Ezkar datang lebih cepat dari biasanya. Mobilnya berhenti di halaman rumah Radio, mesin dimatikan, tapi ia tidak langsung turun. Tangannya masih di setir, matanya menatap ke arah bangunan megah dengan banyak jendela besar itu. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang ia sendiri tidak bisa jelaskan. Akhirnya ia keluar. Langkahnya masuk ke dalam rumah itu sudah terlalu familiar, tapi tetap terasa berbeda. Keadaan sunyi, rapi, teratur. Terdengar suara seseorang berbicara dari arah ruang pertemuan. Ezkar melangkah mendekat, lalu berhenti di ambang pintu. Ruangan itu hampir seluruhnya kaca. Terdapat meja panjang, layar presentasi, suasananya seperti ruang rapat profesional. Dan di sana Niva berdiri. Mengenakan blazer navy yang pas di tubuhnya, rambutnya tertata rapi, posturnya tegak. Tanganny

