Bab 12.

1085 Words
“Bagaimana saat ini selalu saja diri melakukan nya satu sama lain nya, jangan memaksa kan apa yang sudah di lakukan diri ini menjalankan diri ini melakukan yang terbaik satu sama lain nya. Tidak ada yang bisa dia sadarkan satu sama lain nya di sisi lain nya.”   “Hm... mas apa kau tidak bahagia saat ini.”   “Maksud nya bagaimana?”   “Iya sudah jangan di bahas lagi sekarang kita akan melancarkan rencana Renata saja, jangan merasa ada sebuah di inginkan satu sama lain nya di sisi lain nya kita akan terus berjuang juga.”   “Oke baiklah, sekarang kita berikan waktu untuk satu jam lagi akan dia lakukan untuk mendapatkan nya yang terbaik.” Ucap Rania kepada Fajar yang sudah tidak menentu lagi saat ini.     “Sekarang kau mau apa?”   “Maksud mas bagaimana? Aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan saat ini, di dalam perjuanganku untuk mendapatkan yang terbaik untuk diri ini adalah sebuah kenyataan yang nyata saja. Di sisi lain aku sudah berusaha menjadi yang terbaik tetapi.”   “Tetapi apa? Aku di sini hanya mau menganggap semua nya bisa menjadi adil dalam kehidupanku.”   “Iya, aku juga tahu kau masih belum menerima aku menjadi istri keduamu tetapi aku berusaha menjadikan diri aku sebagai istri yang sangat di berikan kemudahan kedepan nya.” Ucap Rania kepada Fajar yang langsung tertunduk memandangi wajah Rania.   “Hm... aku juga sudah berusaha untuk menjalani semampu aku , tetapi aku masih belum bisa menerima nya sampai detik ada yang lebih penting! Yaitu kekuatan keingin Renata kepada kita berdua untuk mendapatkan anak yang di inginkan nya sampai aku paham perjuangan dia tidak lah mudah.” Jelas Fajar dengan wajah yang sangat serius di lihat saat ini.   “Maaf aku mas.”   “Untuk apa minta maaf? Di sini aku juga bersalah karena tidak bisa menerima kau menjadi istriku. Katakan kepadaku kalau memang kau belum siap menjadi istri.” “Aku tidak mau mengecewakan hal tersebut dan aku melakukan nya karena untuk membahagiakan Renata sampai detik ini hanya dia yang aku banggakan satu sama lain nya diri ini.” Ucap Rania kepada Fajar yang terdiam dan tertunduk juga saat ini.   Fajar lalu terdiam sejenak dan dia tidak bisa melakukan apa pun sampai saat ini di dalam perjuangan hidup istri nya menjadi suram ketika dia meluhat perjuangan nya sampai detik ini tidak bisa dia raih lagi satu sama lain.   “Huft... mungkin aku salah telah mengiyakan apa yang sudah di katakan Renata yanng berusaha untuk mendapatkan yang tebaik satu sama lain menjadikan diri ini semakin yakin kalau tidak ada yang bisa menggantikan persaan kepada Renata.” Ucap Fajar kepada Rania.   “Memang aku tidak bisa menggantikan sosok Renata di dalam hidup Mas Fajar, tetapi aku ingin memberikan kebahagiaan itu untuk Renata yang sangat di idamkan nya. Jika memang setelah aku di nyatakan hamil aku sangat bahagia kalau aku sudah berhasil memberikan itu semua nya kepada Renata sahabatku.” Ucap Rania yang begitu mendalam satu sama lain nya.   “Aku sangat berterima kasih kepada kau.”   “Iya, aku juga berterima kasih kepada kalian berdua untuk menjaminkan hidupku dan melakukan apa yang aku ingin dengan sebaik mungkin jiga, di sisi lain aku berharap tidak ada yang bisa di jadikan patokan pada diri ini semakin yakin.”     “Rania, apakah kau mau melakukan sandiwara ini sampai kau inginkan, aku tidak mau melihat Renata selalu bersedih melihat kita tidak pernah akur menjalankan rumah tangga.” Ucap Fajar kepada Rania yang semakin yakin kalau diri nya untuk melakukan yang terbaik.   Rania terkejut dengan pernyataan yang di berikan oleh Fajar saat ini tidak ada yang bisa di jadikan pada diri nya untuk melakukan yang terbaik satu sama lain nya.   “Hm... baiklah aku akan melakukan apa yang membuat Renata bahagia, karena dia lah yang menjaminkan hidup nya untuk diriku sekarang juga.” Ucap Rania kepada Fajar dia merasa kalau diri nya masih tidak ada arti di dalam hidup nya.   “Terima kasih sudah mau bekerja sama kepadaku.”   “Baiklah, aku melakukan nya demi sahabatku!” Ucap Rania kepada Fajar. Pelayan itu langsung datang memberikan tahu kalau jam makan malam nya sudah berakhir begitu saja, tidak ada yang bisa di lakukan lagi selain mengikhlaskan diri ini semakin yakin untuk berjuang satu sama lain.   “Rania, Pelayan itu mengatakan kalau kita sudah selesai.”   “Ooo... iya, kalau begitu kita akan bersiap pulang.”   “Tunggu! Kau malam ini sangat tidak biasa nya, begitu cantik kau mengenakan gaun tersebut.” Ucap Fajar yang langsung memuji nya.   Rania tersipu malu dan membuat diri nya salah tingkah, lalu dia berkata. “Ini semua pilihan dari Renata semua nya, jadi kau lebih baik memuji dia yang sangat pintar memilih nya.”     “Oo... ini semua dia yang merancang, soal nya dia yang melakukan nya sampai pakaian malam ini dia yang menentukan nya. Dan aku juga suka apa yang dia pilihkan untuk saat ini.”   “Memang dia begitu sangat berarti di dalam hidup kita ini sekarang.”   Untuk pertama kali nya Fajar tersenyum kepada Rania, saat itu wanita tersebut begitu terkejut dan terbuai dengan senyuman itu. Entah Fajar masih mersakan kesemaan di antara lain nya di sisi lain nya di sini.     Setelah makan malam itu Rania dan Fajar sudah pulang dan sampai di rumah nya. Renata dari dalam rumah melihat mereka berdua berjalan dan melakukan apa pun demi mendapatkan yang terbaik satu sama lain nya di sisi lain semua nya bisa di jadikan diri ini akan sebuah keberuntungan pada diri nya satu sama lain nya.   “Akhir nya aku melihat kebersamaan mereka berdua dan tidak di sangka semua nya bisa berjalan dengan lancar tanpa memikirkan satu sama lain nya di sisi lain hanya dia yang bisa kita lalu demi mendapatkan hal yang baru.”   Renata langsung saja berpura-pura tidur dan tidak mau menemui mereka terlebih dulu menurut nya dia akan membuat semua nya bisa saja gagal dalam sebuah kenyataan ini sampai mendapatkan yang terbaik satu sama lain nya lagi.   Tok... Tok... Renata mendengarkan ketukan pintu ternyata Fajar yang sedang menghampiri nya saat itu juga.”   “Sayang... apa kah kau sudah tidur sekarang?”   Fajar langsung mengelus kepala nya dan dia menganggap Renata sedang tidur dan pria tersebut tidak mau mengganggu nya saat ini.   Di dalam hati nya berkata dengan tenang kalau diri nya semakin yakin kalau semua nya akan berjalan begitu saja dengan lancar.   “Mungkin dia sedang tidur aku tidak mau mengganggu nya saat ini. Apa aku tidur di dalam kamar Rania saja agar menampakan kalau diri nya tidak terbangun.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD