Naraya mulai mendekat ke parkiran. Hari ini sangat menguras emosinya, sehingga dia menatap konblok sekolah dengan tatapan datar. “Lo Naraya,’'kan?” sapa seorang cowok kepada Naraya sembari mengembus asap rokok ke udara. Naraya memicing, melihat bertapa lancangnya cowok itu duduk di skuter kesayangan. Dia mengangguk pelan. “Iya, kenapa?” “Ketos jangan jutek, dong. Masa gini perlakuan lo sama orang-orang yang dulu pilih lo?” tembak anak kelas dua belas itu. “Gue udah nunggu lo satu jam di sini.” Bibir Naraya tersungging tipis, tahu sedang berhadapan dengan siapa. Cowok itu sang Kepala Suku, pentolan kelas dua belas yang dahulu berusaha didekati Adji untuk melancarkan pemilihannya. “Terus? Mana gue tahu lo nunggu gue,” sahutnya. “Bisa to the point aja? Gue buru-buru mau latihan soalnya.”

