Liam Knows

1591 Words

Melewati lorong rumah sakit yang tak sepi, Liam berniat untuk pulang setelah ia mengecek segala sesuatu yang ia khawatirkan mengenai penyakit menular seksual, HIV, tingkat kesuburan benih-benih penerusnya yang ternyata aman-aman saja dan membuat dirinya lega. Namun tak sampai di situ saja, karena Isyana ternyata masih berada di lobi dan terlihat menatapnya dengan kesedihan yang begitu kentara dari mata yang dulu … pernah menyorotkan tatap indah tanpa air mata. Mengembuskan napas panjang, Liam tahu ini tak mudah. Namun ia akan menyapa hanya sewajarnya mengingat kedekatan mereka yang pernah terjalin sebelumnya. “Hai!” Sapa Liam dengan senyum tipis. “Hai!” Balas Isyana dengan hal yang sama namun dengan siluet getir di rautnya. “Apa kabar?” Tanya Liam mencoba berbasa-basi. Sedikit. “Kamu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD