Part 8

589 Words
"Aku ingin lihat apa yang sekarang mereka rencanakan." Mas Daffa mengandeng tanganku agar berjalan beriringan bersamannya. Mobil sudah kami titipkan di area parkiran yang sedikit jauh dengan restaurant tempat keluarga suamiku mengadakan makan malam bersama. Dari kejauhan aku sudah melihat bahwa ibu dan iparku yang lainnya berada di depan pintu restaurant dengan mata yang sibuk menyapu ke seluruh area. Dan beberapa saat kemudian titik tuju mata ibu terfokus pada aku dan suami serta anakku yang berada dalam gendongan Papanya. Sontak wanita paruh baya yang menggunakan dres berwarna hitam itu sedikit berbisik-bisik, mungkin sedang memberitahu anak-anaknya yang lain bahwa kami telah sampai. "Entah apa yang mereka rencanakan sekarang," kata Mas Daffa. Tadi suamiku dingin padaku dikarena kesal dengan keluarganya saat mengetahui bahwa aku dihina oleh mereka. Sebenarnya aku tidak memberitahunya akan tetapi Veni lah yang mengatakan semua pada Mas Daffa dikala mas Daffa menelponku di saat sedang bersama Veni. "Kok nggak bawa mobil rental itu lagi, kan kasian harus jalan kakak, Nak," kata ibu, hah masih saja ia menghina kami. Menyebut Nak lagi. "Sudah dikembalikan," sahut Mas Daffa enteng. "Oh, pantesan saja. Ayo masuk," ajak ibu. Kami diam saja tampa menjawab sepatah kata pun. Namun Mas Daffa tetap masuk dan menuntunku agar ikut masuk. "Duduk," ibu mempersilahkan kami agar duduk, sebenarnya aku ingin bertanya-tanya ada maksud apa dibalik perubahan sikap mertua dan iparku itu. "Kalian sepertinya belum pernah makan di restaurant mewah ini, ya?" Mbak Kania bertanya sambil tersenyum lembut. Namun aku yakin bahwa senyumnya itu penuh dusta. "Kami biasa makan di warteg atau di kaki lima, ini terlalu mahal, kami tidak sanggup." Aku menyahuti membuat mereka semua tertawa santai. "Kau bisa saja," kata Erina. Wanita itu sedikit memincingkan tatapan kebencian padaku. Mungkin karena tadi sore aku menamparnya. Seorang pelayan membawakan buku daftar menu serta sebuah pulpen dan secarik kertas. Ibu mertuaku dan para iparku berbondong-bondong memilih menu makanan yang harganya standar. Hingga akhirnya mereka semua selesai memelih dan menatapku. "Kamu pilih apa, Rin?" tanya ibu. "Samakan saja," sahutku. Mereka semua saling tatap. "Harganya mahal lho Rin, apa kamu sanggup bayar nanti?" tanya Ibu. "Yasudah, ini saja mbak dua, minumnnya yang ini," aku menunjuk menu paling atas yang harganya tentunya paling mahal. "Heh, Rin, yang benar saja, kamu jangan nyuruh kami yang bayar nanti." Mbak Kania memperingati. Aku tidak peduli. Bahkan ucapannya tidak sama sekali aku gubris. "Rin, kamu bener pesan menu itu?" tanya ibu. "Lalu? Kenapa memang?" tanyaku balik dengan nada suara yang terdengar acuh. "Kalian tidak mampu bayar? Lah katanya kalian kaya," aku sedikit menambah folume yang membuat orang-orang di samping kami menatap bingung. "Masa orang kaya raya, menu seharga segini tidak mampu bayar sih?" tanyaku. Ibu dan para iparku menelan salivanya susah paya. Ya, tadi mereka mengatakan akan mentraktir itu sebabnya aku ingin mengerjai mereka. "Mbak nggak ada cuci mulutnya, atau cake?" Pelayan itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku memilih tiramisu yang paling mahal serta dessert. "Apa? Kau memesan sebanyak itu?" tanya Mbak Kania. "Kan sesuai. Satu orang satu," jawabku. "Gila kamu ini, sudah makan gratis tidak tahu diri lagi." Kesal Erina. "Lah, kalian mengengundangku kan? Jadi aku merasa tidak salah toh aku datang kesini secara terhormat." Tidak berapa lama, minuman kami di antar. "Ups tumpah." kata Erina. Satu gelas jus kental ditumpahkan ke atas bajuku membuat aku terkejut bukan main. Kutatap Erina kesal. "Mending kamu cuci dulu," saran ibu. Aku diam. Mengajak Mas Daffa agar pergi ke toilet namun sebelum itu. Aku mengambil sebotol saos dan ku tumpahkan pada baju Erina. "Ups, aku juga tidak sengaja." Bersambung ... Jangan lupa komen biar part selanjutnya cepat menyusul
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD