ZZ dan DD bergandengan tangan mereka menyeberang menuju rumah Om R. Rumah Om R bisa disebut tersembunyi, karena selusin pohon cengkeh menutupi area halaman depan dan pintu gerbangnya. Jarak tempuh menuju rumah Om R kurang lebih 5 menit. Bisa dilewati dengan menyusuri jalan besar atau memakai jalan tikus tempat Mak O berjualan.
Aroma pohon cengkeh merupakan ciri khas rumahnya. Setiap orang pasti dengan mudah menemukan rumah Om. Karena di daerah ini hanya rumah dialah yang banyak pohon cengkehnya.
Perihal pohon cengkeh, ayah pernah bertanya kepada beliau. Kenapa suka sekali dengan pohon cengkeh? Menurut Om. Itu tanda setia kepada rokok. Dan ia berikrar tidak akan pensiun dari urusan menghisap rokok. Menurutnya lagi, kebiasaan merokok adalah salah satu cara membasmi virus Covid. Walaupun belum ada kajian ilmiahnya, siapa tahu virus itu takut sama nikotin.
“Ayo pijit belnya, Teh.”
“Ya bentar,” jawab ZZ.
Di pintu gerbang ada tombol bel untuk tamu atau siapapun yang mau berkunjung.
“Tret..tret..tret…..”
Lalu terlihat seorang bapak tua perlente sambil mengisap rokok kretek menuju gerbang.
“Oh kalian. Ayo masuk. Bapak kalian ada di halaman belakang. Lur, nih ada anak-anakmu. Matahari-mataharimu….” Suara Om sedikit melengking.
“Hey, kamarilah matahari-matahariku.” Ayah menyambut ZZ dan DD. Ia langsung bangkit dari meja dan bangkunya, meninggalkan laptop yang masih on.
Terlihat Ayah masih sibuk, mereka berdua dirangkulnya. Lalu sebuah pertanyaan muncul. “ZZ, DD, ada apa nih? sudah pada makan belum, Ayah, kan. masak semur tahu-tempe.”
“Sudah, Yah,” jawab Zz dan Dd dengan serentak.
“Nah, gitu, DD. Pulang sekolah ganti baju, makan, kalau gak main, ke sini saja temenin Ayah.” Ayah memperhatikan si bungsu dengan detail.
DD tidak menjawab. ZZ mendekati Ayah, lalu bicara “Yah, nih, si DD mimpi lagi!” Om R yang mendengar perkataan ZZ, berdiri mendekat dan berkata. “Kalian anak-anak yang baik, sudah jangan hiraukan mimpi terus! sekarang Om punya makanan, kata bapakmu, kalian suka goreng pisang, kan?” ini bukan goreng pisang yang kalian suka, ini es pisang hijau.
Tuh, ambil es pisang hijaunya, di meja sana.” Om R menunjukkan makanan yang berada di meja makan dekat dapur, sambil menyuruh mereka berdua ( ZZ, DD) bergegas menikmati makanan itu.
“Makasih Om,” jawab Dd penuh semangat.
ZZ dan DD langsung menuju meja makan tempat es itu berada. Peganan khas Sulawesi ini mampu memikat anak-anak rupanya. Selain enak, perpaduan pisang yang dibalut kulit berwarna hijau, taburan kacang juga s**u kental manis yang meliuk-liuk di atas kacang menambah daya tarik tersendiri. Secara rasa nikmat secara visual enak dilihat (eye catching) perpaduan yang sempurna!
Ayah maneruskan pekerjaannya, sekarang ia sedang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengeboran air besok hari. Dari mulai perusahaan rekanan yang mempunyai mesin pengeboran, anggaran yang dibutuhkan, lamanya waktu pengeboran, uang muka (Dp) yang didapat dari big boss dan tentunya selisih keuangan sebagai keuntungan yang nantinya akan dibagi rata antara ayah dan Om R.
Om R yang hidupnya sendirian mengetahui betul bahwa ayah memiliki resiko lebih banyak, memiliki 2 anak yang masih kecil butuh biaya lebih besar tentunya, apalagi saat situasi pandemic menuju endemic begini. Kegiatan belajar-mengajar sudah normal, anak-anak sekolah butuh uang jajan. Terkadang Om R tidak ingin membagi keuntungan secara merata, tapi ayah dengan semangat professional tingkat tinggi tetap membagi rata keuntungannya.
“Nih, rezeki anak-anakmu!” Om R memberikan alasan rezeki anak-anak, setiap memberikan uang agar ayah menerimanya.
Setelah ditinggal Ss, Om memilih hidup sendirian. (tentunya bukan pilihannya tapi keadaan dan kenyataan yang harus di terima Om R).
Sebagai mantan preman, ia sudah kenyang betul dengan namanya makhluk halus bernama wanita. Menurutnya wanita atau perempuan itu serba halus: perasaannya dan pengkhianatannya. Kita gak boleh gegebah memperlakukan makhluk tersebut!
Ayah menanggapi argumen Om R mengenai wanita dengan sikap yang biasa, datar, dan santai saja, terkadang ayah menyisipkan hal yang lucu-lucu. Seperti perkataan ayah yang menyerempet ke arah burung Om R yang tidak bisa terbang, karena sayapnya patah, sehingga sarang burungnya diisi oleh burung yang lain.
Dan Om R menyadari semenjak pelariannya ke hutan ber rawa. Burungnya loyo. Om R sudah mengusahakan secara medis dan non medis tapi belum berhasil.
Istrinya (SS) yang waktu itu setia mendapinginya dengan sabar mengantar Om ke klinik a-z ataupun tempat pengobatan alternatif lainnya. Namanya manusia entah bosan, entah ada pengaruh lain (eksternal), kesabaran istrinya lama-kelamaan rontok tidak ada lagi makna setia. Ia mulai berontak karena ingin mempunyai momongan atau bisa jadi alasan kebutuhan biologis yang ingin dipuaskan!