2. Wanita Matre

2175 Words
Cilla mengernyit bingung saat Calandra menyerahkan amplop berisikan uang untuk membayar tunggakan sekolahnya. Hei, kenapa bisa secepat itu kakaknya memiliki uang? Calandra tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kertas bernominal itu kan? Jujur saja, Cilla takut Calandra berada di jalan yang salah akibat terdesak kebutuhan sekolahnya yang banyak. "Banyak banget satu juta. Kakak dapat uangnya dari mana? Aku nggak mau menerima ini kalau hasil hutangan dari rentenir. Kakak bisa balikinagi." Menyerahkan kembali secara paksa amplop itu. Cilla memberengut, dia terlalu mengkhawatirkan keadaan Calandra. "Aku takut Kakak dikejar-kejar mereka. Kalau mereka marah, Kakak dalam bahaya juga. Hutang kita sebelumnya aja belum dibayar. Kita nggak punya barang yang bisa diserahkan sebagai jaminan, Kak." Calandra gemas mencubit lengan Cilla sampai gadis itu mengaduh. "Ini Kakak dapat secara cuma-cuma tadi malam. Nggak semua sih, sebagian Kakak tambahin pakai uang tabungan. Suer, ini nggak ngutang sama rentenir. Kakak berani jamin." "Cuma-cuma tadi malam? Kakak nggak ngelakuin hal kotor yang ada di otak aku kan? Jangan buat aku semakin merasa bersalah. Aku nggak mau masa depan Kakak rusak gara-gara aku." "Hei, kamu pikir Kakak semudah itu menyerahkan diri? Enggak, ini bukan hasil dari jual diri. Kamu ada-ada aja. Nggak mungkin Kakak jadi perempuan nggak bener, nanti kamu yang kena bully sama teman-teman. Kakak dikejar-kejar rentenir aja kamu udah dikatain, apalagi kalau Kakak sampai jadi kupu-kupu malam. Ya Tuhan, mending ngamen di lampu merah deh." Cilla memajukan bibir, lalu memeluk Calandra. Sungguh, dia sangat menyayangi wanita hebat di hadapannya itu. Tidak tahu lagi mau mengatakan kekagumannya seperti apa, tapi Cilla percaya Kakaknya ini yang terbaik. "Terima kasih banyak, maaf udah hampir menuduh Kakak yang enggak-enggak. Aku cuman terlalu khawatir." "Kakak tahu, terima kasih juga sudah menyayangi Kakak sebanyak ini. Jangan nangis, nanti ilang cantiknya. Gih pergi sekolah, bayar uang sekolah ke ruang tata usaha. Bilang sama guru kamu, nanti sisanya dicicil lagi sampai lunas. Kakak janji nggak sampai kamu ujian, tunggakannya udah beres. Persiapkan diri masuk kuliah. Kamu pinter dan banyak prestasinya, harus menjadi seorang dokter yang sukses." Mengusap rambut Cilla, mengecup pipi adik kesayangannya. "Hati-hati di jalan, belajar yang benar." Tidak lupa menyerahkan tas bekal untuk Cilla, biar uang jajannya bisa lebih irit dan bisa ditabung untuk keperluan yang lain. Seperginya Cilla, Calandra juga bersiap berangkat ke pabrik sebelum jam delapan. Nanti dia terlambat, dimarahi kepala pabrik lagi. Belakangan ini, Calandra sudah beberapa kali ketahuan terlambat akibat terpaksa jalan kaki. Alasannya masih sama, lumayan ongkos bolak-balik menggunakan ojek bisa ditabung atau beli sayuran. Andai Cilla tahu dia akan memarahi Calandra. "Hei, Nona Cala? Wah senangnya kita ketemu lagi." Aluna menyapa Calandra. Anak itu sedang berjongkok di samping mobil mewah yang kebetulan sedang parkir di depan sebuah toko roti. "Tolong bantu aku, itu ada anak kucing di bawah. Ambilkan!" katanya memohon sambil menunjuk anak kucing berwarna oren tengah bersembunyi ketakutan di balik ban mobil Kenny. Calandra melihat ke arah jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, lalu mendesah kecewa. Lima belas menit lagi dia akan terlambat jika tidak segera tiba di pabrik. Lama-lama dia bisa dipecat kalau begini terus. "Ini, simpan anak kucing kamu. Aku buru-buru." "Nona Cala mau ke mana?" Aluna mengerjap polos, memeluk kucing itu dengan sayang. "Temani aku di sini, Papa lagi di dalam sana beli roti. Kita belum sempat ngobrol." "Astaga, bisa-bisanya kamu sendirian lagi di pinggiran jalan begini. Apa Papa kamu sama sekali nggak takut kamu ditabrak mobil atau diculik orang jahat? Dia kayak bukan Papa yang baik, minta dipukul kepalanya!" Aluna menggeleng sambil tersenyum. Lucu sekaligus gemas ketika melihat Calandra mengomel. "Aku yang turun dari mobil, Papa sudah memperingatkan di dalam aja. Ada anak kucing, kesian. Dia sendirian. Bawa pulang dong kucing ini Nona Cala, kasih dia makan. Dia kurus, kelaperan." Memberikan kucing kecil yang berada dalam pelukannya pada Calandra. "Dih, ogah! Cilla nggak suka kucing, nanti dia bersin-bersin. Kamu aja yang bawa pulang, lagian kamu kok yang nemenuin dia di jalan ini. Dia suka kamu, kalian bisa temenan dan main bersama." "Nggak bisa, Papa nggak bolehin bawa kucing ke rumah. Tapi aku punya kelinci, dia lucu. Ayo main ke rumah, Nona Cala. Aku punya banyak mainan." Calandra menghela napas kasar. "Aduh bocil. Denger ya, aku udah terlalu tua buat melakukan permainan anak kecil. Kamu main sendiri aja. Udah dulu, aku lagi buru-buru. Nanti telat bisa dipecat kepala pabrik. Cuman kerja di sana gajinya lumayan, bisa bayar tunggakan sekolah Cilla dan makan kamu sehari-hari." Aluna menggeleng, dia menarik baju Calandra. "Sebentar lagi Papa datang, nanti Nona Cala diantar. Aku senang bertemu Nona Cala, aku mau kita temanan. Mau kan?" "Baik? Aku orang jahat, jangan mudah percaya sama orang asing. Lama-lama diculik juga ini anak. Kamu jangan terlalu polos, nanti diajak orang naik mobil aneh mau lagi. Itu penculikan anak." Bukannya takut, Aluna malah tertawa. Dia menggenggam tangan Calandra. "Nona Cala yang selamatin aku semalam. Aku ingat. Nona Cala bukan orang jahat." "Aku sudah dibayar Papa kamu setelah melakukannya. Jadi nggak ada hutang budi. Aku nggak sebaik yang kamu pikirin, aku bisa menelan bocil kayak kamu." Calandra buru-buru melepaskan genggaman Aluna, menyuruh anak itu masuk ke mobil agar dia bisa berangkat ke pabrik dengan cepat. "Nona Cala bisa minta nomor telepon? Nanti aku akan menghubungi Nona Cala biar bisa main ke rumah. Nona Cala bisa main piano nggak? Tolong ajari aku dong." Dia terlihat antusias dan lagi-lagi sangat polos. Anak ini benar-benar tidak tahu dosa, wajahnya tidak merasa bersalah dan merasa begitu dekat dengan Calandra. Terlihat sangat menyukai Calandra sejak pertama kali mereka bertemu. "Aku punya teman sekolah, dia pintar main piano. Tapi rumahnya jauh. Aku mau bisa main piano juga." Calandra mengusap wajahnya kasar. "Aku bisanya nyari uang doang." "Uang Papa banyak." "Orang gilaa pun tahu kalau kamu dari keluarga sultan." "No, aku Aluna Ryder. Bukan Aluna Sultan. Memangnya siapa Sultan? Apa dia temannya Papa?" "Ya Tuhan bocil ini, banyak omong banget. Kapan Papa kamu datang, ini bener-bener memakan waktu. Aku bisa telat lagi." Calandra cemberut masam, tapi tidak tega juga meninggalkan Aluna sendirian. Anak itu sangat mencuri perhatiannya. Dia cantik dan imut sekali, apalagi saat mengenakan seragam sekolah begini. Rambutnya dikepang kiri dan kanan, ditambah aksesoris penjepit agar tampak indah rambut kecokelatannya. Calandra baru ingin mendatangi Kenny di dalam toko rotinya, tapi ternyata pria itu lumayan paham dengan keadaan mendesak. Dia selesai berbelanja di dalam, menatap Calandra kaget dan mengernyit bingung. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya sedikit sinis. Kenny bisa mengenali wajah Calandra dengan baik. "Ngapain? Anak kamu nih, ngerepotin aja. Gara-gara temenin dia di sini aku jadi terlambat ke pabrik. Aku bisa dipecat. Bisa rugi besar!" Kenny mendesak kesal, tahu sekali ke mana arah pembicaraan Calandra. Pasti tidak jauh-jauh dari uang lagi kan? "Berapa nominal yang harus saya ganti untuk membayar waktu kamu?" Dia langsung to the point, tidak senang berbasa-basi dengan Calandra. Wanita super mata duitan. Dasar wanita akhir jaman! "500 tibu." Kembali ke rumus awal, kalau soal uang ... Calandra memang tidak tahu malu. Persetann dengan harga dirinya di mata Kenny, dia sedang memerlukan banyak uang. Jika Aluna bisa dimanfaatkan, kenapa tidak kan? "What? Itu namanya pemerasan! Dasar wanita mata duitan." "Karena kamu mengataiku, bayarnya menjadi 600 ribu." "Itu namanya kamu merampok saya!" Calandra mencebikkan bibir. "Apa uang segitu membuat kamu jatuh miskin? Waktuku berharga, dan aku rela meluangkannya untuk menemani bocil ini. Tolong cepat kalau kamu berniat membayarnya, kalau enggak ... kamu juga buang-buang waktu dan tenagaku. Dasar pria nggak becus jaga anak, perhitungan lagi!" Kenny langsung mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya, menyerahkan pada Calandra dengan wajah memberengut kasar. Dia kerampokan lagi oleh Calandra! "Mantap, Papa. Kasih aja uang untuk Nona Cala, dia baik udah nolongin kucing ini." Dia terkikik geli, terlihat senang menatap Calandra sambil mengacungkan jempol. Tanpa diduga, Aluna adalah tambang emas Calandra. Rezeki nomplok lagi! "Lain kali tinggal aja anaknya sendirian, aku siap menemaninya lagi. Lumayan bocil ini bikin aku ketiban rezeki terus. Besok-besok aku bakal minta yang lebih banyak. Dah, semoga kita bertemu lagi." "Cih, saya tidak sudi melihat kamu lagi. Jangan mendekati Aluna. Besok bisa aja kamu jual anak saya ke pameran anak." "Boleh kalau kamu mengizinkan, lumayan dia jadi sumber keuangan aku." Kenny refleks mengumpat. "Cepat pergi, kamu ini wanita tidak waras!" Aluna melambaikan tangannya. "Sampai ketemu lagi, Nona Cala." Calandra tersenyum, lalu membalas dengan kedipan mata. Wajahnya berseri-seri, lumayan uang enam ratus ribu untuk menambah cicilan sekolah Cilla. "Aluna, tadi Papa suruh kamu di dalam mobil aja. Jauhi wanita nggak benar seperti Nona itu. Dia nggak baik buat kamu, matre." Kenny memperingati dengan tegas. Emosinya selalu tersulut saat berhadapan dengan Calandra. Mereka tidak saling mengenal, tapi Kenny benar-benar tidak menyukai Calandra sejak pertemuan pertama mereka semalam. "Nona Cala lucu." "Lucu dari mananya? Dia wanita prikk!" "Papa ini jahat, nggak boleh ngomong kasar." Kenny seketika membatin, sabar saat melihat secara terang-terangan anaknya sendiri lebih membela Nona tidak jelas tadi. "Ya sudah, terserah kamu. Papa tidak mau kita berdebat karena wanita itu. Buang-buang waktu saja." "Bawa anak kucing ini ke rumah ya, Pa?" "Nggak bisa. Tante Fara nggak suka kucing, nanti dia nggak mau main ke rumah. Kita pernah melihat dia ketakutan saat ada kucing di rumah, tangannya kena cakar. Kucing itu nakal, kamu juga harusnya nggak boleh dekat-dekat." Merebut anak kucingnya dari Aluna, kembali meletakkan di depan toko roti. Aluna memukul tangan Kenny, menolak pelukan pria itu. "Papa nggak sayang aku!" katanya merajuk dan membuang muka. Kesenangan Aluna dengan beberapa hal harus pupus karena Kenny selalu memikirkan Faradilla. Banyak sekali perbedaan antara Aluna dan kekasih Papanya itu. Kenny menghela napas kasar, lalu mengantarkan Aluna ke sekolah tanpa saling mengobrol selama di perjalanan. Kenny selalu ingin melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang dia sayangi, tapi lupa jika perlakuannya kadang membuat Aluna kesal dan merasa tidak disayangi. Kenny lebih bersikap manis ke Faradilla, katanya calon Mama sambung untuk Aluna. *** Pulang dari sekolah, Aluna dijemput supir pribadi keluarga Ryder. Padahal anak itu berharap Kenny yang datang, lalu mereka makan bersama di sebuah restoran kesukaan Aluna. Tapi apa boleh buat, kata Pak supir, Kenny sibuk dengan pekerjaannya di kantor. "Aku mau mencari rumah Nona Cala. Aku mau menyuruh dia main ke sini. Aku sendirian, nggak seru." "Siapa Nona Cala? Teman Nona Aluna di sekolah ya? Nanti kita tanya pada ibu guru, besok kita samperin rumahnya ya?" Supir itu namanya Pak Didi, dia yang selalu mengantar Aluna ke mana pun anak itu mau jalan-jalan. Bisa dibilang jika Pak Didi ini yang sering menghabiskan waktu dengan Aluna setiap harinya, sementara Kenny sibuk mencari pundi-pundi rupiah. Selalu tentang uang, apalagi jajannya Faradilla banyak dan mahal semuanya. Tapi di luar daripada itu semua, Kenny emang gilaa bekerja sejak dulu. Kenny bukan tipe pria yang senang memanfaatkan kekayaan keluarga Ryder, lalu tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hasil keringat orangtua. Kenny ingin membuktikan jika kerja kerasnya juga membuahkan hasil yang manis. Dia akan menjadi satu-satunya penerus Ryder. Harus bisa memberikan yang terbaik. "Bukan. Nona Cala sudah kerja. Dia baik, orangnya tinggi dan cantik." "Kekasih barunya Tuan Kenny?" Aluna menggeleng cepat. "Bukan. Dia yang nolongin aku pas mau ditabrak mobil semalam. Dia baik. Jangan sampai Tante Fara tau, dia bisa mengamuk kayak Singa kelaperan." Seperti kebanyakan wanita, Faradilla juga sering cemburu bahkan marah jika Kenny dikabarkan oleh media tengah dekat dengan wanita yang tidak lain sebenarnya hanya teman bisnis. Pak Didi hanya ber-oh-ria, menggaruk kepalanya. "Di mana kita bisa menemukan Nona Cala?" Aluna menaikkan bahu, wajahnya seketika cemberut. "Aku nggak tau dia temannya siapa. Tapi namanya Nona Cala. Calaria atau apa ya, aku lupa. Tapi namanya Cala." "Coba tanyakan pada Papanya Nona Aluna. Mau telepon Papa dulu?" "Boleh. Aku belum makan siang, Papa harusnya mengajakku makan ke luar. Dia sudah janji." Pak Didi mengangguk paham, lalu segera menghubungi Kenny. Mungkin pria itu sudah selesai rapat dan waktunya makan siang. "Halo, selamat siang, Tuan Kenny. Ini Nona Aluna sudah sampai di rumah, tapi sepertinya lagi merajuk. Dia mau menemui Nona Cala, terus mau minta ditemani makan siang di luar. Apa Tuan Kenny bisa makan bersama dengan Nona Aluna?" "Biar aku yang ngomong sama Papa." Aluna meraih ponsel itu, lalu ngomong sebelum Kenny menolak. "Aku mau makan spaghetti di tempat biasa, ditemani Papa. Nggak mau ada Tante Fara!" Kenny mengantup bibirnya, tidak bisa menolak. "Ya sudah, minta antarkan sama Pak Didi ke kantor ya. Nanti Papa atur kembali jadwal biar bisa jalan-jalan sama Aluna sampai sore. Kita berdua saja." "Kalau bisa ajak Nona Cala juga, Papa." "Siapa Nona Cala?" "Nona yang tadi pagi ketemu di depan toko roti." "Astaga, wanita itu lagi. Jangan dekat-dekat dengannya, Aluna. Dia wanita tidak benar, suka memeras orang." "Enggak, Nona Cala baik." "Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi soal Nona Cala itu. Kamu siap-siap dulu, nanti kelaperan." "Oke, Papa. Ingat ya, jangan ajak Tante Fara. Dia ribet, aku nggak suka." Kenny hanya bergumam singkat, mengusap kening setiap kali mendengar Aluna tidak menyukai Faradilla. Entah kapan mereka cocok dan saling menyayangi, Kenny tidak bisa menikahi kekasihnya sebelum Aluna mengizinkan. Bagaimana pun Kenny tidak bisa egois mementingkan dirinya saja. Aluna menyerahkan ponsel Pak Didi. "Aku mau ganti baju dulu. Pak Didi tunggu di sini." "Saya panggilkan Mbok Neni dulu, bantuin Nona Aluna bersiap. Saya tunggu di luar ya." "Iya." Aluna berlarian kecil menuju kamarnya, dia bersiap mandi sebentar sembari menunggu Mbok Neni menyiapkan pakaiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD