Mencoba sadar

1006 Words
"Tak perlu kau pertanyakan bagaimana aku mendapatkan tanda tanganmu, yang jelas saat ini kamu harus terima kenyataan bahwa dia adalah adik madumu...! satu lagi perlu kamu ingat, kamu tak ada alasan untuk menolaknya, toh selama pernikahan kita kamu juga belum bisa memberikanku anak...!" jawab suaminya enteng. "Jangan pula kamu akan mengarang cerita bahwa aku melarang untuk hamil dan menyuruhmu untuk menggunakan alat kontrasepsi...!"lanjutan perkataan dari Arga benar-benar membuat asih melotot tak percaya. "Tapi bukannya memang itu yang kamu lakukan Mas? bukankah selama ini memang dirimu yang tidak menginginkan aku mengandung? kamu berkata jika kamu belum siap untuk menjadi ayah, lalu apa ini mas? kamu bawa dia dengan alasan bahwa aku belum hamil dan belum bisa memberikanmu anak?" kata asih membela diri. "Sudahlah tak perlu lagi di bahas, toh kenyataannya kamu memang belum hamil kan? dasar mandul...!" Kata Bu Reni yang lagi-lagi menghina Asih dengan kata-kata menyakitkan. "Aku capek sih, aku mau istirahat...!" kata Arga tak mau lagi membahas lebih lanjut. Ingin sekali asih protes dan hendak mengehentikan suaminya supaya menyelesaikan semuanya terlebih dulu, namun seperti biasa suara asih tak akan pernah di dengarkan oleh mereka. Asih semakin tak percaya saat dengan sengaja Arga merangkul mesra pundak Nadira. "Maafkan aku ya mbak? si dedek utun Ndak bisa jauh dari papanya, maunya di temenin terus, lagian kata bidan yang memeriksa akan lebih bagus jika sering di tengok dedeknya di usia kehamilan matang ini, katanya agar mudah saat melahirkan nanti...!" Kata Cantika sambil terkekeh. "Dasar jalang, tak punya tata Krama...!" batin asih namun sama sekali tak menanggapi ucapan Nadira yang katanya adalah madunya itu. "Oh ya mbak, tolong buatin aku masakan ya? aku laper banget rasanya, aku mau mandi dulu...!" kata Nadira tak tahu malu. "What...? nggak salah? aku di jadikan babu di rumahku sendiri? sinting...!" umpatnya dalam hati. Saat mendapati Asih tak menanggapi ucapan Nadira, Ibu Reni dan juga Cantika naik pitam, bahkan Arga pun ikut menghardiknya. "Kamu itu kenapa sih asih? apa salahnya kamu membantu adik madumu?" kata Arga tak berperasaan. "Heh Asih, kamu budeg? nggak bisa dengar apa yang di katakan Nadira?" hardik Bu Reni. "Baik Bu...!" tanpa menjawab dan memperdulikan Nadira maupun Arga Asih menuju dapur untuk membuatkan masakan seluruh keluarga. "Enak saja main suruh-suruh...! baiklah aku akan membuat masakan istimewa untuk kalian semua...!" Asih berniat untuk mengerjai seisi rumah. Alam pun seakan tengah mendukungnya, di kulkas hanya ada sayur pare dan daun pepaya, dua sayuran yang sama-sama pahit rasanya, sepahit rasa hatinya saat ini. Dengan cekatan asih mengeksekusi dua sayuran tersebut, dengan berdendang ria serta membayangkan yang akan terjadi dia memasak sesuai perintah otaknya. Pedas asin dan manis yang berlebihan menjadi pilihannya saat ini."Terimalah pada pertama dariku...! dasar tak tahu diri...!" Asih pun segera menyiapkan semuanya di atas meja, setelahnya dia pun berlalu menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam. Di dalam kamar dia tertawa dengan pipi yang basah oleh air mata, Ia mentertawakan dirinya sendiri yang dengan begitu mudahnya di bodohi oleh satu anggota keluarga. "Asih... asih, malang nian nasibmu, sudahlah tidak mendapatkan pertanggung jawaban yang layak dari suami, dikhianati pula, kamu memang bodohbmaksimal...!" katanya pada dirinya sendiri. Asih kemudian berjalan menuju meja rias, ditatapnya wajahnya sendiri di hadapan cermin, wajah yang mulai keriput padahal usia yang baru menginjak 25, kulit kusam rambut yang terlihat kusam pula. Terlihat sekali di sana bahwa dia selama ini tidak memperhatikan dirinya sendiri. "Apa yang kamu cari? kehidupan seperti inikah yang kamu harapkan? tak sayang kah kamu pada dirimu diri sendiri? untuk apa Asih? demi apa coba? cukup sudah kebodohanmu, jangan tambah lagi dengan kebodohan yang lain...!" Gumam Asih pada bayangannya di cermin. Asih lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju lemari kecil yang ada di pojok kanan sebelah lemari besar, lemari yang sama sekali tak pernah dibukanya. Ditatapnya kembali isi di dalam lemari itu, isi yang sama sekali tak pernah disentuhnya sejak dia tenggelam dalam kesibukannya sebagai istri Arga dan menantu dari Ibu Reni. Wajah kulit dan rambut yang dulu senantiasa dirawatnya kini terbengkalai oleh karena kesibukan itu, diambilnya lagi semua peralatan itu kemudian dia mencari tanggal expired yang ada di dalamnya. "lumayan, masih satu bulan lagi..!" setelah mendapati expired yang masih jauh ia pun segera menuju kamar mandi mengambil salah satu alatnya. Asih benar-benar memanjakan dirinya saat ini, tak dipedulikannya teriakan teriakan keras dari luar kamarnya, umpatan-umpatan yang keluar dari mulut semua anggota keluarga itu dianggapnya sebuah dendang lagu yang sangat merdu di telinganya. Tak lama terdengar suara gedoran di pintu kamarnya, namun ia masih tetap cuek dan tak memperdulikannya. "Bodoooo...!" jawab Asih cuek. Semakin lama semakin tak terdengar suara gedoran pintu itu, dan itu membuat Asih sedikit merasa lega, lanjutkannya kembali memoleskan cream yang selama ini tak pernah digunakannya. Sekarang Asih merasa tak hanya tubuhnya saja yang segar melainkan kulit dan juga rambutnya terasa ringan dan bersih. Asih menuju lemari dan memandang isinya, hatinya kembali merasa miris, potongan-potongan baju yang ada di sana ternyata sudah tak layak pakai namun entah mengapa selama ini dia tidak menyadarinya. kemudian pandangan Asih tertuju pada tumpukan baju yang paling atas, di sana tersimpan baju-baju Asih yang dulu digunakannya untuk bekerja masih aktif mengurus usahanya, usaha keluarga lebih tepatnya. Asih mengambil salah satu baju yang di rasanya paling sederhana, kasih rencana untuk keluar untuk merefreshkan otaknya, Ia merasa tak perlu untuk meminta izin kepada suaminya karena sang suami sudah pun ingkar dengan janji pernikahan mereka. Asih keluar dari kamarnya kemudian mengunci kembali kamarnya tersebut, iya melenggang melewati meja makan yang di sana masih terdapat semuanya berada di sana. "Dasar mantu gak guna, apa yang kamu masak ini? kamu kira masakan seperti ini bisa di makan?" Umpat Ibu Reni dengan melempar tumis pare ke arah Suci. Suci reflek menghindar dari lemparan tersebut dan apesnya lagi, justru tumis pare itubmalah mengenai Ibu hamil yang ada di sana. "Bu, kenapa malah aku yang di lempar sih?" protes Nadira. "Maaass, Ibu...!" kata Nadira manja sambil menunjuk ke arah mertuanya. Saat semua tengah heboh dengan sumpah serapah yang bersahutan, Arga justru terpaku pandangannya kepada Asih, Istri dekilnya selama ini kini berubah menjadi cantik dan segar, kecantikan yang di pancarkan benar-benar berkali-kali lipat dari biasanya. "Cantik...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD