Pagi itu meja makan terasa lebih santai dari biasanya. Radio tidak terburu-buru, ia hanya mengenakan kaus V neck putih berlengan tanggung, kopi di tangannya masih mengepul. Ia melirik Niva yang sedang mengoles selai ke roti. “Hari ini kamu mau ke mana?” Niva berhenti sejenak. “Hah?” “Kerjaku libur,” ulang Radio ringan. “Aku kosong hari ini. Kalau kamu ada yang mau dilakukan, bilang aja.” Niva tampak berpikir. Jemarinya mengetuk pelan meja. “Aku… pengin coba nonton di bioskop.” Radio mengangkat alis. “Memang kamu belum pernah ke bioskop?” Niva menggeleng kecil, cengengesan. “Belum lah. Dulu mana ada uangnya.” Radio menatapnya, lalu bertanya santai, “Ezkar nggak pernah ngajak?” Niva terdiam sebentar. Lalu terkekeh kecil, menggeleng lagi. “Dia takut Farina cemburu.” Sejenak, matanya

