Yura mendapatkan kabar dari perawat bahwa ada anak seorang pasien bunuh diri. Yura langsung masuk ke UGD dan menanyakan seorang pasien tersebut. Di sana sudah ada dokter yang menangani, perawat dan ibu korban.
Dan dia melepaskan alat penyangga tangannya. “Pasien Chintya?” Yura terkejut melihat wajahnya. Rupanya pasien itu adalah adalah Chintya yang tadi melompat dari atas gedung dan dia pasien yang beberapa hari Yura tangani.
Ya, Chintya melakukan konseling dengannya. Yura menyarankan agar Chintya di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari, tapi ibunya menolak dan mengajak anaknya kabur dari rumah sakit.
“Iya, Dok,” jawab sang Ibu, dia menangis khawatir sambil membersihkan ingus yang keluar dari hidung menggunakan tisu. Tatapan sendu melihat putrinya berbaring tidak sadar diri di ranjang pasien rumah sakit.
Dokter yang menanganinya memberitahu kepada mereka yang di sana, “Pasien ini sangat beruntung karena dia hanya fraktur ankle (patah pergelangan kaki), luka kecil dan lecet saat terjatuh. Dan syukurlah dia jatuh di atas tumpukan kardus. Jadi tidak ada luka yang serius, nyawa masih bisa terselamatkan,” jelas dokter yang menangani Chintya.
Semua mendengar penjelasan dari dokter itu merasa lega dan sedikit tenang, tapi Yura mungkin juga merasa khawatir dan Yura merasa tidak memberikan yang terbaik untuk Chintya, dia gagal menghalangi keinginan Chintya untuk bunuh diri.
Karena itu Yura memarahi ibu si pasien.
“Kan sudah aku bilang! Sudah kubilang kamu akan membunuh anakmu! Dia tertekan, dia depresi! Sekarang lihat! Kamu puas sekarang?!”
“Di-dia bilang dia tidak mau di rawat di sini,” jawabnya dengan tergagap sambil menahan tangis.
Yura semakin kesal mendengar alasan dari sang Ibu Chintya. “Aku sudah menyarankan agar dia tetap berada di sini beberapa waktu, kenapa kamu membawanya kabur!”
“I-ini-i bu-kan salahku.”
Dokter psikolog bernama Zeta datang dan memberikan si ibu sebuah kantong. “Tenanglah, bernapas pelan-pelan di kantong itu,” pinta Zeta sambil menepuk pundak sang ibu karena merasa kasihan.
“T-tapi, bagaimana kalau dia tidak bisa jalan, Dok?”
“Jangan khawatir, putrimu akan baik-baik saja,” kata Zeta menenangkan.
Zeta menyuruh Yura yang masih tampak marah untuk keluar dari ruangan karena akan membuat sang Ibu bertambah sedih. Sebelum keluar Yura memberi pengarahan pada perawat agar pasien itu ditransfer ke departemen psikiatri dan meminta konsultasi dari OS (Bedah Ortopedi, cabang operasi yang menyangkut sistem musculoskeletal).
Dokter yang menangani pasien itu, berkata kepada ibu pasien untuk tidak menangis lagi. Putrinya masih hidup dan bisa berjalan.
“T-api, Dok ....”
Zeta memberikan isyarat agar dokter itu ikut keluar bersama Yura. Dia akan menenangkannya tapi kenapa ibu itu masih saja menangis. Zeta pun paham, mungkin ibu itu syok. Dia meminta ibu itu bernapas pelan-pelan menggunakan kantong yang diberikan tadi. Untuk beberapa saat Zeta menarik napas dengan panjang melihat punggung Yura, Yura terlihat tidak bersemangat. Zeta cemas, Yura akan seperti itu kepala orang lain, seperti tadi, Yura tidak segan-segan berteriak kepala Ibu pasien.
***
Zeta menemui Yura untuk memberi nasehat agar tidak marah seperti tadi kepada ibu pasien, seharusnya Yura tahu betapa terpukulnya Ibu pasien ketika Putrinya bunuh diri yang hampir merebut nyawanya.
“Seharusnya kamu tidak seperti itu kepadanya.”
“Aku berteriak kepadanya, meneriaki bahwa dia hampir membunuh putrinya, Itu bukankah masalah besar,” jawab Yura, dia menghela napas. “Chintya tidak mau diterapi dan ibunya membawa dia kabur dari rumah sakit,” kata Yura mengatakan pada Zeta.
“Sekarang putrinya, apa kamu ingin melihat ibunya yang dirawat psikiatri?” tanya Zeta.
Yura diam. Hari ini banyak sekali masalah, kemarin mendapatkan undangan pernikahan dari Dokter Elan yang akan menikah dengan Dokter Karina—menjadikan dia sulit tidur tadi malam. Sekarang pasiennya bunuh diri.
“Jika pasien meninggal, kamu memang akan kehilangan, satu dari ribuan pasienmu setiap tahun. Tapi, orang tua pasien akan kehilangan semuanya. Kenapa kamu malah bersikap seperti orang yang lebih tersiksa. Beraninya kamu berteriak kepadanya? Kamu ingin menghancurkan kami sebagai dokter kejiwaan dan mencabut lisensi doktermu? Kamu ingin hal itu terjadi?”
Zeta berkata panjang lebar, memandang Yura dengan tatapan emosi.
Mendengar itu, Yura kesal dan melemparkan sesuatu ke arah tempat sampah. Dia merasa seakan paling salah di mata Zeta, Yura berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Tapi Zeta berteriak agar Yura jangan langsung pergi karena pembicaraan belum selesai.
Yura menghela napas sambil mengikat rambut. Dia tetap berjalan ke arah lain, satu tempat yang ingin dia tuju di otaknya—taman rumah sakit.
Sekarang dia membutuhkan ketenangan.
****
Kekesalan Yura telah stabil.
Yura duduk melamun di taman rumah sakit, sembari melihat awan putih. Dia berpikir tentang seandainya tidak pernah bertemu dengan Elan. Akankah kisah cintanya serumit ini?
Yura tidak menyalahkan Tuhan. Tapi dia menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan hatinya karena telah menaruh perasaan yang salah.
Mata Yura melihat sosok lelaki dari kejauhan. Sosok yang dia kenal dan dia cintai dalam diam. Yura penasaran kenapa Tuhan mempertemukan lagi dengannya, padahal sudah berusaha menepis cinta yang ada. Mungkin dia terkena sinir cinta, hingga membuat hatinya bergetar kembali.
Dokter Elan semakin terlihat jelas dan mendekat, tapi lama-lama Yura menyadari ada sosok wanita yang berjalan di sampingnya. Mereka berdua berbicara dengan ceria dan tawa kecil seakan sedang bahagia. Orang-orang yang melihat mereka memuji dua sepasang manusia itu yang akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi.
Astaga. Yura menelan saliva susah payah, ada sorot mata kecemburuan.
“Ra ....”
Lamunan Yura buyar, dia segara bergeming melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata oh ternyata, Dokter Karina dan Dokter Elan, mereka berdiri di depan Yura.
“Ya?” Yura merasa canggung.
Karina duduk di sebelah Yura. “Aku dengar ada pasien kamu yang bunuh diri, bagaimana keadaan dia sekarang?” tanya Karina.
Yura kira, Karina memanggilnya ada sesuatu penting ternyata cuma basa-basi. “Dia hanya fraktur ankle, Dok,” jawab Yura. “Ngomong-ngomong selamat ya kalian akan melangsungkan pernikahan,” lanjut Yura sambil menyunggingkan senyuman palsu.
****
Setelah pulang kerja Yura membuat kopi panas, sambil menikmati rasa kopi, dia berdiri di jendela melihat air hujan yang turun sejak pulang dari rumah sakit. Sampai-sampai terhanyut hingga tak sadar ada yang memanggilnya berkali-kali.
“Yura! Berkali-kali aku panggil nggak jawab!”
“Astaga, Mama!” pekik Yura kaget dengan teriakan dari mamanya. Namanya sudah berkacak pinggang dan tampak melotot ke arahnya. “Ada apa sih, Ma!” tanya Yura, kegiatan menikmati kopi dan hujan terganggu.
“Ada telefon tuh, Ra,” jawabnya.
“Siapa, Ma?”
“Dokter ganteng!” jawab Mama Siska. Dia adalah Ibu Yura. Siska melangkah pergi dari sana.
Dokter ganteng? Ah, siapa? Mungkinkah Elan? Tapi kenapa Dia menelfon Yura lewat telefon rumah? Kenapa tidak menelfon ponsel Yura secara langsung.
Yura memungut benda lonjong di dekat kursi ruang keluarga. Sebelum memulai pembicaraan, Yura menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan untuk menghilangkan kegugupan.
“Hallo, Lan?” sapa Yura.
“Hallo, Yura. Ganggu tidak?”
“Umm, enggak sih. Ada apa?” Yura bingung.
“Aku menelfonmu karena ingin menanyakan tentang perkembangan adikku. Tadi aku ingin bertanya langsung tapi merasa tidak enak ada Karin,” jawab Elan.
Oh, rupanya bertanya tentang Lavira, adik Elan yang beberapa hari ini datang ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan Yura.
Elan mengkhawatirkan mental Lavira.
“Dia ada perkembangannya kok, jangan khawatir,” jawab Yura.
“Okey, Ra. Makasih banget, ya! Kamu memang sahabatku paliiiing baik.”