Pintu apartemen baru saja terbuka ketika Ezkar langsung bangkit dari sofa. “Dari mana aja? Kok lama?” tanyanya cepat. Nada suaranya terdengar lebih khawatir daripada yang ingin ia tunjukkan. Niva berkedip, lalu tersenyum kecil. “Kan tadi gue udah bilang di pesan, ketemu Nio dulu.” Ia mengangkat kantong plastik di tangannya. “Lo udah makan malam belum?” “Belum.” “Nih.” Niva menyodorkannya. “Nasi goreng gila. Tadi lewat, jadi gue beliin.” Ezkar menerimanya. Hangat, tapi hanya ada sebungkus. “Lo?” Niva melepas tas. “Udah. Tadi makan bareng Nio.” Kalimat itu jatuh ringan. Tapi ada sesuatu yang mencelos di d**a Ezkar. “Oh,” jawabnya pendek. Hati Ezkar mencelos. Padahal tidak ada hak untuk kecewa. Namun saat ia duduk dan membuka bungkus nasi itu, rasanya aneh. Niva tampak senang mala

