Pagi masih dingin ketika mobil Ezkar berhenti di depan rumah megah Farina. Ia belum sempat mematikan mesin ketika Farina keluar pagar. Wanita itu terkejut. “Ezkar?” Ezkar langsung turun. “Maaf soal semalam,” katanya cepat. “Aku bener-bener lupa kamu masih di backstage.” Farina mengangkat bahu kecil. “It’s okay. Aku ngerti kok.” Jawaban yang terlalu mudah itu justru menambah rasa bersalah Ezkar. Dia terlalu baik, pikirnya. “Berangkat bareng yuk, aku antar,” tawarnya. Farina mengangguk, lalu masuk ke mobil. Beberapa menit mereka diam sebelum Ezkar akhirnya bertanya, “Semalam pulangnya gimana? Radio nganter?” Farina mendadak gugup, tapi berusaha tampak tenang. “Enggak. Pulang sendiri aja. Driver banyak kok. Radio kan masih kerja.” Ezkar langsung meringis. “Harusnya aku pastiin pulan

