“Ndan,” ucap Ayumie lirih di sela pagutannya. Batara melirik, lalu melepaskan pagutannya. “Ada apa, sayang?” Batara menatap manik hitam legam Ayumie diiringi senyuman, satu tangannya membelai lembut pipinya dimana Ayumie terlihat menarik nafasnya tanpa keduanya memutuskan kontak mata. “Jika aku salah tolong bicaralah dan jangan diamkan aku seperti tadi.” Batara terkekeh dikecupnya kening Ayumie. “Aku kesal karena kamu mengembalikan sisa uang yang sudah aku berikan untukmu, sayang.” “Kalau begitu bicaralah karena aku bukan cenayang yang bisa menebak isi pikiranmu.” Batara mendekap tubuhnya. “Ya, aku minta maaf, sayang,” ucapnya seraya mengecup lehernya. “Calon istrimu perhatian sekali sepertinya dia tiap hari kirim makanan untuk calon suaminya,” sindir Ayumie dagunya menunjukkan leta

