BAB 60

1815 Words

“Kita tidak bisa memindahkan mereka dari tempat ini, itu hal yang sangat buruk. Kalaupun kita semua chimera ini, dimana tempat yang bisa menampung chimera sebanyak ini? Penjara bawah tanah yang kami punya pun tidak akan bisa menampung setengah dari mereka. Lebih baik mereka tetap berada di sini, tempat ini juga jauh dari manusia sehingga tidak akan menimbulkan masalah.”

Dean menolak dengan keras ide untuk memindahkan chimera ini dengan alasan keamanan. Kami ingin memindahkan semua chimera ini ke ruby mansion yang ada di hutan barat karena tempat itu seperti rumah kuno yang sangat luas. Mata manusia yang melihat tempat itu akan terlihat seperti rumah kosong menyeramkan dan berhantu sehingga tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati tempat itu.

“Mereka dipindahkan atau tidak dipindahkan itu bukan masalah, yang jadi masalah adalah siapa yang akan menjaga mereka disini, menjaga tempat ini agar mereka tidak bergerak kemana-mana. Itu hal yang paling penting menurutku,” sahut Kael. Dia masih mengamati chimera-chimera yang tertahan di ruang bawah tanah.

“Bagaimana dengan tiga orang the hunters dan satu orang vampire yang bergantian menjaga tempat ini? kurasa itu jumlah yang cukup,” David menunggu persetujuan dari Dean.

“Bagaimana jika dua orang vampire dan dua orang anggotaku? Jadi kita bisa membentuk tim dua orang dengan satu vampire satu the hunters. Tim pertama akan menjaga di dalam mengamati perilaku dari chimera-chimera itu dan tim kedua berada di luar untuk berpatroli. Kita harus berjaga-jaga siapa tahu chimera yang berkeliaran di luar sana datang dan membebaskan semua chimera yang ada di sini?” Dean sudah memperhitungkan rencananya dengan matang, menurutnya.

“Kau bilang begitu pun, kami tetap tidak bisa berada di sini terus menerus. Aku harus mengurus bolak-balik menemui vampire agung untuk menyampaikan situasi, ada perbedaan waktu antara dimensi manusia dan dimensi yang kami tempati. Elisiya tidak bisa bergabung karena dia harus membuat obat untuk melemahkan chimera itu,” jawab David.

“Masih ada tiga orang lagi bukan? Kau, Kimberly dan Jayden…” Dean menunjuk Kael.

“Aku bisa saja, tapi kau tidak bisa memaksaku untuk tetap berada di sini, karena ada aktifitas lain yang harus aku selesaikan.”

“Ah benar juga, aku belum mengatur jadwal kalian. Aku akan meminta Joe untuk mengatur jadwal istirahat kalian secepatnya dan menghentikan semua aktifitas kalian untuk sementara.” David langsung menghubungi Joe.

“Menjadi seorang selebriti pasti menyenangkan bukan? bertemu banyak orang, menggigit dan menghisap darah mereka tanpa dicurigai,” seloroh Dean pada Kael.

“Itu adalah kelebihannya, kami tidak perlu berburu mereka akan datang dengan sendirinya dan kami memilih yang mana yang lebih menggugah selera.”

“Apa semua vampire menjadi selebriti? Jika iya, akan mudah untuk kami mengawasi kalian,”

“Tidak juga. Ada membuat klub malam agar lebih menarik manusia lebih banyak, dan… kau juga tahu apa yang selalu terjadi di klub.”

“Apa ada sesuatu yang aku lewatkan selama aku tidak ada di sini?” Saat aku datang, aku melihat Dean dan Kael sedang mengobrol berdua. “Dimana David?”

“Hai Kim?! bagaimana kondisimu sekarang, sudah lebih baik? Maaf kami terpaksa menembakmu karena kau terlihat tidak terkendali. Saat itu kau terlihat…sedikit kacau dan berantakan,” sahutnya dengan cengiran lebar.

“Tentu saja aku terlihat kacau dan berantakan karena aku sedang bertarung. Tubuhku masih terasa sangat sakit, jika aku bertarung dengan seseorang kali ini mungkin aku akan kalah,”

“Tapi seharusnya kau masih terbaring kesakitan sekarang ini, kenapa kau masih bisa bergerak dengan bebas? Apa yang kau lakukan, apa kau meminum sesuatu seperti obat atau semacamnya?” Dean menelisik wajahku, mencari tahu apakah ada sesuatu yang aku sembunyikan darinya.

“Apa maksudmu? kau lupa aku memiliki kemampuan regenerasi? Aku mempercepat penyembuhan dengan meminum darah secara berkala, persis seperti meminum obat. Bagaimana dengan chimera-chimera ini, apa yang akan kalian lakukan?” tanyaku. Jayden sedang mengobrol dengan Kael, David sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

“David berencana untuk memindahkan chimera-chimera ini ke ruby mansion, tapi aku menolaknya. Aku pikir ini sangat tidak aman memindahkan mereka satu persatu dari tempat ini. Mereka memang sangat sensitif dan tertarik pada cahaya, tapi ketika gelap indera pendengaran mereka menjadi lebih tajam dan sikapnya berubah menjadi agresif ketika mendengar suara.”

“Benarkah? Aku jadi ingin mencobanya, kau punya sesuatu yang bisa menyala?” Dean menyerahkan senternya padaku.

“Lihatlah bagaimana mereka bereaksi Kim,”

 Aku menyalakan senter itu lalu menyorot ke arah mereka dengan sembarangan. Mereka bereaksi dengan menggeram dan mengikuti kemana cahaya dari senter ini menyorot. Mereka berhenti bergerak setelah kumatikan senternya, tapi kemudian mereka bereaksi kembali begitu kunyalakan senter ke arah lain. Aku juga membuat suara melangkah yang keras dan memukul-mukul pintu besi yang menjadi penghalang antara aku dan mereka dengan jariku.

Mereka semua berlari kearahku dengan bersamaan sehingga aku tersentak kaget dan menempel di tembok belakangku. Aku lupa jika dibelakangku juga ada chimera yang terkurung, mereka semua menarik tangan, kaki, mencekik leher dan memegang kepalaku.

“Kim!” Jayden dan Dean berteriak memanggilku, mereka langsung memisahkan tubuhku dari tangan-tangan chimera yang berusaha menarik dan melukai tubuhku.

“Apa yang kau lakukan?! Tubuhmu belum pulih sepenuhnya!” ucap Jayden sambil mematahkan beberapa tangan chimera. Ruangan bawah tanah ini menjadi sangat berisik karena semua chimera itu meraung.

“Tidak apa-apa Jayden, pagar besi ini menghalangi mereka. Biarkan aku mencobanya sekali lagi,” aku melepaskan diri dari pelukan Jayden.

“Kau yakin? Mereka semua menarik dan mencengkram bagian tubuhmu dengan sangat kuat,” suara Jayden terdengar khawatir.

“Tidak apa-apa, sekarang kalian semua diam dan jangan bersuara sedikit pun.” Aku mematikan senter, kemudian membuat suara seperti seseorang yang sedang berjalan. Mereka semua memiliki reaksi yang sama, mereka menengok kearah sumber suara dan mendekatinya. Tangan mereka terulur dari balik jeruji besi, berusaha menggapai-gapai apa yang ada di depan mereka.

“Mereka juga sensitif pada suara? Bagaimana jika aku menjatuhkan suatu benda kecil, apa mereka bisa mendengarnya juga,” Jayden merogoh sakunya untuk mencari sesuatu yang bisa dia jatuhkan. Suara seperti logam jatuh terdengar, Kael melempar koin itu kedalam ruangan yang berisi chimera.

“Mereka sangat mirip dengan kita, indera pendengaran mereka sangat tajam. Apa mereka juga bisa mencium sesuatu dengan hidung mereka?” kami semua terpana melihat chimera-chimera itu berjalan tak tentu arah mencari suara yang berasal dari koin yang dilempar Kael barusan.

“Sepertinya indera penciuman mereka sangat kurang, aku sudah berdiri sedekat ini tapi tidak ada satupun dari mereka yang mendekat,” Kael dan Dean berdiri tak jauh dari jangkauan chimera itu, Kael bahkan bersandar di jeruji besi itu.

“Mereka juga sepertinya buta jika tidak ada cahaya, tapi indera pendengaran mereka menjadi lebih tajam. Lihat, mereka masih mencari-cari suara koin yang dilemparkan barusan,” tumjukku pada chimera yang terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu.

“Itu karena indera mereka saling menutupi kelemahan masing-masing. Tidak ada cahaya, pendengaran mereka menjadi sangat tajam. Cahaya atau sinar adalah mata mereka, baik terang ataupun redup mereka bisa melihat sekitarnya dengan cukup baik.” Timpal David setelah dia menyelesaikan panggilan teleponnya.

“Bagaimana dengan penciuman mereka?” tanya Jayden.

“Aku tidak tahu, mungkin indera penciuman mereka tidak setajam kami,” Tiba-tiba saja tercium bau darah segar setelah David membahas masalah indera penciuman chimera.

“Haruskah kau bertindak seekstrim itu Kimberly?” Suara dingin Jayden membuat bulu tengkukku berdiri. “Darimana kau mendapatkan pecahan beling itu?” dia merampasnya dari tanganku, lalu menginjak pecahan beling itu sampai hancur seperti pasir.

Diluar dugaan, smua chimera yang ada di tempat ini menggeram, mereka menjadi lebih agresif dari sebelumnya. Diantara chimera-chimera itu ada yang saling serang satu sama lain.

“Kenapa mereka jadi seperti itu?” kami semua panik karena perubahan sikap chimera yang tiba-tiba menyerang satu sama lain dan kami berada di posisi siaga jika ada chimera yang berhasil merusak jeruji besi yang menjadi penghalang antara kita.

“Sial, mereka benar-benar tidak stabil,” gerutu Dean, dia sudah bersiap dengan senjatanya.

Aku terkejut ketika David menarik tanganku yang terluka dan mengarahkan lebih dekat pada chimera itu. dia mengarahkan ke kiri dan kanan, berusaha menarik chimera itu dengan bau darahku.

“David!” Aku merasa takut ketika ada dua chimera yang mendekati tanganku dan mengendus-endus pergelangan tanganku yang berdarah. Seketika aku menarik tanganku dengan cepat begitu sesuatu yang kasar menyentuh lukaku.

“Mereka menjilat lukaku!” aku menggenggam erat pergelangan tanganku yang sengaja aku iris untuk memancing reaksi chimera pada darah.

“Benarkah?” Kael tampak tidak percaya dan mendekatiku.

“Aku merasa sesuatu yang kasar menyapu kulitku tepat di area yang terluka, mungkinkah itu lidah mereka?”

“Lidah mereka terasa kasar?” tanya Jayden dan Dean bersamaan.

“Yang aku rasakan seperti itu, yang memegangi tanganku hanya David, mereka datang mendekati tanganku dan mengendusi lukaku yang berdarah, entah siapa dari mereka yang menjilat pergelangan tanganku. Lidahnya terasa sedikit kasar,” paparku.

“Berarti mereka lebih menyerupai kita, indera yang tajam dan bisa meminum darah. Ada kesempatan untuk kalian melawan mereka, Dean…” Jayden menepuk bahu Dean pelan.

“Kuharap aku memang memiliki kesempatan mengalahkan mereka,” sahut Dean.

“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Jayden, mereka sudah terkurung disini dengan waktu yang cukup lama. Mereka bisa bertahan hidup tanpa makanan, atau seseorang mungkin memberi mereka makanan selain darah, jika kita melihat banyaknya tengkorak disini…”

“Maksudmu mereka bisa saja memakan daging? Ataukah kanibalisme?” Dean sedikit menekankan kata kanibalisme pada pertanyaan terakhirnya. Dia tidak ingin mempercayainya andai hal itu adalah sebuah kebenaran.

“Mungkin saja, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di tempat ini. Kunci satu-satunya adalah perempuan yang menjadi lawan Kim kemarin, pasti dia tahu apa yang terjadi di tempat ini.”

“Noa? Hybrid itu tidak tahu apapun, aku dan Elisiya sudah menanyainya. Dia tidak pernah datang ke tempat ini sama sekali karena dia selalu di kurung di rumah lain dengan dua chimera yang selalu menemani dan menjaganya. Tapi itu katanya, aku tidak tahu apa yang dia katakan itu kebenaran atau hanya karangan dia saja.” Aku langsung merasa kesal begitu menyinggung Noa. Entah kenapa setiap kali namanya disebut aku selalu merasa emosi.

“Hybrid? Berarti dia setengah manusia setengah vampire?” Aku menjawab pertanyaan Dean dengan anggukan singkat.

“Selain itu aku mengambil kristal darah dan sebuah foto dari salah satu rumah yang hybrid itu tempati, fotonya sudah aku serahkan pada Noa. Foto Cladius bersama seorang ilmuwan wanita, Eli bilang wanita itu adalah temannya ketika mereka masih bekerja di salah satu rumah sakit.”

David dan Dean saling bertatapan, mereka seperti sudah bisa menebak siapa wanita yang aku maksudkan itu.

“Sepertinya kita satu permikiran Dean, wanita yang menghilang itu…”

“Ya, aku menduga itu adalah dia. Kita harus bertemu dengan anak itu sekarang David.”

“Kalian mengenal wanita itu? tapi aku belum bercerita banyak hal,” dahiku mengkerut melihat sikap mereka yang seolah sudah tahu apa yang terjadi.

“Itulah gunanya mengikuti sebuah pertemuan Kim, ayo kita keluar dulu dari tempat ini. Biar orang-orangku yang berada di sini menjaga mereka.”

***

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd