Tawaran Rose

1328 Words
Maksud Nyonya?!" tanya Mina bergetar. "Saya rasa ucapan saya cukup jelas. Lahirkan penerus untuk keluarga kami. Berupa seorang anak laki-laki yang sehat. Kaukan tinggal di sini juga berkat suami saya, dan sekarang tiba gilirannya untuk kamu balas budi!" tekan Rose memojokkan Mina. Mina yang mendengarnya hanya mampu tertegun. Sekecil itukah artinya di mata keluarga yang merawatnya selama ini. Dan tak pernah terfikir sebelumnya ia harus membalas budi semua ini Jika Mina tahu saat dewasa ia harus membayar semuanya dengan menyerahkan harga dirinya. Maka ia tak akan sudi meraih uluran tangan Hadi saat itu. "Tap... Tapi saya tak pantas Nyonya, saya hanya anak yatim piatu" ucapnya masih mencoba sopan "Justru karena itu saya memilih kamu. Saya akan memberi kamu waktu tiga hari untuk berfikir, setelahnya saya akan datang kesini lagi. Untuk mendengar jawaban dari kamu. Saya harap itu jawaban yang terbaik!" kata Rose seraya berdiri. Wanita sosialita itu terlalu malas berlama-lama berada di tempat kumuh. "Em... Sebenarnya saya sudah memiliki jawabannya, saya tid-...!" "Cukup Mina, saya meminta kamu untuk memikirkannya dengan serius. Tiga hari lagi baru saya akan mendengar jawaban darimu" balas Rose semakin geram. Saya harap kamu tahu diri, dan menerima permintaan saya untuk melahirkan cucu saya" lanjut Rose dingin. Rose kembali ke mobilnya yang ternyata juga ditumpangi Kale. "Ma, buat apa sih kita kesini?!" tanyanya tanpa menoleh karena lelaki itu tengah asik bermain game di ponselnya.Yaitu game yang menampilkan peperangan sebagai backgroundnya. Dan senapan laras panjang sebagai alat pemusnah musuh. "Semua inikan karena kamu" jawab Rose kesal. "Aku?" beo Kale. "Yah... Karena kamu yang minta ijin Mama untuk pergi ke negara yang sedang dilanda perang saudara itu" jawab Rose mengingatkan Kale kembali. Lelaki itu tertawa santai. "Yah... Memangnya kenapa sih, Ma. Kan dari awal Mama juga tahu, suatu saat aku akan pergi mengabdi pada dunia sama seperti Papa" sahutnya bangga. "Aku bahkan sudah menyelesaikan pendidikan militerku, Ma" tambahnya lagi. Rose hanya menghembuskan nafasnya pelan. "Karena itu kamu perlu menikah cepat. Dan segera punya anak" "Hhaah... Apa Ma. Buat apa, akukan bisa menikah setelah pulang dari wajib militer" balasnya tak terima. Ia bahkan melempar ponselnya begitu saja. "Apa kamu bisa jamin tak akan terjadi sesuatu padamu disana, Apa kamu yakin kembali ke tanah air dengan selamat?" sarkas Rose tanpa basa-basi. Sebenarnya Rose meminta Kale untuk mengkaji ulang niatannya tapi dasar Kale, lelaki keras kepala itu tak bisa dikekang. "Hhaah... Mama" lirih Kale. Percuma rasanya menetang Mamanya yang jauh lebih disiplin ketimbang ayahnya yang seorang TNI AD. "Jadi kita kesini buat apa?" tanyanya lagi. "Itu wanita itu yang nantinya akan melahirkan anakmu" ucap Rose melirik bangunan itu lagi. "Hhah... wanita miskin itu?!" seru Kale tak percaya. Sungguh ia sama sekali tak mengingat siapa Mina, si gadis kecil yang ia lihat sekali saat ayahnya membawa gadis itu pulang. "Karena ia miskin juga yatim piatu. Maka tak akan ada yang protes seandainya kita menguasai anak yang nantinya ia lahirkan. Mama tak ingin wanita bangsawan, mereka biasanya hanya akan merepotkan karena berebut hak asuh anak. Dan Mina juga wanita yang sehat. Ia sudah tinggal disini dan jarang keluar panti. Jadi Mama cukup yakin ia bersih" hemat Rose. ---- Setelah kepergian Rose, Mina terlihat gusar. Hal itu ditangkap oleh Zakiyah yang memang sangat menyayangi Mina. "Bu, Bu Rose minta aku nikah sama anaknya, Bu!" adu Mina memelas. Ia merasa dirinya masih terlalu muda untuk menikah. Sembilan belas tahun usia Mina. Dan ia masih ingin seperti wanita muda lainnya, bebas menjalani hidup. Tapi Mina juga ragu, apa gadis lulusan SMK, yatim piatu serta tak memiliki harta sepertinya mampu menggapai bahagianya. Haah... Mungkin ini satu-satunya caranya untuk dapat menggapai bintang di langit angkasa, yaitu dengan "menjual" rahimnya sendiri. Meskipun sebenarnya Mina tak pernah terlalu berharap bisa memiliki harta yang melimpah. Ia cuma punya keinginan kecil, yaitu punya cukup uang untuk pulang ke desanya. Mina terlalu rindu untuk melangkahkan kakinya di tanah kelahirannya Zakiyah hanya mengelus lembut kepala Mina. Wanita itu tahu, Meskipun Mina menolak, Rose tetap akan memaksanya. Karena seorang Rose tak suka dibantah. --- Hari yang di janjikan tiba, tepat sudah tiga hari dari yang di janjikan wanita itu kembali datang menemui Mina. Dan sejak semalam gadis itu sudah bertekad menolak semuanya secara halus. Mina memang sudah memikirkan semuanya. Baginya suatu kehinaan menjual tubuhnya hanya untuk harta yang dijanjikan. Masalah balas budi, mungkin Mina akan bekerja keras dan menabung untuk sedikit membalas jasa keluarga Tjandra padanya. Kali ini Rose masih tidak sendiri, karena Kale juga ikut mengantar ibunya itu. Meski ia hanya melihat dari dalam mobil. "Jadi bagaimana Mina, kau sudah punya jawaban ?!" "Iyah, Nyonya!" sahut Mina seraya menunduk, sedang kedua tangannya mengepal kuat. Ia butuh kekuatan untuk melawan Rose "Lalu?!" "Sebelumnya saya minta maaf. Tapi saya menolaknya, karena tak sepantasnya saya menjual rahim saya. Saya rasa pernikahan adalah hal yang sakral. Dan tidak dilakukan hanya karna satu tujuan!" jawabnya lugas, bola matanya menatap lurus kearah Rose yang terlihat marah. Bahkan wanita itu mencibik kesal. "Lagipula saya bukan barang yang bisa anda pindah tangankan begitu saja" lanjutnya "Kau yakin Mina, ini tawaran yang hanya aku berikan kepada orang yang aku anggap pantas. Dan sesuai janjiku akan ada bayaran yang fantastis untuk itu. Dua milliar Mina, apa uang segitu tak cukup bagimu?!" tanya Rose masih melotot ke arah Mina Mina hanya menggeleng, perasaannya semakin yakin untuk menolak semua. Tidak... Tak akan ia biarkan tubuh yang diberikan secara cuma-cuma oleh yang maha kuasa dijual olehnya. "Tidak, Nyonya. Silahkan Nyonya simpan uang itu untuk wanita lainnya!" sahut Mina berdiri. Gadis itu nampak begitu berani, Kale yang sejak tadi melihat dari kejauhan, semakin jelas menatap Mina. Hatinya menghangat, menangkap gelagat Mina yang tidak setuju sama seperti dirinya. "Boleh juga tuh cewek, Yes... Akhirnya gue gak perlu nikah sama cewek sembarangan!" gumamnya seorang diri. "Baik Mina, jika itu keputusanmu. Lalu bagaimana caranya kau membalas semua hutang budi keluarga kami!" ucap Rose menghentikan langkah Mina yang ingin pergi. Mina memutar bola matanya, mencoba berfikir caranya. Ia sekarang memang belum memiliki sepeserpun uang. Tapi itukan juga bukan salah Mina, ia tak pernah minta diselamatkan dari desanya yang terkena bencana. "Kalau itu...!" jawab Mina ragu, ia kembali mendudukkan dirinya di samping Rose. Rose mengukir senyum puas di wajahnya. "Kau ingin menolak tawaranku, tapi tidak memikirkan opsi lainnya agar aku setuju, Mina... Mina...!" ledeknya meremehkan. "Aku bisa kerja, mungkin menjadi pembantu rumah tangga di rumah anda tanpa di gaji, tapi bukan dengan aku yang harus melahirkan penerus keluarga" "Hhaaah... Pembantu, berapa lama kau bersedia menjadi pembantuku tanpa digaji. Bahkan jika kau memakai seluruh hidupmu, itu tak akan membayar setiap jasa-jasa keluarga kami" "Coba fikirkan lagi, tak hanya harta tapi fasilitas, derajat akan kau dapati seiring dengan statusmu yang menjadi istri dari Kale mata" Setelah menyakinkan Mina kembali. Rose nampak pergi, kali ini wanita itu kesal dan marah tidak berhasil membujuk Mina. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, dan membantingnya begitu saja. "Ma... Kenapa sih?!" tanya Kale tak senang. Meski ia sebenarnya tahu kenapa mamanya jadi uring-uringan. "Miskin ajah belagu!" gerutu Rose seraya melipat kedua tangannya di d**a. "siapa, Ma?!" kale menghadap ke mamanya itu, sangat ingin tertawa karena setidaknya ada kesempatan untuk mengagalkan rencana pernikahan ini. "Lihat saja nanti!" gumam Rose tanpa mengindahkan pertanyaan anaknya itu. Ia terlihat mendial nomor seseorang dari balik ponselnya yang mahal. "Iyah... Tempatnya di jalan Kamboja Nomor 29, segera malam ini. Saya mau semua tuntas!" titahnya dingin. Kale semakin bingung apa maksud ibunya itu. "Mama mau apa? Kamboja Nomor 29 itu disinikan?" ia menunjuk bangunan lama yang tak lain panti asuhan Mina. "Kamu tak perlu tahu, Pak cepat jalan...!" ucap Rose dingin lalu segera merintah supir mereka untuk melajukan mobilnya. Malam ini, ia akan memberikan kejutan untuk para penghuni panti. Suatu buah bencana yang mungkin akan membawa Mina bertekuk lutut dihadapannya. --- Malam tiba, Kale dan Rose sudah sampai di rumah mereka. Kale langsung masuk ke kamarnya berniat mandi, seharian pergi membuat badannya lengket. Lagipula ia ingin sekalian mengurangi stress di otaknya. Berdua dengan Rose di dalam mobil hanya membuat ibu dan anak itu saling beradu argumentasi tak berujung. Tapi biarpun begitu, Kale tetap mencintai Rose, Ibunya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD