Tiada malam tanpa sentuhan lembut dan desahan nikmat mereka berdua, seakan tidak ada bosan mereka melakukan penyatuan yang berakhir dengan kepuasan. Begitu pula malam pertama mereka di Sidney, dengan senyum puas yang terukur di wajah mereka kini Aurel dan William tengah berpelukan satu dengan yang lain mengatur kembali detak jantung yang sempat berpacu cepat ketika bersama merasakan puncak percintaan mereka. "Rel, hmm..kamu berencana mau punya anak berapa yah?" tanya William sambil mengusap lembut rambut sebahu milik istrinya itu. "Aku? belum tahu sih. Satu saja dulu, yang lain menyusul belakangan..." "Ya ia dong..yang lain menyusul, masa barengan?" William tertawa mendengar jawaban Aurel barusan. "He he he..ia yah....maksudku kita jalanin saja dulu. Tidak perlu rencana yang kelewat p

