Pada hari Jumat, setelah makan malam, ayah Andhara sengaja memakai celana dan kemeja yang layak dan menunggu pacar putrinya datang.
Keluarga Andhara tinggal rusunawa lama. Bangunan-bangunan di daerah ini semuanya berwarna sama serta susah dibedakan oleh orang yang baru pertama kali datang. Andhara khawatir Jerome tidak dapat menemukannya, jadi dia turun terlebih dahulu dan menunggu.
Segera setelah matahari terbenam, angin sejuk bertiup melalui gaunnya yang tipis. Ketika Jerome tiba, dia melihat Andhara berdiri di pintu gedung, memeluk bahunya, kurus dan kecil, seperti bunga kecil di tiup angin.
Andhara melihat mobil Jerome berhenti, dan berlari menghampirinya.
Jerome memarkir mobil, begitu pria itu turun, Andhara segera membawanya memasuki pintu gedung. Unit yang ditinggali Andhara dan keluarganya ada di lantai empat, karena rumah susun ini tidak dilengkapi dengan fasilitas lift, mereka harus menaiki anak tangga.
“Hati-hati.” Andhara mengingatkan Jerome,
Tangga gedung tua ini curam, dan beberapa tangganya ada yang rusak. Jadi harus siapapun yang melintas harus memberikan perhatian ekstra saat berjalan di malam hari supaya tidak jatuh.
Emmy datang untuk membuka pintu dan melihat seorang pria jangkung mengikuti putri tirinya. Mengetahui bahwa itu adalah pacar Andhara, dia berteriak ke dalam ruangan, "Ayah, pacar Andhara sudah datang.”
Jerome membawa banyak oleh-oleh untuk calon mertuanya, dan semua itu langsung diterima dengan senang hati oleh Emmy.
Keempat orang itu duduk di sofa ruang tengah, bertukar beberapa kata sopan.
Tidak seperti Reino yang terang-terangan menunjukkan ekspresi bete dan malas-malasan saat mengobrol dengan ayah Andhara, Jerome sangat sopan dan mendengarkan dengan penuh perhatian semua kata-kata Aris.
Sebagai ayah yang baik, Aris tidak mau putrinya mengambil keputusan yang salah dengan menikahi orang yang tidak jelas bibit bebet bobotnya. Jadi dia menanyakan semua tentang Jerome, termasuk pekerjaan dan penghasilannya secara mendetail, dan tersenyum puas ketika dia mendengar jawabannya.
Dari segi ekonomi, calon menantunya ini cukup menjanjikan.
Jerome berkata dengan hormat, "Om, tante, aku dan Andhara berencana menikah minggu depan. Apa kalian keberatan?”
“Yaah, karena Andhara yang mau, kami sebagai orang tua nggak masalah.”
Ibu tirinya senang bahwa putri tirinya akhirnya menikah. Dia membuat perhitungan kecil dan berkata sambil tersenyum, "Kok cepet banget minggu depan. Nyiapin pernikahan tuh ribet lho, belum nyetak undangannya, pesen dekorasi, siapin bahan buat makananny. Mana cukup seminggu.”
Andhara berkata dengan acuh tak acuh, "Kami yang atur semuaya sendiri. Ibu tinggal terima beres.”
Ibu tirinya senang ketika mendengar ini, "Lalu di mana kamu akan menikah dan tinggal?"
Jerome yang menjawab. “Aku punya rumah seluas 100 meter persegi. Kalau Andhara berpikir itu terlalu kecil, aku bisa membeli yang lain.”
Segera setelah pernyataan ini keluar, kasih sayang orang tua Andhara untuk Jerome meningkat sembilan puluh persen.
Setelah semua pembicaraan selesai, Jerome berpamitan dengan keluarga calon istrinya.
Aris menginstruksikan putrinya, "Andhara, antar Jerome ke bawah.”
Pada saat menyusuri koridor, Jerome bertanya dengan gugup, "Bagaimana tadi? Apakah penampilanu depan orang tuamu baik?”
"Banget,’ sahut Andhara sambil tersenyum, “sembilan dari sepuluh poin.”
Jerome melihat sosok ramping Andhara di malam yang berkabut, dan sedikit terpana.
Andhara berdiri di sisi jalan dan melambaikan tangan saat mobil yang dikendari Jerome pergi.
Pada saat yang sama, Nadhira baru pulang dari les dan melihat saudara perempuannya Andhara berdiri di bawah lampu jalan, berbicara dengan laki-laki tampan yang tinggi dan kelihatan kaya.
Dengan wajah cemberut, dia berjalan pulang, naik ke atas, baru saja mengetuk pintu, pintunya sudah terdorong ke dalam dan terbuka.
Emmy mengira dia adalah anak tiri dan bertanya, “Jerome sudah pulang?”
“Jerome siapa?”
Melihat yang datang itu putri kandungnya, dia bergegas, "Nadhira sini. Kamu pasti nggak nyangka siapa yang datang barusan. Itu calon suami Andhara, coba kamu tadi pulang lebih cepet sedikit, kamu bisa ketemu sama dia.”
“Ngapain? Kan udah sering ke sini si Reino.”
“Kakakmu sudah putus sama Reino,”kata Emmy lagi, “Yang dia bawa hari ini pacar barunya, lebih cakep dan jauh lebih kaya dari Reino, namanya Jerome Sumampouw. Mereka mau menikah bulan depan.”
Emmy sedikit menyesalkan pernikahan Jerome dan Andhara. Dia berpikir dalam hati, akan lebih baik kalau seandainya Jerome ini pacar Nadhira, jadi dia bisa menikmati hidup sebagai ibu mertua yang kaya.
Pada saat ini, Andhara masuk, dan Nadhira langsung menodongnya dengan pertanyaan, “ Kak An, cowok yang naik BMW tadi beneran pacar barumu? Kok bisa sih dapet cowok berduit, kenal dari mana?”
Andhara mendengus dan tidak mengatakan apa-apa, membuat Nadhira sedikit tidak puas.
Aris tidak memperhatikan putri keduanya, dan fokus pada Andhara. “Kapan ibunya Jerome datang ke sini buat bahas detail pernikahan kalian?”
“Ibu Jerome ada di Amerika. Beliau sibuk dengan bisnisnya, untuk pernikahan, beliau sudah menyerahkan semuanya ke kami.”
“Jadi ibu mertuamu nggak datang?” tanya Aris lagi.
Andhara menggeleng, “Mungkin kami yang datang ke Amerika.”
Tidak ada keberatan untuk hal lain, tetapi ibu tiri Andhara berbicara tentang seserahan dan mahar, tetapi Andhara menolak dengan satu kata, dan itu membuat Emmy semakin penasaran dengan nilai mas kawinnya.
Jerome memang menyebutkan bahwa dia memberi orang tuanya sejumlah uang ketika mereka menikah, dan ditolak oleh Andhara yang sengaja membuat kesal ibu tirinya yang tamak.
Setelah pernikahan diselesaikan, Andhara menelepon Vero untuk memberitahu kalau masalahnya sudah selesai.
“Vero, pokoknya kamu wajib datang ke nikahanku.”
Vero terkejut. “Serius kamu mau menikah? Siapa calonnya?”
“Percuma aku kasih tau sekarang, kamu juga nggak kenal.”
Dari teleponnya, Andhara mendengar Vero berdecak. “Nggak nyangka kamu ternyata punya kemampuan untuk menggaet pria untuk menikah. Hebat, hebat.”
“Berhenti bicara omong kosong, itu bukan aku, tapi dia duluan yang mengusulkan pernikahan,” Andhara memarahi sambil tertawa.
“Berarti kamu sama Reino sudah selesai! Dia nggak nyari kamu sama sekali?”
“Mendingan kita nggak usah bahas Reino lagi.”
Vero tidak percaya kalau hubungan empat tahun antara Andhara dan Reino sudah benar-benar berakhir.
“Andhara, calon suamimu itu, apa dia jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama?” Vero sangat penasaran.
“Memangnya ini novel?” sahut Andhara.
Sejujurnya dia juga bingung kenapa Jerome memilihnya. Kondisi Jerome sangat baik, dia juga sangat tampan, pasti ada banyak gadis di sekitarnya.
Andhara benar-benar tidak tahu mengapa Jerome mau menikah dengannya. Alasan yang dibilang oleh Jerome jelas tidak masuk akal, karena apapun alasannya, dalam pernikahan ini Jerome lah yang paling dirugikan.
Tiga hari menjelang pernikahan mereka, Andhara membawa Jerome bertemu dengan Novina, ibu kandungnya.
Ibu kandungnya memiliki mata merah ketika dia mendengar kalau Andhara akan menikah, dan dia hanya memberinya sejumlah uang untuk menebus utang kepada putri kandungnya selama bertahun-tahun.
Seminggu kemudian, Andhara mendapat akta nikah, upacara pernikahan dihilangkan, Jerome memesan restauran kelas atas dan mengundang kerabat dan teman dekat Andhara mengadakan syukuran kecil untuk pernikahan mereka.
Walaupun ini syukuran kecil-kecilan, tetapi semua makanan dan fasilitasnya sangat mewah, jauh lebih mewah dari pada pesta besar di rumah.
Keluarga dan teman-teman iri, dan adegan itu hidup, Aris merasa bahwa menantunya sangat baik dan terus tertawa malam itu.
Andhara pindah ke rumah Jeroma. Adapun perjanjian properti pra-nikah, Jerome berpikir itu merepotkan dan melupakannya.
Andhara menikah hanya dalam waktu setengah bulan. Adapun hasilnya, tidak peduli seberapa buruk itu, itu tidak akan lebih buruk daripada hamil di luar nikah.