"Miss Kaznov."
Percakapanku dan Camilla tiba-tiba terhenti, karena di interupsi oleh suara seorang laki-laki berperawakan menyeramkan, bertubuh kokoh tinggi besar dan bersetelan rapi serba hitam tiba-tiba memanggil namaku. Sebuah bekas luka dalam dari pangkal telinganya hingga rahang, membuat ia makin terlihat sangar.
"Ya," jawabku bergidik ngeri sambil menoleh bertanya pada Camilla McKenna, berharap mendapatkan jawaban, tapi hanya dibalasnya dengan mengangkat bahu tanda ia sama bingungnya denganku.
"Bisa bicara sebentar?" lanjut laki-laki yang barusan keluar dari Audi Q7 SUV buatan khusus berwarna gelap, terparkir mewah di pinggir jalan tak jauh dari tempat kami berada.
Mobil semahal itu setahuku hanya mampu dimiliki kakekku dari keluarga sebesar Hime dan orang-orang sekaya dirinya.
Aku menoleh pada Camilla meminta pendapat yang dibalas dengan anggukan.
"Tentu," kataku setuju pada lelaki itu. Aku menelan ludah, perasaanku menjadi awas dan tak karuan ketakutan. Mungkin saja dia salah satu penagih hutang ayahku.
Laki-laki itu menggiringku menuju mobil dan membukakan pintu bagian belakang untukku.
"Sampai jumpa besok, Camy," kataku panik sebelum naik.
Camilla melambaikan tangan padaku, dan aku takut bahwa itu adalah lambaian terakhirnya, dan aku tak bakal bertemu dengannya lagi.
Aku belum siap diperkosa, atau mungkin saja setelah itu organ-organku bakal di jual. Aku menggeleng lemah sambil menarik nafas dalam-dalam.
Mana ada pula manusia yang bersiap-siap diperkosa, tapi otakku sudah gila.
Kukira di dalam mobil itu bakal ada banyak manusia menyeramkan seperti tadi, yang telah duduk tenang di balik kemudi, dan mulai menjalankan mobil dengan mulus.
Tapi aku langsung terkejut sendiri, bukan karena ada seorang laki-laki dengan kalung emas yang memenuhi leher dan perhiasan di seluruh jari tangan, serta pergelangan tangan, atau bergigi emas dengan perawakan menyeramkan, dan buncit penuh tato yang akan aku lihat ketika masuk mobil itu.
Seseorang yang duduk di bangku bagian tengah adalah sesosok lain yang benar-benar bertolak belakang dengan imajinasiku yang paranoid.
Bos mafia yang kukira berperawakan om-om sangar buncit bertato malah seorang wanita berusia akhir empat puluh atau awal lima puluh tahun, berpakaian elegan, dan malah tersenyum sopan padaku. Terlihat begitu muda dan terawat. Kulitnya mulus dan bersih luar biasa.
Apakah mafia jaman sekarang menang jauh dari kata menyeramkan? Apakah itu semacam trik mengelabui orang-orang sekitar?
Tersenyum balik tentu saja kulakukan, walau kaku, sebab aku tidak mau terlihat begitu ketakutan, karena kurasakan tanganku sudah basah oleh peluh dingin, dan aku sudah gemetaran dari ujung kaki.
Takut-takut bahwa wanita yang tampak begitu baik duduk dengan anggun di sampingku bisa saja sewaktu-waktu mengorok leherku, atau menerkam belati di perutku, lalu tertawa seperti psikopat saat ia mencabut pisau, dan menonton punuh kesenangan pada darah yang menyembul keluar dari tubuhku.
Aku hampir memekik ketika wanita itu malah mengulurkan tangan ke arahku. Kukira dia benar-benar bakal menerkamku dengan senjata tersembunyi berwujud lipstik seperti di film-film.
"Sharon Sykes," katanya memperkenalkan diri amat sopan.
Ragu-ragu aku menerima uluran tangan itu dan menjabatnya. "Kaella Kaznov," balalasku. Saat tangan kami terlepas aku langsung menghembuskan nafas lega sebab di sana tidak ada bius atau apapun yang membahayakan.
Karena aku terlalu ketakutan bakal diperkosa di depan keluargaku, aku bahkan tidak sadar bahwa selain wanita mafia elegan dan sopir menyeramkan, ada satu lagi manusia di dalam mobil itu.
Di bagian depan di samping supir menyeramkan, duduk seorang wanita muda yang lebih cantik menyodorkan lembaran kertas yang ia keluarkan dari map kepada wanita paruh baya, Sharon Sykes, yang masih terlihat cantik dan muda di sampingku.
"Sekretaris sekaligus pengacaraku, Emily Johnson," kata Sharon memperkenalkan si wanita muda. "Menurutnya pembicaraan kita hari ini lebih baik melibatkan kontrak kerahasiaan."
Kontrak kerahasiaan?
Sekarang apa lagi?
Aku tidak bakal jadi p*****r seumur hidup, kan?
Apakah kontrak pengambilan organ dalamku?
Dan akhirnya aku hanya mengangguk pasrah.
Memangnya aku bisa apa? Berteriak pun, siapa yang bakal mendengar. Jika seandainya ada yang dengar, siapa yang bakal menolong? Polisi saja angkat tangan masalah lintah darat. Lari pun, mereka pasti bakal menemukanku persembunyianku.
Jadi aku hanya membubuhkan tanda tangan di kontrak sebanyak tiga lembar itu. Tak perlu dibaca, sebab isinya seputar kerahasiaan percakapan, dulu aku juga pernah membacanya.
"Baiklah Miss Kaznov, aku tidak ingin berbasa-basi, kita langsung saja ke intinya. Jadi aku ingin menawarkan pekerjaan padamu," kata Sharon setelah dia yakin aku telah menandatanganinya.
Aku juga tidak ingin berbasa-basi, kataku dalam hati, dan mengalihkan pandangan dari jalanan 1-8, memastikan tidak salah dengar.
Pekerjaan? Jadi bukan mafia?
Menyesali pikiranku sendiri tentu sudah terlambat, tapi mana mungkin nyonya yang begitu elegan ini merupakan lintah darat.
Wanita itu, Sharon Sykes, menatapku, menilai-nilai sangat lama dengan mata bangsawannya penuh arti, ia mengangguk sejenak sebelum mencondongkan badan sedikit kearahku dan melanjutkan penjelasannya yang terhenti sejenak tadi. "Aku bisa memberimu 220.000 jika kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna, 50.000 dimuka jika kau setuju, baik kau menyelesaikan pekerjaan itu atau tidak. Pikirkan baik-baik Miss Kaznov," tawarnya tenang dan menjanjikan.
Saat itu kupikir tawarannya adalah secercah harapan, air penyembuh dahaga, 50.000 dengan hanya persetujuan, aku bisa membayar sewa rumah dan uang sekolah dua orang adikku.
Dan untuk hal lainnya, aku bisa membayar setelah menyelesaikan pekerjaan itu. Mataku mungkin langsung berbinar, tapi aku merasa ada keganjilan dalam penawaran yang sangat spektakuler itu.
"Aku merasa terhormat ditawari imbalan sebanyak itu. Tapi menurutku, secara pribadi, dengan keahlian dan latar belakang pendidikan saat ini, aku tak pantas mendapatkan upah sebanyak itu," kataku, mencoba membuat suaraku setenang mungkin. Sayang sekali, aku tetap saja gagal.
"Jangan terlalu merendahkan diri, Miss Kaznov. Tak perlu keahlian khusus atau syarat tingkat pendidikan untuk pekerjaan yang ditawarkan padamu," ucapnya.
Keningku langsung berkerut samar. "Maksud Anda apa? Pekerjaan apa?" tanyaku beruntun.
Pekerjaan tanpa standar pendidikan? Yang benar saja, OB saja punya syarat pendidikan minimal.
"Apakah anda tahu, atau pernah mendengar pemuda bernama Jay Sykes?" tanyanya.
Siapa lagi yang ia tanyakan? Dosen tempatku belajar? Atau penjual makanan di kantin kampus?
"Tidak," jawabku jujur. "Tidak satupun temanku bernama itu, kalau aku tidak salah ingat."
"Baiklah. Mungkin dia tidak terlalu dikenal sekarang, tapi kuharap dia bakal dikenal banyak orang dimasa depan." gumam wanita itu, matanya sedikit redup, dan mendesah samar.
Jadi kemana arah percakapan ini.
"Dia putra tertua kami, Keluarga Sykes. Jadi saya ingin anda membuktikan apakah dia seorang penyuka sesama atau tidak," lanjutnya.
"Maksud Anda?" tanyaku kedua kalinya.
"Ya, saya ingin anda m*menggodanya dan keberhasilan misi anda adalah berakhir di ranjangnya."
"Apa?" Aku bertanya dengan mata terbuka lebar.
Kecamuk itu menghantuiku lagi, wanita ini datang menemuiku, menawar diriku untuk dibeli.
Aku tidak tahu dimana Ia mengenalku, sebab aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Aku juga belum sempat mendaftar apalagi mempromosikan diri ke situs prostitusi. Apakah ayahku?
Tidak.
Tidak mungkin.
Ayah bukan orang b***t.
"Kurasa Anda terlalu tua untuk tidak paham tentang itu," cetusnya lagi dengan ringan, lebih kepada ejekan samar.
"Mengapa saya?" tanyaku lagi.
"Sadar atau tidak, tanpa melalukan apapun, anda bisa saja membangunkan sesuatu pada seorang pria normal."