Bab 12-Love is in The Air Part 1

1245 Words
Davina membuka mata dan tiba-tiba merasa sesak. Pantas saja ia merasa tidak nyaman, entah sejak kapan ia tidur sambil menempel ke d**a Devon. Pria itu berbaring menyamping menghadapanya, sementara Davina berbaring menyamping ke arah Devon. Selain itu, sebelah lengan Devon juga ada di pinggangnya. Benar-benar terasa berat. Perlahan, Davina menjauhkan tangan Devon dari tubuhnya. Kenapa sih tiba-tiba posisi tidur mereka jadi begini? Ia jadi bertanya-tanya sendiri sambil menatap mata terpejam suaminya, lalu tiba-tiba kembali teringat kejadian semalam. Davina tidak tahu bagaimana caranya Devon menahan diri semalam. Tak bisa dibayangkan kalau semalam mereka berhasil hanya make out, tidak sampai melewati batas yang Davina khawatirkan. Saat itu bahkan d**a Davina sudah tidak tertutupi apa pun lagi, namun Devon benar-benar pandai menguasai diri. Bukannya melanjutkan untuk menanggalkan pakaian mereka, Devon justru menyingkir dari atas tubuh Davina lalu melangkah ke kamar mandi. Ia menyelesaikannya sendiri di sana, tidak memaksa Davina melakukannya. Poor Devon... Andai saja ia meminta semalam, mungkin Davina bisa membantunya mendapat kepuasan. Meski tanpa penetrasi, ia yakin mulutnya bisa memberikan Devon kepuasan. Tunggu! Apa sih yang barusan ia pikirkan? Sontak saja Davina segera melepaskan diri dan bergerak mundur untuk menjauh. Ia mendadak malu sendiri dengan pikirannya. Namun, ketika ia baru saja hendak berbalik dan menjauh, tiba-tiba tubuhnya kembali diraih oleh Devon. “Mau kemana?” bisik pria itu di belakang telinganya. “K-kamu sudah bangun? Tumben....” ujar Davina sambil berusaha kembali melepaskan diri. Mendadak dadanya berdebar, seakan ia baru saja tertangkap basah memikirkan hal m***m tersebut. Padahal Devon tentu saja tidak bisa membaca pikirannya. Kecuali kalau pria itu adalah Edward Cullen. “Aku nggak mau bangun kesiangan lagi. Setiap kali terbangun, aku selalu sendirian di ranjang ini.” Devon mengecup belakang telinga Davina. “Dev, aku mau lihat matahari terbit,” ujar Davina. Tangannya masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Devon. “Aku juga mau lihat,” bisik Devon. “Kalau gitu ayo bangun.” Devon mengeluh, namun pria itu akhirnya melepaskan Davina. Sambil mengembuskan napas lega, Davina segera bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berkumur dengan mout wash. Devon menyusulnya tak lama kemudian. Pria itu melakukan hal yang sama. Tapi ketika Davina menatap ke cerimin di depan wastafel, ia nyaris saja berteriak. Leher dan dadanya penuh tanda merah keunguan. Bekas yang ditinggalkan oleh Devon semalam. “Astaga... Devon!” Davina seketika memutar tubuh menghadap suaminya. “Bagaimana caranya aku keluar jika seperti ini?” tanyanya sambil menunjuk leher dan dadanya. “Apa?” tanya Devon seraya menoleh. Pria itu menaikkan alis, lalu meraih handuk bersih untuk mengelap wajah. “Dev, jangan bersikap tak acuh seperti itu!” Devon meletakkan kembali handuk ke meja wastafel. “Terus aku harus bagaimana?” “Kamu nggak lihat ini? Ini kerjaan kamu semalam,” sungut Davina. Dahi Devon berkerut. “Ya, itu sebuah mahakarya.” “Apa?” Davina benar-benar tak habis pikir. Dia sebut ini mahakarya? Tidak tahan dengan reaksi menyebalkan Devon, Davina pun melayangkan tangan untuk memukul lengan pria itu. “Jadi gimana caranya aku bisa keluar dengan penampilan seperti ini?” “Tutupi dengan syal,” ujar Devon santai sambil menahan tangan Davina untuk berhenti memukulinya. Davina menipiskan bibir dengan geram. “Aku nggak mungkin snorkeling menggunakan syal.” Hari ini mereka berencana untuk snorkeling dan Davina sudah memikirkan bikini apa yang akan ia pakai. Tentu saja hal itu untuk menggoda Devon. Namun jika seperti ini keadaannya, ia tidak mungkin mengenakan bikini dengan leher dan d**a penuh tanda yang ditinggalkan Devon semalam. “Kalau begitu gunakan baju selam saja.” Mata Davina seketika melotot. Yang benar saja? Apa ini adalah rencana Devon untuk membuatnya tidak bisa mengenakan bikini? Sialan. Davina benar-benar masuk ke jebakan Devon kali ini. “Aku nggak mau mengenakan baju selam!” Davina benar-benar kesal. “Ya, kalau begitu snorkelingnya kita tunda besok saja,” ujar Devon dengan sikap santai yang menyebalkan. “Atau snorkelling di sekitar villa ini aja. Di sini lumayan sepi, nggak akan ada yang lihat leher dan d**a kamu.” Davina menatap Devon dengan bibir menekuk ke bawah. Ia benar-benar kesal. Namun sudah kehabisan energi untuk melawan Devon yang semena-mena dan tak berperasaan ini. Maka, alih-alih kembali marah, Davina langsung keluar dari sana dan meninggalkan Devon. Dengan langkah gegas, Davina setengah berlari menuju lantai dua. Ia bahkan nyaris membanting pintu dengan keras ketika tiba di puncak tangga. Dengan langkah tergesa, Davina menghampiri sisi pagar yang menjadi spot favoritnya setiap kali melihat sunrise di sini. Napasnya memburu karena emosi. Embusan angin pagi menyentuh wajah Davina. Menerbangkan rambut panjangnya yang bergelombang. Davina memejamkan mata selama beberapa saat dan menghirup udara dalam-dalam. Merasakan angin yang menyapu kulitnya dan udara pagi yang terasa sejuk namun menyenangkan, perlahan perasaan Davina pun menjadi lebih baik. Di kejauhan, seberkas sinar mentari mulai tampak muncul di permukaan air. Davina tersenyum. Sangat indah. Seperti memberikan energi baru untuknya yang beberapa saat lalu merasa sangat emosional karena sikap Devon yang menyebalkan. “Jangan lompat dari pagar.” Tiba-tiba, Devon muncul di belakangnya dan lagi-lagi melingkarkan tangan di perut Davina. “Memangnya siapa yang berniat melompat dari sini?” tanya Davina jengkel. Bagus, beberapa detik lalu ia sudah merasa jauh lebih baik. Namun kini Devon kembali muncul dan membangkitkan lagi rasa sebal yang Davina rasakan. “Kamu,” jawab Devon lalu mengecup pundak Davina. “Lepas!” Davina berusaha menjauhkan diri. “Nggak mau,” tolak Devon sambil mengeratkan pelukan. “Bisa nggak sih kamu biarin aku nikmatin sunrise dengan tenang?” “Hmmm...” gumam Devon, lalu mengecup leher Davina. “DEVON!” “Ssssttt... Daripada marah-marah, lebih baik kamu lihat ke depan sana. Mataharinya udah muncul.” Davina diam dan kembali menatap matahari yang semakin lama tampak naik ke permukaan. Dalam beberapa saat ia membiarkan Devon memeluknya. Hingga akhirnya cahaya mentari sudah benar-benar menyilaukan mata, Davina pun melepaskan diri. “Lepasin aku, Dev,” ujar Davina saat ia berusaha menjauhkan tangan Devon dari pinggangnya, namun pria itu masih saja mengetatkan pelukan. “Jangan marah,” bisik Devon. “Aku sudah pesan sarapan tadi. Kita makan di sini saja ya. Di kolam renang.” Davina memutar tubuh untuk menatap Devon. Pria itu tersenyum, lalu menyelipkan rambut Davina ke belakang telinga. “Aku juga sudah memesan beberapa syal untuk kamu. Mereka akan antarkan bersama sarapan kita nanti. Jadi kamu bisa menutupi leher saat kita keluar untuk pergi makan malam.” Dahi Davina berkerut. “Jadi kita akan benar-benar di vila sepanjang hari?” Devon mengangguk. “Karena aku sudah menyebarkan banyak tanda yang sulit ditutupi di leher dan d**a kamu, jawabannya persis yang kamu bayangkan. Kita akan di vila seharian.” Davina menarik napas dan memejamkan mata. Ia benar-benar kesal sekarang. “Aku janji besok kita akan snorkeling, naik kapal selam, dan melakukan banyak hal lainnya. Tapi demi menjaga penampilan kamu, hari ini kita hanya akan keluar vila matahari sudah terbenam, supaya tanda di leher kamu nggak terlalu terlihat jelas.” “Kamu benar-benar nyebelin, Devon,” sungut Davina. “Aku tahu. Karena itu aku merasa bertanggungjawab membuat kamu senang hari ini meski kita hanya di vila.” “Kamu serius dengan ucapanmu?” tanya Davina untuk memastikan. “Kamu benar-benar akan membuatku senang meski kita hanya di vila?” Devon mengangguk. “Kecuali kalau kamu bersedia keluar dengan pakaian lengkap yang menutupi hingga leher.” “Tentu saja aku nggak mau. Kamu pikir apa yang akan dikatakan orang-orang? Aku berpakaian seolah berada di musim dingin, padahal ini adalah pulau tropis. Kamu mau aku disebut gila?” Devon tersenyum manis. Manis sekali hingga Davina merasa sebal karena membuat dirinya luluh. “Tentu saja nggak.” “Bagus, ternyata kamu cukup pengertian,” ujar Davina. “Tentu saja.” Masih tersenyum, Devon perlahan merundukkan kepala. Davina sendiri sadar betul apa yang akan pria itu lakukan. Namun, kali ini ia tidak berniat menghindar. Ketika bibir mereka bertemu, Davina pun melingkarkan tangan ke leher Devon. Sementara pria itu semakin mengeratkan pelukan di pinggang Davina untuk memperdalam ciuman mereka. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD