Cinta Dalam Hati

1242 Words
Tepat sekali Dyenn datang saat Letty mengalami hal buruk yang tidak bisa diucapkan ke siapapun. Letty malu dengan kejadian yang menimpanya. Bagaimana mungkin kesucian yang selama ini dia jaga justru direnggut oleh orang tidak dikenal. Apakah seburuk ini nasibnya? Tak ada sedikit pun hal baik tersisa. Setelah memesan makanan, Dyenn dan Letty menunggu pelayan menyiapkan pesanan. Mereka berbincang banyak hal dan kemudian pelayan pun datang menyajikan aneka makanan serta minuman yang sudah dipesan. Dyenn dan Letty menyantap makanan itu bersama. Setelah beberapa suapan, Dyenn melihat kalau raut wajah Letty berubah seakan sedih. “Hey, kenapa muram?” tanya Dyenn yang duduk berhadapan dengan Letty. “Tidak apa-apa. Hanya sedang kurang fit ....” ujar Letty berbohong. Padahal dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, terutama bagian pinggul ke bawah. Namun rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya. Bagaimana mungkin lelaki yang menodainya tidak peduli sama sekali dan justru mengusirnya begitu saja? Banyak pertanyaan di pikiran Letty yang sama sekali tidak terjawab. Bahkan nama lelaki itu pun dia tak tahu, apalagi soal kenapa dia bisa bersama lelaki itu. “Kalau begitu, setelah makan aku antar kamu periksa ke klinik, ya?” Dyenn masih seperti yang dahulu begitu perhatian pada Letty. “Terima kasih, Dyenn. Aku Cuma butuh istirahat. Tidak perlu ke klinik,” ujar Letty yang jelas takut kalau ke klinik bisa saja dia ketahuan mengalami pelecehan atau baru saja kehilangan kesuciannya. “Ya, deh. Kalau begitu nanti aku ke apotek membeli beberapa vitamin untukmu. Ayo lanjut makan dan habiskan.” Senyum di wajah Dyenn sangat teduh membuat Letty sejenak bisa meredam amarah dan rasa bersalahnya. Dia merasa kalau kawan sekaligus orang yang dia anggap sebagai saudara ini paling mengerti kondisi hatinya. Namun Letty belum berani menceritakan kejadian malang yang menimpa dirinya. Dia takut kalau Dyenn akan berbuat nekat mencari lelaki kurang ajar itu. Cinta dalam hati Dyenn mungkin belum diucapkan, tetapi semua terlihat nyata. Nyata dalam benak Dyenn dan penglihatan lelaki itu kalau Letty saat ini sudah ia temukan dan dalam kondisi sehat. Sedangkan di tempat lain, Mr. Kim sudah sampai kantor dan tidak mendapati Dyenn di sana. Dia pun memeriksa ponsel dan ternyata ada satu pesan dari asistennya itu untuk izin datang terlambat karena menemani kawannya yang sakit membeli obat. Mr. Kim tidak mempermasalahkan hal itu karena kinerja Dyenn bagus dan sudah membantu saat tadi malam Hana mencarinya juga. “Mr. Kim, selamat siang,” sapa para karyawan satu per satu saat lelaki tampan dan berwibawa itu masuk ke gedung kantor miliknya. “Iya, selamat siang juga. Kerja yang bagus!” jawabnya selalu memberi semangat pada orang lain, meski kenyataan tidak ada yang menyemangati hidupnya. Mr. Kim segera menuju ke ruangannya untuk menenangkan pikiran. Dia masih teringat wajah perempuan tadi pagi yang marah dan ketus padanya. Meski dia sudah berbaik hati memberikan cek sejumlah uang, justru perempuan bernama Letty itu menyobek cek tersebut. Ada rasa amarah sekaligus bersalah di benak Mr. Kim yang tak bisa diungkapkan. Dia marah karena Letty menyobek cek dan melemparkan ke arahnya yang berarti mempermalukan dirinya, tetapi dia juga merasa bersalah sudah m*****i perempuan yang bekerja sebagai waiters dalam event tadi malam. “Oh, benar! Aku harus menghubungi pihak event organizer yang menyediakan makanan dan minuman. Pasti mereka tahu siapa Letty. Aku akan mencari informasi perempuan itu,” gumam Mr. Kim yang awalnya ingin mengetahui tentang Letty. Sebagai orang yang sibuk dan bisnis man, tentu saja Mr. Kim banyak kegiatan dan mempelajari beberapa proposal program dan hal kerja sama yang masuk. Ini jelas membuat dirinya lupa akan tujuan mencari tahu tentang Letty. Jam pun berganti dengan cepat. Tepat pukul satu siang, Dyenn datang ke kantor dan masuk ke ruangan Mr. Kim dengan mengetuk pintu sebelumnya. “Ya, masuk!” ujar Mr. Kim mempersilakan karena tahu itu pasti Dyenn. “Maaf Mr. Kim kalau saya datang terlalu siang. Jika hendak dianggap libur pun tak masalah,” kata Dyenn sambil membungkukkan tubuhnya meminta maaf. “Iya, tak apa. Oh iya, bagaimana soal laporan hasil pembukaan kemarin? Semua berjalan lancar?” tanya Mr. Kim langsung membahas pekerjaan. “Iya, Tuan. Semua berjalan dengan baik. Email laporan keuangan pun sudah dikirim. Saya akan segera siapkan lampirannya,” jawab Dyenn secara profesional. “Baiklah. Terima kasih. Oh iya, cari nomor pengelola event organizer tadi malam, lebih tepatnya bagian food and beverage,” perintah Mr. Kim yang terasa aneh bagi Dyenn karena tidak seperti biasanya bos memerintahkan hal yang seperti itu. “Baik, Tuan. Segera saya cari dan siapkan.” Dyenn sama sekali tidak tahu kalau bidadari cantik yang baru saja dia antar kembali ke apartemen kecil itu mengalami hal buruk. Meski vitamin dan obat Dyenn belikan untuk Letty, tetap saja hati kecil perempuan itu tersayat-sayat. Mr. Kim juga merasa hal ini sangat aneh dan ingin menyelidiki lebih lanjut dengan bantuan beberapa bodyguard yang seharusnya selalu ikut ke mana pun dia pergi. Orang tua Mr. Kim sudah menyewa bodyguard untuk melindungi putranya, tetapi justru Mr. Kim sendiri yang menolak dan tidak menginginkan hal itu. Padahal kedua orang tua Mr. Kim sangat khawatir kalau ada hal buruk terjadi karena pesaing bisnis belakangan ini makin tidak sehat. “Dyenn,” panggil Mr. Kim membuat lelaki itu menengok kembali ke belakang. “Ya, Tuan,” jawab Dyenn yang mendekat kembali ke arah Mr. Kim. “Apakah Hana mencurigai sesuatu atau merasa sesuatu seusai pesta selesai tadi malam?” tanya Mr. Kim yang masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya menimpa pada dirinya. “Tidak, Tuan. Hanya saja ada yang aneh dengan Tuan Suho saat melihat saya mengantarkan Nona Hana pulang. Tuan, lebih baik Tuan pikirkan kembali soal tawaran bodyguard. Tuan memerlukan untuk perlindungan diri Tuan sendiri,” kata Dyenn yang membuat Mr. Kim makin yakin kejadian tadi malam ada sangkut pautnya dengan Suho. Meski feeling berkata demikian, tidak bisa dalam nyata langsung saja menuduh tanpa bukti. Bisa-bisa dijatuhkan pasal pencemaran nama baik dan tuduhan tanpa bukti. Mr. Kim harus mencari tahu apa yang terjadi dan dia setuju dengan ide Dyenn. “Baiklah, katakan kepada para bodyguard yang dahulu Papa Mamaku kirim untuk bekerja mulai saat ini. Dyenn, terima kasih menjadi asisten pribadi, sahabat, sekaligus saudara yang terbaik bagiku.” Mr. Kim memang sangat cocok dengan Dyenn. Meski ada ribuan pegawai lainnya, tetap saja Mr. Kim tertarik dengan Dyenn yang menjadi kaki tangannya. “Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan.” Dyenn pun menutup ruangan bosnya yang berhasil membuat dirinya hampir jengah. Dia sama sekali heran dengan pemikiran bosnya yang sejak dahulu menolak adanya bodyguard karena dianggap mengusik ketenangan pribadi serta justru akan makin banyak rumor atau gosip yang beredar. Saat ini, untungnya Mr. Kim mau menggunakan jasa bodyguard agar privasi lebih aman dan terjamin. “Apakah semalam terjadi sesuatu hal buruk pada Mr. Kim? Sepertinya ada hal serius yang menimpa bos hingga seperti ini. Ah, harusnya aku tidak melepaskan pandangan dari bos saat menghadiri acara besar,” batin Dyenn yang menerka apa sebenarnya yang menimpa Mr. Kim semalam saat acara peresmian. Dyenn tidak tahu kalau tadi malam Mr. Kim melakukan hal yang mengubah hidup sahabatnya-Letty. Letty yang selalu ingin Dyenn jaga. Letty yang sejak kecil sudah membuat jantung Dyenn berdebar kencang. Entah karena kagum atau cinta yang sebenarnya. Dyenn tidak tahu persis perasaan indah dan manis itu harus dijabarkan dengan kata-kata seperti apa. Saat Dyenn melihat wajah Letty, dunia terasa berhenti berputar dan waktu tidak lagi berdetak. Seketika keindahan dan kebahagiaan menerpa dan disaat yang sama juga ketakutan dan kekhawatiran muncul. Bahagia melihat Letty nan indah, ketakutan karena khawatir ada hal buruk menimpa makhluk seindah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD