Part 10

495 Words
"Hei, kenapa wajah kalian tegang? Baik aku putar saja ..." "Aku ke toilet tadi menit ke berapa, ya, Buk?" tanyaku wanita itu menatapku tajam. "Ah, menit ke dua belas,"jawabku lagi karena memang ibu tidak mengubris pertanyaanku sama sekali. "Diam ya, kita dengar sama-sama." [Aku punya kejutan.] Aku menatap wajah Mbak Ghita. Si yang sejak pertama datang hanya diam saja. Namun yang pertama muncul pada rekaman malah suaranya. Wanita itu terlihat menelan salivanya dengan susah payah. [Kejutan apa?] tanya ibu. [Tada!] pekik wanita itu. Aku tidak tahu apa yang dia perlihatkan karena memang ini hanya rekaman suara bukan rekaman video. [ponsel milik siapa itu?]. Sekarang giliran suara Mbak Kania yang terdengar. Dari suara wanita itu sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari kejutan apa yang dimaksud oleh Mbak Ghita. [Ponsel dan dompet milik pelayan yang membawa buku menu tadi, aku mengambil dari saku bajunya secara diam-diam dan tanpa di sadari.] jelas mbak Ghita lagi. [Gila kamu, ya? Nanti kalau ketahuan bagaimana?] Terdengar dari nada suara Mbak Kania, ia panik. [Ets, tenang saja, aku punya rencana, berhubung si Airin dan Daffa tidak di sini,] jelas wanita itu lagi. [Renaca apa sih?] [Kemarikan Tas si Airin.] [Nah, ponsel ini kita masukkan ke dalam tasnya, kita buat seolah-olah dia mencuri, ah ngomong-ngomong dia masih saja menyewa ponsel orang.] aku paham bahwa ucapan itu ia katakan di saat sedang memasukkan ponsel dan dompet itu ke dalam tasku dan mereka melihat ada ponselku di dalam tas itu juga, ya, ponsel yang saat ini memperdengakan rekaman yang aku putar sekarang. [Lalu bagaimana?] tanya ibu. [Sebentar, Buk,] [Mbak! Mbak!] Mbak Ghita menambah volume suarnya. Ia seperti sedang memanggil seseorang. [Ada yang bisa saya bantu, Buk?] suara wanita itu terdengar asing, aku yakin bahwa itu suara pelayan yang bekerja di sini. [Mbak, coba mbak tanya apakah ada teman atau pelayan di sini yang kehilangan sesuatu, soalnya saya lihat tadi wanita yang duduk di bangku itu memasukkan sesuatu ke dalam tasnya,] Dan yah, ternyata pada bagian ini mereka memberitahu pelayan tersebut bahwa aku yang mencuri benda itu, hingga tadi mereka hanya menggeledah tasku saja. [Baik, saya tanya dulu.] [Ah, rencana bagus, makanya jangan suka bermain-main dengan kita. Rasakan Airin kau akan sangat malu.] Ucapan Mbak Kania membuat aku mengkhiri rekaman itu. "Jadi begitulah ceritanya," kataku sambil tersenyum dan menatap kakak-kakak iparku. Aku bahkan tidak menyadari bahwa sudah banyak orang yang menatap kami dan menyimak apa yang terjadi. "Wah parah, banget." "Ini bukan dilakukan secara kesengajaaan," ibu masih berusaha membela. "Jelas-jelas rekaman sudah di putar masih saja mengelak." Ucapku sambil memberaskan tasku. "Penjarakan saja, Mas," aku berkata tanpa beban pada dua pelayan tersebut. "Ngomong-ngomong aku pulang duluan, akan ada hajatan di rumah majikanku, jangan lupa hadir, ya." "Dan untuk makanku dan Mas Daffa hanya habis kurang lebih 1 juta, murah sekali kan? Bagi kalian uang segitu tidak ada apa-apanya bukan?" Aku mulai beranjak, namun sebelum itu aku melirik ke arah ibu mertua dan iparku yang sudah ketakutan. "Have fun, ya, semangat cuci pirin." Bersambung .... Lanjut??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD