Part 6 (Pagi yang indah)

844 Words
“Saya paham, kamu (masa lalu) akan selalu dating kapan saja, dan kenapa harus saat, Aku (di masa                                                          depan) sedang berusaha untuk bangkit.”                                                                           CaS AFM   Author POV Pagi ini mereka bersiap untuk berangkat. Ziqri menggunakan kemeja tetapi belum menggunakan dasi. Terbalik dengan tarisa dia sudah siap. "Pak ayo nanti kita terlambat" "Tolong pakaikan saya dasi ini" "Hah" "Kamu ga bisa ya udah" "Bisa ko" Jantung tarisa tak karuan dia sangat deg degan. Sampai akhirnya dasi itu terpasang dengan rapi tarisa dan ziqri pergi ke tempat meeting. "Good morning Mr Lee, sorry I am late" "No problem" "Kita mulai saja presentasi nya"   Merekapun memulai untuk meeting. Sampai akhirnya 2 jam berlalu Mr Lee pun pergi dari tempat itu. Tarisa menghela nafasnya. Ini sangat melelahkan. "Butuh jalan-jalan?" "Banget" "Ok my pleasure" Ziqri mengedipkan matanya. Mereka berjalan keluar cafe tersebut. Jalanan lumayan lenggang disini lebih banyak orang berjalan kaki dibandingkan naik mobil atau motor. Ada juga sebagian mengayuh sepeda. "Kamu mau belanja?" "Boleh" Tarisa dan ziqri pergi ke tempat oleh oleh. Sebenarnya masih banyak waktu tapi mengingat mereka akan sibuk untuk beberapa hari kedepan ziqri memutuskan untuk membeli oleh-oleh sekarang. Ziqri melihat bando rotan dengan bunga yang mengelilingi bando tersebut. Dia tertarik dan membeli bando tersebut. Selesai belanja mereka pergi ke pantai. Tentu Kuta sudah pasti jadi pilihan. "Mau liat sunse?t" "Iya nanti foto-foto ya di sana" " Terserah" Tarisa sudah berlari kesana-kemari menikmati air pantai tersebut. Ziqri hanya memperhatikan kemudian menarik nya ke tempat makan. "Makan dulu, kamu belum makan dari siang" "Eh iya lupa" "Bocah Emang" "Ko situ mau sama bocah" "Sekarang mah udah ga mau ko" Tarisa hanya diam, entah aga nyesek mendengarnya. Itu yang dirasakan tarisa tapi dia harus tetap tegar. "Dimakan!" "Iya" Tarisa memakan makanannya dengan sangat tidak berselera. Tidak banyak para pria mengerti bahwa perempuan itu makhluk yang sangat sensitif dengan kadar yang sangat tinggi. Jadi walaupun kalian bilang becanda tapi mereka akan menganggapnya dengan serius. Dan makan hati sendiri. Jadi kalau kalian bicara yang tidak menyenangkan walau becanda kalian harus langsung meminta maaf atau memberikan pujian. "Ko dikit, ga laper emang?" "Kenyang" "Yaudah terserah" "Sebentar lagi matahari akan terbenam saya mau liat sunset dulu" "Ayoo" Ziqri pun mengikuti Tarisa. "Wahhh bagus banget" "Indahan juga yang didepan saya" "Laut?" "Kamu." Percayalah ketika wanita mengelak saat di gombalin sebenernya mereka sangat kegirangan. Jadi jangan berpikir bahwa gombalan kalian terlalu receh yah. "Ca tuh sunset nya mau abis" Tarisa memejamkan matanya, dalam hati dia merapalkan doa yang selalu dia ucapkan setiap waktu. "Tutup mata Ca dan liat ke arah sana," Tarisa menutup matanya lalu merasakan seseorang memakaikannya bando kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dengan wajah pria itu di taruh di bahunya. Ini Ziqri ? Si CEO dingin dan ga berperasaan. Bisa seromantis ini. "Kamu itu kaya sunset, kamu sangat indah salah satu ciptaan Tuhan yang terbaik. Aku rela menunggu walau aku tau akhirnya kamu akan meninggalkan ku" "Kamu itu kaya sunrise. Matahari yang memerangi kegelapan membiarkan aku melihat dengan jelas bahwa kamu sebegitu sempurna, memberikan waktu yang sangat lama sampai aku terlena dan tidak menyadari bahwa malam akan tiba dan semua akan menjadi gelap kembali" Author POV Seminggu berlalu, mereka semakin akrab dan semakin terlihat seperti sepasang kekasih seperti sekarang ini. "Ca ganti bajunya itu kependekan" "Ini itu masih sopan ko" "Ganti gak!" "Gak!" "Yaudah ga usah kelur!” Ziqri benar benar mendiaminya. Dan memilih bermain game sebenernya bisa saja Tarisa pergi sendiri jika ruang kamar ini tidak dikunci dan tau sendiri ziqri tidak akan mengalah. Dia sangat posesif. Entah atas dasar apa.  Dengan segala bujuk rayu, akhirnya Ziqri mengangguk dengan sangat terpaksa karena tarisa memohon dengan mata anak anjing yang akan menangis. "Berjemur disini tidak buruk juga" "Iya bisa cuci mata kan" ucap ziqri sambil memicingkan matanya. "Iyalah, lagian Bapak juga kan bisa lihat bule cantik and sexy seneng kan. Dasar jelalatan" Ziqri hanya memasang wajah tanpa minat. Mereka sedang  memakai sunblock. "Terserah, jangan kemana-mana, saya  ingin membeli es kelapa,” ujar Ziqri dengan nada mengancam. Tarisa hanya mengangguk. Satu jam berlalu, sepertinya Ziqri tersesat, dia tidak menunjukkan batang hidungnya. Tarisa yang berjemur pun sudah merasa kegosongan. "Hey sweety are you alone?" "No, i am with my friend" "Where your friends, don't try liar to me" "No i am sure" "What do play with me" "No thanks pliss go away " "No" Tarisa yang merasa terganggu pun akhirnya mencoba pergi namun lelaki itu terus mengejarnya sampai akhirnya. Grep Dia pun tertangkap sudah tidak bisa berkata apa-apa tarisa berontak dan berteriak histeris. Bugh Seorang laki-laki dengan wajah oriental dan tubuh yang kekar menghajar lelaki tersebut. Tarisa memejamkan matanya lalu terus menangis. "Tenang lah dia sudah pergi" Deg, suara itu. Tarisa pun membuka matanya dan benar dugaannya. "Bang Apri" "Hey sweetheart " dengan senyum yang paling sempurna. Mata mereka bertemu ada tatapan memohon maaf dan ada tatapan meminta penjelasan. Tarisa merasa kehabisan nafas, kakinya mendadak lemas jika saja telat beberapa detik Apri memeluknya, Tarisa sudah jatuh ke pasir pantai, luruh bersama dengan butiran-butiran pasir tersebut. Plak Plak Suara tanparan sangat jelas terdengar, tidak tanggung-tanggung, tamparan itu mendarat dua kali dan sangat keras.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD