Andhara bab 2 sudah revisi

1965 Words
Seluruh kota diselimuti hujan dan kabut. Andhara masih berdiri di bawah halte bus. Mobil-mobil lewat di depannya, memercikinya dengan air berlumpur. Orang-orang di dalam mobil memandang aneh pada gadis muda berwajah pucat itu melalui jendela kaca.   Malam harinya, Andhara pulang ke rumah. Kedua orang tuanya sudah bercerai sejak dia masih kecil. Dia tinggal bersama ayahnya. Setahun setelah perceraian, ayahnya menata kembali keluarga dengan menikahi mantan pacarnya saat SMA dulu, membuatnya memiliki seorang adik perempuan yang sekarang duduk di bangku SMA.   Mereka tinggal rumah petakan dengan dua kamar tidur, satu kamar untuk dia dengan saudara perempuannya dan satu kamar lagi untuk orang tuanya. Rumah keluarga Andhara adalah rumah kuno dengan tata letak yang buruk. Ada kotak kecil tempat sepatu dan helm ketika memasuki pintu. Beberapa pasang sandal tergeletak di dekat keset depan pintu, membuat rumah itu nampak berantakan.   Pintu kamar orang tuanya terbuka, Aris, ayahnya melihatnya memasuki pintu dengan ekspresi terkejut di wajahnya, dan memarahi, “Kamu ini, bukannya berteduh dulu, malah main hujan-hujanan. Kalau demam gimana? Bikin susah orang aja!”   Andhara berkata dengan lelah, "Aku langsung mandi.”   Dia mengambil dua langkah, dan Aris berkata di belakangnya, "Bagaimana kabarmu dan Reino? kapan dia membawa orang tuanya ke sini dan melamar?" ini pertama kalinya Aris ikut campur dengan hubungan anaknya. Putrinya sudah dua tahun lulus dari perguruan tinggi, dan Reino sudah bersamanya selama beberapa tahun, adalah wajar untuk mulai membahas tentang pernikahan.   Andhara pernah membawa Reino pulang ke rumah sekali. Ayahnya cukup puas dengan Reino. Pemuda itu punya motivasi diri, tidak seperti beberapa anak muda yang baru lulus yang menghabiskan waktu untuk malas-malasan dan bermain game atau parahnya judi online.   Ayah Andhara, Aris Putra, adalah seorang guru sekolah menengah. Ketika dia masih muda, dia sopan, anggun, dan terpelajar. Saat mengajar itulah, dia bertemu dengan Emmy, dan diam-diam merajut lagi kisah lama mereka yang belum benar-benar berakhir.   Aris dan mantan istrinya, Novina, punya temperamen yang berbeda, dan pasangan itu sering bertengkar. Karena Aris dan Emmy saling mencintai, Aris punya gagasan untuk menceraikan istrinya yang sah.   Kepribadian Novina berapi-api, dan tidak mudah ditindas. Tahu suaminya selingkuh, dia membuat banyak masalah di sekolah, dan akhirnya video dia melabrak selingkuhan suaminya menjadi viral di kota kabupaten tempat mereka tinggal. Karena ayah dan ibu tirinya adalah guru, pengaruhnya jadi merembet kemana-mana dan menyebabkan konsekuensi buruk. Aris diskors karena melanggar kode etik pegawai negeri sipil, tidak boleh mengajar kelas, dan dipindahkan ke bagian logistik dan urusan umum sekolah. Ibu tirinya, Emmy, dikeluarkan dari sekolah.   Rumah tangga suami istri itu sangat bermasalah, tentu saja itu tidak bisa bertahan lama dan gugatan cerai segera dilayangkan ke pengadilan agama.   Sebagai konsekuensi mendapatkan keinginannya untuk menikahi Aris. Emmy kehilangan pekerjaannya dan kemudian hamil di usianya menginjak 33 tahun. Ketika dia melahirkan seorang anak dan anak itu pergi ke taman kanak-kanak, Emmy juga semakin tua, dan semakin susah untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang Emmy hanya bekerja sebagai tenaga honorer. Aris pensiun dan hidup dengan dari uang pensiunan, dan putrinya Nadhira duduk di sekolah menengah atas, dan pengeluarannya tinggi. Keluarga berempat berjuang untuk hidup, jadi Emmy sering mengomel di telinga suaminya, berpikir bahwa anak tirinya tidak akan bisa menikah.   Emmy keluar dari dapur saat ini, dan mengeluh kepada suaminya tentang kenaikan BBM yang diikuti dengan kenaikan harga, uang gajinya tidak cukup untuk sebulan, dan meminta Aris untuk mencari kerja sampingan. Aris sendiri mengajukan pensiun dini karena sakit, dan 70% dari dana pensiun sudah habis untuk berobat. Andhara mengambil jurusan pendidikan guru SD di Universitas. Tampaknya ada banyak pilihan untuk bekerja, tetapi cita-citanya menjadi guru PNS dan kenyataannya, biarpun banyak sekolah yang sudah dibuka, lowongan sebagai guru selalu penuh. Andhara lulus dari Universitas lebih dari dua tahun yang lalu, tetapi dia belum d menemukan pekerjaan dengan gaji yang stabil selain menjadi guru les. Mendengarkan omelan ibu tirinya, telinga seperti sudah kapalan. Seperti sekarang, Emmy kembali menyindirnya.    “Kalau cuma Dhira aja sih beban rumah tangga nggak begitu berat. Lagian kenapa sih pacaran lama-lama, nambahin dosa sama omongang tetangga aja. Lihat tuh, Tasya anaknya Bu Ila, pacaran baru enam bulan udah dilamar, tuh undangannya juga udah disebar. Ini pacaran dari Pemilu sampai sekarang udah mau ganti presiden masih gini-gini aja, nggak jelas!”   “Mbok kalau ngomong jangan kenceng-keneng, Bu.” Aris menegur, “malu kan kalau ddengar tetangga.” “Ngapain malu, emang kenyataan kok, Andhara sama pacarnya rendang rendng berdua, tapi nggak ada statu jelas!”   Andhara masuk ke kamarnya, menutup pintu, membuka lemari, menemukan pakaian bersih, pergi ke kamar mandi, mengambil air dan mengguyur kepalanya dengan air dingin, menggosok tubuhnya, memakai baju bersih, dan merasa jauh lebih segar.   Untungnya, adik perempuannya pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan PR dan belum pulang. Andhara menutupi seluruh tubuhnya selimut. dan menangis dengan keras saat teringat ketidak pedulian Reino berkata untuk menggugurkan anak hari ini. Andhara sangat terluka dan bertanya-tanya kenapa Reino tidak mempertimbangkan perasaannya sama sekali.   Ketika dia memikirkannya, Reino sudah bersamanya selama beberapa tahun, tetapi sikap Reino memang tidak sebaik sikapnya kepada pria itu. Reino sering acuh tak acuh dan bersikap baik dan merayunya dengan kata-kata penuh cinta hanya pada saat dia sudah nafsu berat.   Andhara berguling-guling dan tidak bisa tertidur. Ketika dia tenang, dia menemukan bahwa cinta ini selalu dimainkan olehnya sendiri. Begitu dia bangun, hatinya sakit.   Setelah pukul sepuluh, Andhara mendengar suara keras di ruang tamu, itu adalah suara adiknya Nadhira, “Kakakmu udah pulang, sekarang dia lagi tidur.” Itu seperti ibu tirinya membisikkan sesuatu.   Suara tidak puas saudara perempuannya masuk, "Memangnya dia belum dapat kerjaan juga?”   Lalu Andhara mendengar langkah kaki menuju kamar tidur, pintu kamar tidur dibuka dan ditutup dengan keras, lalu meja dan kursi bergerak, suara buku dibanting, Andhara masih pura-pura tidur, gadis remaja pemberontak, dan tekanan ujian masuk perguruan tinggi membuatnya sedikit kurang ajar. Nadhira marah karena sampai sebesar ini masih berbagi kamar dengan Andhara, tidak seperti teman-teman sekelasnya yang sudah punya kamar sendiri-sendiri sejak bayi. Andhara yang pura-pura tidur mendengar adiknya menggerutu. “Dasar beban nggak berguna! Apa susahnya cari kerjaan, bodoh!”    Nadhira memasuki ruangan dan menyalakan lampu depan. Lampu hemat energi di atap terang, dan cahaya masuk melalui celah di antara selimut. Getaran suara pintu yang terbuka membuat Andhara mengintip. Ibu tirinya mendorong pintu dan membawakan secangkir s**u panas, menyuruh adiknya untuk minum.   Setelah menunggu Nadhira sibuk untuk waktu yang lama, dia mematikan lampu depan dan menyalakan lampu meja. Cahaya lampu meja lemah dan jangkauan pencahayaan terbatas. Andhara menarik selimut sedikit karena dia mulai kepanasan dan berkeringat.   Andhara tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam, dan bangun keesokan harinya dengan rambut kusut, dan demam karena hujan kemarin, dan hidungnya terasa mampet. Ibu tirinya berteriak dari luar pintu, "Bangun, sudah waktunya makan!” Andhara sebenarnya tidak nafsu makan, tetapi dia takut pada ibu tirinya. Setengah mengeluh, dia mencoba berdiri, ketika berhasil kepalanya seperti berputar dan membuatnya nyaris terjatuh.   Pada saat ini, ibu tirinya mendorong membuka pintu dan masuk, meliriknya, berjalan ke tempat tidur saudara perempuannya Nadhira, mendorong saudara perempuannya, dan berkata dengan lembut, "Dhira bangun, udah jam setengah tujuh. Ntar kesiangan lho.” Nadhira bersenandung tidak sabar, "Iya, sebentar lagi."   Saat Andhara melewati ibu tirinya dan ke kamar mandi untuk mencuci muka dia mendengar ibu tirinya lagi-lagi mengeluh, “Bangun tuh mbok ya agak pagian sedikit, bantu-bantu kek di dapur. Kerjaannya makan tidur, makan tidur mulu! Jangan samain sama Nadhira, wajar dia bangun siang semalaman dia begadang buat belajar!”   Ibu tirinya menyeret suara yang panjang dan berjalan menuju kamar mandi, "Nadhira itu bukan beban kayak kamu, Andhara!”   Setelah beberapa tahun menikah, kepribadian Emmy yang lemah lembut mulai menghilang, dan mulai menunjukkan mulut pedasnya, terutama kepada Andhara untuk melampiaskan kekesalannya terhadap suaminya. Sepertinya dia sudah lama menyesal menikah dengan Aris. Andhara tidak tahu apakah ayahnya menyesal kerena sudah menghancurkan karier dan keluarganya demi wanita yang mengomel sepanjang waktu.   Andhara mandi dan membantu ibu tirinya mengatur piring, Aris yang sudah duduk duluan di meja makan bertanya, "Tadi kamu yang muntah-muntah di kamar mandi? Berobat sana biar nggak makin parah.”   Andhara tidak tahu harus menjawab apa, dengan kondisi keluarga dan bagaimana sikap ibu tirinya sekarang, dia tidak mungkin memberitahu mereka tentang kehamilannya, jadi ketika ayahnya bertanya begitu, dia hanya menundukkan kepalanya. Sikapnya ayahnya membuat ibu tirinya tidak puas dan mencibir, “Palingan masuk angin, minumin obat warung aja, nggak ada dananya kalau mau ke dokter. Dana buat bayar BPJS udah dialihin buat sekolah Nadhira.” “Udah lah, pagi-pagi udah ribut!” Sela Aris, dia melihat lagi ke Andhara, “minta dikerokin sama ibumu aja, Ra. Terus dibalurin minyak angin, punya kan minyak angin?” Andhara mengangguk. “Ada.”   Aris melihat hanya ada nasi dan semangkok besar mie rebus polos tanpa ada tambahan apa-apa di dalamnya, di atas meja makan dan bertanya kepada istrinya. “Mie lagi? Nggak ada yang lain?”   Emmy menatap suaminya dengan ekspresi sengit, “Nggak usah banyak protes lah! Makan aja yang ada, begini juga sudah kenyang!” Kelang beberapa menit kemudian, Nadhira keluar dengan memakai seragam lengkap. Emmy buru-buru menuang s**u dan meletakkan di depan putrinya, lalu mengeluarkan sepiring roti bakar keju dari dapur dan telur ayam kampung setengah matang untuk adik perempuannya. Nadhira kakaknya memandanginya selama setengah menit, dan bertanya, “Abis nangis ya?” Tak ada embel-embel Kak, mbak atau apapun untuk menghormati Andhara yang lebih tua darinya. Andhara menunduk untuk memakan sarapannya, “Nggak.”   NAdhira menatapnya lama, "Itumu matamu bengkak, apalagi kalau bukan karena abis nangis.”   Setelah Nadhira mengatakan ini, baik Emmy dan Aris yang sejak tadi tidak memperhatikan keadaan Andhara ikut menatap gadis itu. Andhara berpaling dengan cepat dan berkata, "Ini gara-gara kehujanan semalem, jadi pilek.”   Aris berkata, "Beli Procold aja kalau pilek.”   Nadhira masih menatapnya dengan curiga, dan berkata dengan santai, "Pasti gara-gara Bang Reino, dia udah bosan sama kamu, jadi kamu nangis sepanjang malam.”   Andhara meletakkan peralatan makan, bangkit dan masuk ke kamar. Dia merasakan sakit di persendian dan kelemahan. Dia menemukan pil, menelannya, menarik selimut, dan tidur lagi.   NAdhira pergi ke sekolah, dan ruangan itu sunyi, kecuali suara berisik Emmy yang sengaja membanting sendok dan panci saat mencuci piring, tidak ada hal lain yang terdengar.   Andhara berbaring di tempat tidur selama sehari tanpa makan siang atau makan malam. Tidak ada yang bertanya padanya di keluarga ini. Ayahnya dipengaruhi oleh istrinya, dan sangat tidak puas dengan putri sulungnya. Andhara sakit di rumah ini dan tak ada satupun yang peduli. Reino juga tidak menghubunginya sama sekali.   Di sisi lain, Emmy takut sakitnya Andhara akan menulari putri kandungnya. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia masuk ke kamar yang di tempati oleh Andhara dan Nadhira, dan membuka jendela untuk mengganti sirkulasi udara dalam kamar. Lebih dari seminggu Andhara sakit, ditambah lagi dengan cuaca yang tidak menentu, siang panas dan hujan pada sore atau malam hari. Pada malam hari, pilek memburuk dan demam tinggi terjadi. Khawatir dengan kesehatan Nadhira, Emmy menyuruh anak itu supaya pindah ke kamarnya.   Aris memperhatikan istrinya memindahkan selimut putri kecilnya ke dalam kamar, dan berkata, "Bawa lah Andhara ke rumah sakit kalau kamu takut Nadhira ketularan. Berapa sih biaya berobat? Paling nggak sampai dua ratus ribu.”   Emmy berkata dengan marah, "Penyakit Andhara tuh cuma satu. Malas! Palingan dia pura-pura demam biar nggak di ocehin karena nggak mau cari kerja.”   Aris juga merasa bahwa istrinya terlalu berlebihan kali ini, mengerutkan kening, Emmy merapikan tempat tidur, dan berkata, "Bulan ini, Nadhira mesti bayar les, lima ratus ribu sudah nunggu. Dari mana aku punya uang cadangan buat bawa Andhara ke rumah sakit?”   Ketika Emmy mengungkit masalah uang, Aris menelan kembali kata-katanya untuk membela Andhara datang, dan diam-diam menyalahkan anak gadisnya karena tidak pergi berteduh saat hari hujan   Andhara demam dan pusing, berbaring sendirian di kamar. Dan teringat dengan kenangan ketika dia masih kecil. Orang tuanya bertengkar dan bercerai. Tak satu pun dari mereka menginginkannya. Pada saat itu dia hanya bisa meringkuk di sudut, dia takut, takut bahwa mereka akan meninggalkannya sendirian. Seperti sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD