Ting!!!
Sebuah pesan notifikasi masuk "Kumpul di depan gerbang skul" to NiZAR group.
Aniez membuka ponselnya sambil berjalan.
Tiba2...... gedubrak!!!
" Kamu gak apa2? tanya sebuah suara.
" Eh..... gak apa2. Maaf salah saya tadi gak perhatikan jalan". jawab Aniez sambil menoleh ke arah sumber suara.
" Yakin gak apa?. Adalah Pak Andi. Satpam muda yg baru di sekolah kami. Yg masih keponakan Pak Umar, satpam asli sekolah kami yg kebetulan baru mengajukan pensiun.
" Maaf ya...... saya satpam baru disini. Pak Andi yg memang blom memakai seragam satpam, tapi memakai baju batik membuat kami tidak tahu kalo satpam sekolah sudah diganti.
" Gak papa koq. Saya Aniez dari tingkat dua. salam kenal.... Ehmmmmmm..... Bapak koq mau sih jadi satpam disini? selidik Anies penuh curiga.
" Kenapa? gak boleh kah? Apa karena saya masih muda jadi gak pantes gitu. jawab Pak Andi.
" Menghawatirkan! Bapak masih muda, tampang lumayan, sementara murid disini hampir semua wanita. Entah kekacauan apa yg bakalan terjadi.
" Kamu kayak peramal aja, menyimpulkan yg akan terjadi". Kata Pak Andi sembari tersenyum lebar menunjukkan lesung di kedua pipinya.
Aniez terkesima melihat senyumnya. " Busyet...... ini orang kalo senyum manis banget". teriaknya dalam hati.
Pak Andi dengan perawakannya yg tinggi, kulit sawo matang namun terlihat bersih terawat, rahangnya yg tegas, dan mata coklatnya yg tajam, siapa yg tidak akan terkesima apalagi ketika dia menunjukkan senyum lesung pipinya. Usianya yg masih terbilang cukup muda, 23 tahun. Berada di tengah siswi SMK memanglah cukup menghawatirkan.
.......
"Morning beb...... suara khas itu selalu mengisi pagi hari q. Menambah semangat memulai aktifitas sekolah q. Yup...... itulah Zaein yg telah resmi jadi penjaga hati q untuk saat ini.
" Pagi ! balas q.
Sengaja q melarang dia jemput ke rumah, karna bisa panjang urusannya sama Bunda Ahmad, mama q.
" Motor kamu ke mana beb? tanya q cos tumben aja dia gak pake motor sport nya.
" Dipinjem temen buat touring. Kamu gak suka q jemput pake ini? Zaein balas bertanya.
" Bukan! cuman nanya aja. Kamu kenapa gak ikut touring?
" Lagi gak minat. Q gak mau jauh dari kamu. Kapan2 kamu mau gak ikut touring bareng sama q?
" Boleh...... kalo kamu berani. jawab q sembari tersenyum penuh arti.
" Berani apa? Zaein penasaran.
" Berani menghadap Bunda Ahmad.
" Emang Bunda kamu galak ya...... ato makan orang? Kenapa q harus gak berani?
" Bunda q gak galak sama anak orang Laen, tp kalo sama anaknya sendiri cerewet banget. Mungkin karna saking sayangnya. Kalo kamu bisa dapetin ijinnya..... berarti kamu hebat.
" Ato...... q bawa kabur aja anaknya. Katanya sambil menatap penuh arti.
Q balas menatapnya tajam.
" Apa kamu pikir q akan lari bersamamu? Mengambil jalan yang salah dengan mengatasnamakan cinta itu bukanlah cinta. Q harap kamu belajar berdamai dengan bunda q. Q gak mau bikin Bunda q sedih.
" Jadi.....cuma sebesar itu cintamu pada q? suara Zain lirih nyaris tak terdengar.
" Bagaimana denganmu? Sebesar apa cintamu pada q?. q hanya iseng bertanya.
" Q bisa melakukan apapun untukmu, bahkan bisa pergi meninggalkan semuanya untuk membelamu". kata2 manis yang q dengar dari mulut Zaein.
" Itu namanya cinta buta, cinta gila. Q gak boleh ikut gila. Setidaknya harus ada salah satu dari kita yang masih sadar. Oke! pinta q padanya.
" Oke beb!!! jawab Zaein.
" Tenang aja q gak akan ngelakuin hal2 yang bikin kamu sedih. Kita jalanin dan nikmatin aja masa2 ini dengan baik. Jangan ada beban.
Percakapan panjang itu akhirnya berakhir coz kami dah sampai di depan gerbang sekolah.
..........
Baru turun dari motor q udah disambut senyuman tiga sohib centil nan berisik q. "Ehm.... Ehm..... masih ingat kan jalan ke sekolah. Jangan kebablasan ke sebelah ya....! goda Aniez.
"Kamu ngapain bareng cowok rese sebelah? Ketemu di mn? selidik Ningrum. Dia emang orang yg paling polos jg paling perhatian diantara kami.
"Udah jadian sama yang di belakang? tanya Ratu sembari ekor matanya melihat ke arah Zaein yg ternyata ikut menyusul di belakang.
Q mengalihkan pandangan ke belakang. "Kenapa dia ikut kesini? ' batin q dalam hati. Zaein tiba2saja mendekat dan mengalungkan sebelah tangannya di leher q.
"Hai..... perkenalkan secara resmi q pacar Zalea. Q rasa semuanya sudah tau siapa nama q". ucap Zaein di depan sohib q, sambil menatap tajam ke arah Pak Andi seolah2 mengisyaratkan hak kepemilikan.
"Nanti sore kita jalan, jangan lupa ya....." sambung Zaein.
"Nggak bisa...... ntar siang sampai sore kita ada janji buat cari bahan untuk materi praktek, terus dilanjut pembahasan pengerjaan tahap awal. Lo mau bawa Zalea kabur?" Protes Aniez.
"Tugas ini penting buat kita loh Za.... jangan sampai Lo entengin". kata Ningrum.
"Beb.....q dah janji sama temen2 buat kenalin kamu ke mereka, kamu gak mungkin gak ikut q kan? tanya Zaein dengan tatapan tajam tak ingin ditolak.
"Orang yang bertanggung jawab itu yang dipegang kata2nya. Lo sudah janjian duluan sama kita". Aniez menuntut.
"Beb..... ini juga hal penting buat q. Buat nunjukin kalo q gak lagi maen2. Q serius. Mereka biar jadi saksi". Zaein berusaha meyakinkan.
" Sekolah itu penting loh, buat masa depan kamu. Jadi harus tau mana yang harus diprioritaskan. oke! . Ningrum juga ikut bicara.
" Urusan kita juga penting kan Beb". balas Zaein.
Q bingung mesti jawab apa. Mulai ada dilema antara cowok q ato sohib q, keduanya sangat penting buat q. Tapi ternyata malah gak bisa akur. Mungkin karena banyak kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.
"Zalea...... daripada Lo bingung milih, gak perlu milih, satuin aja semuanya. Mau mereka akur ato tetep bertengkar terserah, toh lama2 juga bakal berdamai demi Lo". kata Ratu tanpa mengalihka pandangannya dari sang handphone, yang kalo dipikir ada benarnya jg.
"Oke..... Zaein sore ini tunggu q di kedai bakso pak kumis, setelah q selesai mencari bahan q akan kesana".
" Setelah q menemui teman2 Zaein kita lanjutkan kesibuka kita. Bagaimana teman2?". akhirnya q mengusulkan dan di iyakan oleh semuanya.
Ternyata......
saat Ratu mengutarakan pendapatnya ada seseorang yang diam2 memperhatikan dan tersenyum. Dialah Pak Andi, satpam kami yang tampan. Hal itu tak luput dari pandangan Zaein yang mengira kalo pak Andi tersenyum karena diriku. Membuat Zaein menarik lengan q agar lebih dekat padanya tanpa melepas satu lengannya yang lain yang masih setia melingkar di leher q. Q hanya bisa tersenyum diam2 bahagia karena kelakuan Zaein.
Bel tanda masuk berbunyi. Akhirnya kami bubar dan kembali ke sekolah dan ke kelas masing2.