mengepalkan sebelah tanganku begitu mendengar nama Ruthven, kebencianku padanya semakin besar karena dia menginginkan kematian Dad.

“Lalu The Hunters? Mereka sudah melihatnya dan mungkin akan menahan anak itu ketika dia pulih nanti. Dia sumber infomasi, mungkin mereka akan membiarkannya hidup walaupun untuk sementara waktu sampai dia sudah tidak dibutuhkan lagi.”

“Tapi menurutku mereka akan membiarkannya hidup, tapi dalam pengawasan. Dia juga memiliki darah manusia dalam tubuhnya, mereka tidak mungkin membunuhnya…”

“Kimberly benar Jayden, anak itu seorang hybrid. Dia berada di tengah-tengah manusia dan vampire, kita harus menunggu David untuk mengambil langkah selanjutnya.”

“Dad juga akan datang kemari untuk membahas hal ini dengan kita semua, sepertinya besok dia akan datang.”

“Bagus, anak itu bisa jadi penghubung antara The Hunters dan juga vampire. Aku yakin akan ada hal yang baik berkat orang itu. Sekarang aku harus mengecek keadaan anak itu, dia menolak untuk meminum darah sehingga penyembuhannya sangat lambat.” Elisiya pergi lagi untuk mengecek kondisi Noa.

“Ada sesuatu yang aku lupakan, ini. Aku bertemu dengan kakakmu Jyordan dan dia memberikanku sebuah surat, katanya dari ayahmu dan kau harus membacanya seorang diri.” Aku menyodorkan sebuah surat yang sedikit terlipat pada Jayden.

“Apa dia tidak melakukan hal aneh padamu?” tanyanya sambil membuka surat itu dan membacanya di sampingku.

“Dia hanya mengatakan hal-hal konyol saja, tidak ada yang penting.” Aku melihat Jayden seperti salah tingkah ketika membaca surat itu.

“Kenapa? Apa yang dituliskan di surat itu?” Aku menyenderkan tubuhku lebih dekat padanya agar bisa ikut membaca surat itu.

“Maaf Kim, surat ini khusus untukku, kau tidak boleh ikut membacanya.” Jayden menjauhkan tubuhku darinya kemudian dia pergi ke suatu tempat dengan cepat. Ini sangat aneh, apa isi surat tersebut sampai membuatnya salah tingkah seperti itu.

“Jayden tunggu!”

“Jangan ikuti aku Kim!” Jayden berlari entah pergi kemana dengan membawa surat itu.

quotes
Author's note
notes
jangan lupa love dan komen pleasee...
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd