Mobil Arti Studio berhenti tepat di depan gedung kaca tinggi kantor perusahaan Crimson. Lobinya terang, rapi, dan terlalu bersih untuk sekadar disebut kantor biasa. Ezkar melangkah masuk. Jasnya rapi, langkahnya stabil, sikapnya profesional seperti biasa. Di dalam ruang rapat, Arnold sudah menunggu bersama Farina. Arnold berdiri sambil tersenyum santai. “Akhirnya. Ezkar Harlan.” Nada suaranya ringan, tapi terdengar yakin. Seperti orang yang tahu posisi dirinya tidak perlu dibuktikan lagi. Farina ikut berdiri. “Hai.” Ezkar mengangguk. “Langsung aja ke pembahasan.” Tidak ada basa-basi lanjutan. Meeting berjalan lancar. Proposal kerja sama dibuka, angka-angka dipaparkan, dan strategi bisnis dibahas dengan cepat. Arnold tampak tenang, bahkan beberapa kali menyelipkan candaan kecil yang

