Niva duduk di bangku bar kecil di sudut kafe, dagunya bertumpu di tangan, memperhatikan Nio yang sedang meracik minuman dengan gerakan luwes. “Nio,” panggilnya. “Hmm?” Nio tidak menoleh, masih fokus menuang cairan dari shaker ke dalam gelas tinggi. “Kalau buat pendamping kue buatanku… minuman yang cocok apa ya?” Nio berhenti, lalu menoleh. “Tergantung. Kue kamu kan fusion, ya? Manis, tapi ada rasa tradisional juga.” Niva mengangguk cepat. “Coba yang fresh. Lemonade bisa. Atau… es timun,” lanjut Nio sambil menyeringai. “Simple, tapi nyegerin. Bisa jadi signature juga kalau diolah dikit.” Mata Niva langsung berbinar. “Benar juga! Ajarin buatnya dong!” Nio terkekeh kecil. “Kapan? Di sini?” Niva menggeleng. “Di rumah aja. Dapurku lebih bebas eksperimen.” Nio mengangkat alis. “Rumah k

