Diancam

1197 Words
Setiap kali Xavier berkunjung ke rumahnya, sebisa mungkin Liona menghindari pria itu. Dia tidak ingin bertemu lagi untuk ke sekian kalinya setelah Xavier mengatakan jika pria itu akan memaksanya untuk melakukan aborsi jika Liona sampai hamil. Tentu saja dia berdoa agar hal mengerikan itu tidak akan terjadi. Ya, Liona berharap agar kejadian yang pernah dia alami dengan Xavier tidak sampai membuatnya hamil. Dua minggu setelah kejadian itu keadaan langsung berubah pada Liona. Liona tidak ingin lagi mengobrol dengan Xavier. Melihat keromantisan Sophie yang semakin baik membuatnya harus tetap berusaha menghindari kontak mata dengan calon suami dari tantenya. Liona turun menuruni anak tangga sambil memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya. “Mau ke mana, Liona?” Liona langsung melirik ke arahnya Sophie yang duduk bersama dengan Xavier. “Aku ada janji temu dengan temanku.” Wanita itu mengiyakannya. “Pulangnya jangan lama-lama, ya!” Sebagai seorang wanita yang berusia 23 tahun, mendapatkan perhatian luar biasa dari Sophie adalah suatu kebahagiaan baginya. Sophie juga pernah dianggap sangat bahagia mendapatkan kekasih sebaik Xavier. Lihat saja bagaimana bahagianya wanita itu ketika berada di sisinya Xavier. Kejadian itu jangan sampai membuat harapan besar yang selama ini dibangun oleh tantenya hancur begitu saja oleh kesalahan yang dilakukannya dengan pria itu. Tiba di apartemen miliknya Victoria, ternyata sahabatnya itu sudah menunggunya di lobi. “Lama sekali.” “Macet.” “Alasan.” Matanya Victoria melirik ke totebag yang dibawa oleh Liona. “Bawa apa?” Liona mengangkat totebag itu dan memberikannya pada Victoria. “Tentu saja untuk anakmu.” Temannya langsung tertawa mendengar jawaban dari Liona sambil memberikan barang bawaannya. Liona diajak ke tempat Victoria. Dulunya kamar ini memang pernah menjadi tempat bersejarah baginya dan Victoria ketika zaman kuliah dulu. Apartemen ini adalah milik dari suaminya wanita di sebelahnya ini. “Anakmu di mana?” “Masih tidur. Jangan tertawa terlalu keras, ya! Aku menidurkannya susah payah.” Liona mengambil minuman yang dihidangkan oleh Victoria dengan rasa gugup. “Bagaimana rasanya hamil?” “Ada kebanggaan tersendiri, Liona. Apalagi setelah menikah aku dan suamiku tidak ingin menunda anak. Dia juga ikut andil mengurusnya. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” “Aku hanya bertanya, siapa tahu nanti aku bertemu dengan suami yang karakternya sama dengan suamimu.” “Apakah ada tanda-tanda sahabatku ini akan menikah?” Liona mengangkat kedua bahunya seolah merasa bahwa sedang baik-baik saja. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya ada ketakutan tersendiri tentang waktu itu. “Aku boleh cerita nggak sama kamu?” Dia tidak menjawab pertanyaan tentang akan mendapatkan calon suami Victoria yang tadinya sedang makan, lalu melirik ke arahnya Liona. “Boleh kok.” Sahabatnya pasti tahu kalau ia sudah menginjakkan kaki di tempat ini pasti ada yang ingin diceritakan oleh Liona. “Apa menurutmu berhubungan satu kali bisa hamil?” “Liona .…” Pelan wanita itu memanggilnya dan seolah paham apa yang sudah terjadi dengannya. “Aku melakukan itu.” “Apa dia bersedia bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu?” Liona menggelengkan kepalanya. Xavier pernah mengatakan kalau dia tidak akan mau untuk tanggung jawab terhadap apa yang sudah terjadi. Membuat kepalanya Liona menjadi sakit kalau mengingatnya. “Dia mengatakan akan aborsi kalau itu terjadi.” “Kenapa dia begitu jahat?” “Aku juga melakukannya karena dipaksa.” Perasaan Victoria sudah pasti berantakan sekarang setelah Liona mengakuinya. “Bilang sama aku, Liona! Siapa pria itu?” “Xavier.” Matanya Victoria langsung melotot tajam setelah mendengar nama tersebut. Tentu saja dia tahu bahwa Xavier adalah kekasihnya Sophie. “Kenapa dia sangat gila melakukan itu dan mau kabur dari masalah ini?” “Malam itu dia bertengkar dengan tanteku. Aku pikir semua akan baik-baik saja. Semuanya dikembalikan ke Om Xavier. Aku memang ke sana untuk bawa barang itu. Tapi, dia memintaku duduk, memaksaku untuk minum alkohol yang dia berikan secara paksa.” “Liona .…” “Aku tahu aku salah. Aku juga tidak mau hal itu terjadi.” Victoria menggelengkan kepalanya. Tidak juga menyalahkan Liona atas apa yang terjadi. Ini bukan keinginannya, tidak ada yang mau membuat masalah besar seperti ini juga. Termasuk mengacaukan rencana pernikahan antara Sophie dan juga Xavier. Semua ini murni atas kesalahan yang telah ditimbulkan oleh pria itu. Liona juga menyesali perbuatannya telah datang ke kediamannya Xavier. Air matanya jatuh begitu menceritakan masalah besar yang sekarang sedang dihadapinya. Ia ceritakan bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di kamar dalam keadaan tanpa busana. “Aku takut kalau aku hamil suatu saat nanti. Keluargaku akan hancur lagi. Hidup dengan mereka adalah kebahagiaan yang besar untukku.” “Aku tahu, tapi semuanya harus kamu ungkap di depan keluarga kamu.” “Nggak bisa, karena mereka akan menikah.” “Mereka menikah. Lalu kalau kamu hamil. Bagaimana status bayi itu?” Itu yang dipikirkan oleh Liona. Sepertinya ia ingin minggat dari rumah yang dari dulu ditempatinya. “Aku dari kecil sudah dirawat oleh mereka. Tante aku selalu cerita bagaimana baiknya orangtuaku. Mana mungkin aku mengecewakan mereka.” Victoria tidak ikut campur lebih jauh lagi. Menjadi pendengar yang baik untuk setiap cerita yang dilontarkan oleh Liona. Sampai sore ia berada di sana. Akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang ke rumahnya, Liona mampir ke salah satu kafe tempat ia sering menghabiskan waktu sendirian. Liona di sana memainkan ponselnya. “Kenapa menghindariku?” Liona mengangkat kepalanya dan meletakkan minumannya. Begitu dilihatnya ada Xavier yang datang. Matanya langsung melotot. “Om kenapa di sini?” “Aku mencarimu, Liona.” “Kenapa bisa menemukanku?” “Bukan hal yang sulit menemukanmu. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak cerita apa pun pada Sophie.” Xavier yang tadinya berdiri di depannya Liona kini langsung duduk di hadapan wanita itu. “Aku tidak mengatakan apa pun.” “Tapi, kamu menghindariku. Pastikan kamu selalu ada di depanku setiap kali aku bertemu dengan Sophie agar aku percaya kalau kamu tidak melapor apa pun padanya.” Liona tidak memedulikan ucapan Xavier, dia terus memainkan ponselnya tanpa mau bicara dengan pria di depannya sekarang ini. Xavier terus berceloteh dan selalu menjaga perasaan Sophie. Sementara hatinya Liona di sini dianggap tidak berharga. “Aku akan kembali sebentar lagi.” “Kamu tidak mendengarkanku, Liona.” “Aku dengar. Aku punya telinga untuk itu.” “Ingat baik-baik ucapanku, Liona! Jangan pernah mengacaukan rencana pernikahanku dengan Sophie. Aku mencintainya.” “Ya.” Dia keluar dari tempat itu. Sampai di tempat parkiran Xavier mengikutinya. Liona berbalik dan menatap pria yang semakin ikut campur ke dalam hidupnya ini. “Apa yang sebenarnya Om inginkan?” “Hanya memastikan kamu tidak menghancurkan impianku.” Liona tidak tuli, ia sudah mendengar permohonan itu berkali-kali. Begitu dia hendak membuka pintu mobilnya. Xavier langsung mendorong pintu mobil yang dibuka Liona hingga langsung tertutup, Liona batal masuk karena ulah Xavier. “Apalagi sih?” Xavier merebut kunci mobil darinya. Pria itu langsung menyeret Liona untuk masuk. “Aku antar pulang.” Dia tidak berkomentar setelah dipaksa seperti itu oleh Xavier. Tahu kalau pria itu cukup keras kepala jika dilawan. “Kenapa sampai sejauh ini?” "Jangan besar kepala! Aku hanya ingin dianggap baik saja karena kamu keponakan Sophie. Pokoknya kamu harus ingat apa yang aku katakan, kalau sampai kamu hamil, kita akan aborsi. Lagi pula malam itu, aku melakukannya karena mabuk dan bukan karena aku menginginkanmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD