LIMA PULUH DELAPAN

2260 Words

Dari awal Naraya menginjakkan kaki ke rumah ini, dia sudah tahu apa yang akan diterimanya. Sehingga dia hanya berjalan pelan, masuk lalu duduk di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga. Adit sudah ada di sana juga, duduk di sofa lain yang berseberangan dengan dia. Mereka sama-sama diam dan saling melirik, paham akan konsekuensi yang akan diterima. Pintu kamar Eyang terbuka. Lelaki tua itu keluar dengan memakai kemeja batik lalu duduk di kursi kebesarannya. Matanya menyapu sosok Naraya dan Adit dengan api yang menyala, berdeham sebentar sebelum memulai perkataan. "Kalian tahu kalian itu siapa?" tanya Eyang kepada Adit dan Naraya. "Kamu tahu kamu siapa?" Eyang menoleh ke arah Adit yang dijawab dengan anggukan. "Kamu siapa?" tanya Eyang lagi. "Saya Adit, Eyang." "Salah!" bentak Eyang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD