Bab 03. Kakakku yang Protektif

1167 Words
Yumna tersenyum geli, melihat antusias kakaknya setiap makan kepiting. Setelah makan, dia membereskan meja dan mencuci piring. Ryung Seok membilas tangan Yumna, lalu memegang kedua tangannya, dan menghadapkan sang adik padanya. "Maaf ....” Ryung Seok menatap adiknya. "Karna kakak, kamu jadi ngalamin hal seperti ini," lanjutnya merasa bersalah. "Aku nggak papa, Kak,” Yumna tersenyum menatap kakaknya. Ryung Seok memeluk adiknya dan mengusap lembut kepala sang adik. "Maaf. Selama ini, kakak nggak bisa jaga kamu dengan baik," katanya. "Buatku, kakak yang terbaik," Yumna mengusap lembut punggung kakaknya. "Makasih, sudah mau kakak ajak ke sini. Asal kamu baik-baik saja, sudah cukup buat kakak," kata Ryung Seok. Yumna mengangguk dalam pelukan kakaknya. Jantungnya berdebar atas perlakuan sang kakak padanya. "Kenapa aku jadi berdebar, ya? Semoga saja, kakak nggak denger," batinnya. “Oh iya, ponsel kamu tadi mati? Kakak telepon nggak aktif,” tanya Ryung Seok melepas pelukannya. “Oh itu, tadi-" Sebelum Yumna selesai bicara, ponselnya di meja berbunyi. Dia melihat sekilas nomernya di layar, lalu mengangkatnya. “Halo,” katanya. “Sepertinya ponsel kita tertukar. Bisa ketemu sebentar?” tanya seseorang di seberang sana. “Bisa. Di mana, Kak?” Yumna sesekali melihat kakaknya yang juga memperhatikan dia. “Nanti aku kirim alamatnya,” jawab orang itu. “Baik, Kak,” Yumna mengakhiri teleponnya. Yumna membaca pesan yang dikirim dari pemilik ponsel itu. Dia mendekati kakaknya dan menceritakan bahwa ponselnya tertukar. “Laki-laki?” tanya Ryung Seok menatap adiknya. “Iya. Dia seniorku di kampus,” jawab Yumna dengan hati-hati. “Apapun itu, intinya dia laki-laki,” Ryung Seok terdengar tidak suka, dia pergi meninggalkan adiknya. “Kakak kenapa sih, kalau aku bahas laki-laki pasti gitu,” Yumna melihat kepergian kakaknya dengan tatapan heran. Yumna menutup pintu apartemennya dan kaget melihat kakaknya berdiri di samping pintu. “Bikin kaget saja. Kakak ngapain di sini?” tanyanya. “Ayo,” ajak Ryung Seok, dia berjalan mendahului adiknya. Yumna hanya menghela napas melihat punggung kakaknya. Dengan patuh, dia mengikuti sang kakak di belakangnya. *** Di sebuah cafe, Yumna duduk berseberangan dengan kakak seniornya. Dia mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya, begitu juga sebaliknya. “Kwon Noel,” Dia mengulurkan tangannya. “Goo Mi Cha,” Yumna menjabat tangan Noel. “Sepertinya, kamu sudah punya pacar,” Noel melihat Yumna. “Pacar?” tanya Yumna heran. “Ada banyak panggilan masuk dari kakak protektifku,” Noel tersenyum menunjuk ponsel Yumna dengan dagunya. “Oh, itu kakak saya. Dia memang gitu,” jawab Yumna. Mereka mengobrol sambil menikmati minuman yang mereka pesan. Yumna sesekali melihat keluar, pandangannya tertuju pada mobil hitam di samping pohon. Sementara di dalam mobil, Ryung Seok memperhatikan keduanya. “Halo?” kata seseorang di seberang sana. “Aku kirim foto, lakukan seperti biasanya,” perintah Ryung Seok mengakhiri teleponnya. “Ngapain pakai ngobrol, sih? Tukeran ponsel, selesai,” Ryung Seok mulai merasa kesal melihat laki-laki yang duduk dihadapan adiknya. Dia menyandarkan punggung dan menutupi mata dengan lengannya. Yumna merasa kasihan pada kakaknya karna menunggu lama. “Maaf, Kak. Saya pamit dulu,” Yumna bersiap untuk pergi. “Biar saya anter,” tawar Noel bersiap untuk berdiri. “Nggak usah, Kak. Makasih. Sudah dijemput kakak saya,” Yumna menunjuk mobil hitam yang terparkir dekat pohon. “Oke. Lain kali bisa ketemu lagi, kan?” tanya Noel tersenyum. Yumna hanya mengangguk, lalu berjalan pergi. Di dalam mobil, mereka terdiam cukup lama. “Kakak masih laper, nggak?” tanya Yumna melihat kakaknya. “Hm,” Ryung Seok terdengar malas menanggapi adiknya untuk pertama kalinya. “Sebelum pulang, makan ramyeon, yuk,” ajak Yumna tersenyum. Tanpa menjawab sang adik, Ryung Seok menghentikan mobilnya di depan tenda kaki lima. Yumna sedikit ragu makan di sana, karna kakaknya seorang artis. Takut paparazi. “Nggak usah khawatir, kakak sering makan di sini sebelum debut. Ayo,” Ryung Seok turun dari mobilnya. Yumna mengikuti kakaknya, lalu duduk di kursi, sementara sang kakak menghampiri penjualnya. “Di sini ramyeonnya enak,” Ryung Seok duduk di seberang Yumna. Yumna hanya mengangguk. Tak lama, ramyeon mereka datang. Keduanya makan dengan lahap tanpa bersuara. *** Sesampainya di apartemen, Yumna meraih tangan kakaknya ketika akan membuka pintu. “Tunggu,” katanya. “Ada apa?” tanya Ryung Seok. “Kakak mau sampai kapan nggak suka aku punya teman laki-laki?” tanya Yumna terdengar kesal. “Aku sudah besar, bisa jaga diri sendiri, Kak. Tolong percaya,” lanjutnya terdengar memohon. “Kamu punya Myung San, kan?” tanya Ryung Seok menatap adiknya. “Apa aku nggak boleh temenan sama yang lain? Kak Noel apa juga nggak boleh?” tanya balik Yumna. “Myung San cukup,” Ryung Seok bersiap untuk membuka pintu. “Kakak nggak pernah percaya sama aku,” Yumna berteriak dengan kesal sambil menghentakkan kakinya lalu berlari. “Besok, ada yang kakak percaya,” Ryung Seok sedikit berteriak agar adiknya bisa mendengar. Yumna masuk lift menuju apartemennya, tanpa menghiraukan ucapan kakaknya karna sudah kesal. *** Yumna sibuk membersihkan apartemennya dan mencatat kebutuhan bulanan yang habis. Dia memakai celemek dan mulai memasak di dapur. Dia meletakkan piring terakhir di meja makan dan menyimpan celemeknya. Yumna turun ke lantai apartemen milik kakaknya, lewat tangga penghubung yang sengaja dibuat oleh sang kakak. "Kak, sarapannya sudah siap," Yumna sedikit berteriak agar kakaknya bisa mendengar. Dia mematung, ketika melihat semua anggota Star Moon duduk di sofa. "Kamu!" seru Hyuk San terkejut melihat Yumna. Anggota lainnya ikut melihat ke arah pandangan leader mereka dan sama terkejutnya. "Dia Mi Cha, kan? Yang pasti dateng setiap fansign,” tanya Nam Shik mencoba meyakinkan ingatannya. "Oh, dia yang nggak banyak bicara itu, ya," Kyung Han menjentikkan jarinya. "Kenapa kamu di sini? Kamu terobsesi sama kehidupan pribadi Ryung Seok?" tanya Hyuk San dengan tatapan menyelidik. Yumna bingung harus menjawab apa, dia hanya tersenyum canggung melihat semuanya. "Bukan," jawab Ryung Seok berdiri di samping Kyung Han. Mereka melihat ke arah Ryung Seok untuk meminta penjelasan. Sedangkan Ryung Seok melihat ke arah adiknya, yang langsung diangguki oleh sang adik. Mereka semua duduk di sofa dan mendengarkan cerita Ryung Seok dengan seksama. Ryung Seok hanya menceritakan bahwa Yumna adalah anak adopsi dari Kak Dae Baek yang menyamar jadi keponakannya. “Oh, jadi gitu," kata Kyung Han manggut-manggut. "Nggak usah khawatir. Rahasiamu, aman sama kita," Hyuk San tersenyum melihat Yumna. "Makasih, Kak," Yumna tersenyum melihat semuanya. “Mereka semua yang kakak bilang tadi malam,” Ryung Seok melihat adiknya. “Ya pasti lah, temennya sendiri,” batin Yumna, dia melihat kakaknya dengan kesal. "Apartemenku nggak jauh dari si-" sebelum Kyung Han menyelesaikan kalimatnya, lehernya sudah dipiting oleh Ryung Seok. "Usaha dikit, Kak," Kyung Han terbatuk-batuk sambil memukul-mukul tangan Ryung Seok. “Jangan coba-coba,” Ryung Seok mengeratkan sedikit pitingannya lalu melepasnya. "Kalau butuh bantuan, kamu bisa hubungi salah satu dari kami," Hyuk San menunjuk semua anggota. Yumna tersenyum lalu mengangguk. "Hubungi aku dulu, ya," Kyung Han tersenyum penuh arti. Ryung Seok menarik Kyung Han dan mengajak yang lainnya untuk segera pergi ke Gereja. "Sarapan di sini saja, Kak. Belum terlambat, kan," ajak Yumna. "Aku masaknya kebanyakan. Kalau makan sendirian, nggak bakalan habis," lanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD