Misteri Lukisan Kuno

2150 Words
Dimana almarhum ayahnya begitu menggemari seorang pelukis yang tidak terlalu terkenal, membuat Celine Morgithen ingin sekali memiliki salah satu karya pelukis itu demi mengenang ayahnya yang begitu peduli padanya. "Paman, kenapa kau tidak punya, ha? Toko kuno mu bahkan tidak ada lukisan yang terkenal, semuanya barang dagangannya payah. Kenapa lukisan yang ku ingin tidak ada?" umpat Celine pada seorang pria pemilik toko yang merupakan teman lama almarhum ayahnya. "Aku sungguh tidak punya, bagaimana lagi? Lagi pula ayahmu saja tidak pernah memaksaku untuk memperdagangkan lukisan itu, kenapa kau sibuk mengurusi hal ini? Pulang dan cari kerja yang lain sana, aku bosan mendengar rengekan mu setiap hari," umban Paman Celine, yang sering disapanya Paman Sam. Dia begitu terganggu dengan kedatangan Celine yang hanya akan menjumpai dirinya saat perlu saja. Kalau tidak butuh, dia bahkan tidak pernah mengingat teman lama ayahnya sekaligus yang membesarkannya dan memperlakukan dirinya seperti putri sendiri. "Kenapa kau jahat sekali, kata-kata mutiara yang sangat menusuk, Paman. Apa kau sudah tidak menganggap ku lagi, ha?" balas Celine yang mengamuki Paman Sam. "Pergi dari tokoku dan cari lukisan itu di toko lain. Aku tidak menjualnya, berapa kali harus kukatakan padamu," ucap Paman Sam yang mulai kesal pada Celine. Setiap hari dia merengek meminta lukisan tersebut meski sudah dikatakan tidak menjualnya. "Dasar Paman kikir, aku akan menemukan lukisan itu meski harus mencari ke penjuru dunia dan jika sudah ku temukan, lihat saja, Paman. Aku akan memberimu pelajaran," umpat Celine yang juga sama kesalnya dengan Paman Sam. Dia tiap waktu meminta lukisan itu atau informasi tentang lukisan tersebut, namun tidak mendapatkan jawaban dari Pamannya. Sebab itu dia juga kesal dengan Pria yang sudah membesarkannya dari umur 16 tahun hingga berumur 20 tahun. "Iya pergi saja, karena aku yakin kau tidak akan menemukan lukisan itu meski kau mencarinya di seluruh dunia," balas Paman Sam mengejeknya. Kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari pamannya, dia pun akhirnya kembali ke apartemen yang baru saja ia tempati sekitar dua bulan yang lalu. Celine dititipkan almarhum ayahnya pada Sam, yang merupakan pamannya sekarang. Ibunya meninggal lebih dulu pada saat hari ke-dua setelah kelahirannya. Kemudian menyusul ayahnya saat dia berumur 16 tahun. Sam juga memiliki seorang anak laki-laki tampan yang juga harus dibesarkan bersama dengan Celine. Mereka tumbuh bersama bahkan seperti saudara karena dekatnya. Meski tidak memiliki hubungan darah dengan Celine, baik ayah ataupun anak, sama-sama peduli padanya. "Lyn, temani aku ke Zrenjanin besok," ucapnya pada anak Paman Sam memulai telepon genggam miliknya. "Tidak, aku sibuk," jawab Lyn singkat. "Dasar anak labil, kau sama saja dengan ayahmu, tidak peduli lagi padaku. Baiklah mulai sekarang jangan pernah mengingat tentangku ataupun mengenalku lagi," ujar Celine kesal. Dia hanya memainkan trik agar Lyn mau menemaninya. Kalau tidak dengan cara seperti itu, dia tidak akan mau mendengarkan permintaan Celine. Lyn begitu cuek terhadap sesuatu dan bahkan terbilang tidak peduli pada apa pun. Ayahnya juga sempat menyerah karena sikap anaknya yang tidak ramah sama sekali. "Terserah apa katamu, intinya aku sedang di kantor sekarang. Aku matikan teleponnya." Bip! Sesaat itu juga suara Lyn hilang. "Huaa ... kenapa tidak ada yang mau menolongku?" rengek Celine. Tidak peduli dengan orang-orang terdekat yang acuh perihal lukisan itu, dia tetap bersikukuh untuk mencari karya anonim di kota kuno. Ia akan memulai dari kota Zrenjanin terlebih dahulu. *** Ketika malam hari Paman Sam meneleponnya dan menyuruh agar datang ke rumah tempat ia tinggal dahulu sebelum di apartemen miliknya sekarang. Namun, karena masih kesal dengan ketidak pedulian mereka terhadapnya, membuat dirinya tidak berminat sedikit pun untuk mendatangi pamannya itu. "Apa dia tidak mau?" tanya Lyn pada Ayahnya. "Mungkin dia kesal," sahut Ayahnya. "Kenapa tidak berikan saja lukisan itu padanya? Tidak ada gunanya untuk Ayah. Ayah meletakkannya di gudang bawah tanah dan hampir kumuh. Dia itu keras kepala, kapan tidak ketemu, dia akan terus mencari," ucap Lyn mengenai pendapatnya. "Almarhum pamanmu mengatakan agar jangan menyentuh apa pun yang ada di gudang itu. Bahkan Ayah tidak berani menyentuhnya. Lagi pula dari mana dia tentang lukisan itu?" sambung Ayahnya keheranan. "Dia tidak sengaja menemukan buku diary Almarhum paman. Di lembaran terakhir membahas lukisan," jawab Lyn. Waktu itu Celine sempat bercerita tentang diary ayahnya pada Lyn. Celine mengira kalau permintaan terakhir ayahnya adalah memiliki lukisan dari anonim itu. Jadi dia ingin sekali mengabulkan impian ayahnya. Walau fakta sebenarnya bukanlah seperti yang ia pikirkan. Ayahnya berpesan agar tidak ada siapapun menyentuh lukisan bahkan kuas yang ada di gudang tempat ia sering melukis dulu. Karena itulah Sam, Ayahnya Lyn tidak memberitahukan pada gadis keras kepala tersebut, khusunya tentang gudang atau benda yang ada di dalamnya. ~Keesokan paginya~ "Oke, semua sudah dipacking. Baju ganti, kaus kaki, semuanya ready. Sekarang tinggal berangkat," ucap Celine sambil membenahi koper tempat pakaian ganti selama bepergian nanti. Ketika turun dari apartemen, dia di sambut oleh Lyn, teman kecilnya dari dulu. Pria itu kini sudah tumbuh menjadi laki-laki tampan dan bisa dikatakan berprestasi di umur yang terbilang cukup muda. "Hey hey ... kenapa kau di sini?" tanya Celine keheranan. "Masuk dalam mobil," jawabnya acuh. "Apa? Hahahaha ... kau memang paling pengertian. Kalau begini terus aku akan jatuh cinta padamu," ucap Celine bahagia dan dengan girangnya masuk ke dalam mobil. ~Dalam mobil~ "Untuk apa koper itu?" tanya Lyn bingung. "Oh ini, aku butuh dua hari lebih untuk mencari lukisannya. Jadi aku mempersiapkan beberapa pakaian ganti," jawab Celine lugu. Dia duduk manis sambil menatap Lyn dengan mata seperti anak kecil. Karena senangnya, dia lupa memakai sabuk pengaman mobil. Lyn sudah memberikan kode agar memakainya, tapi ia tak mengerti sama sekali. Akhirnya dengan inisiatif sendiri, Lyn menjatah tali sabuk pengaman dan memasangkannya. Wajah mereka saling berhadapan dan untuk beberapa saat mata Celine terpaku menatapnya. Bahkan jantungnya sedikit bergetar karena gugup. Tiba-tiba suasana menjadi canggung seketika. Celine yang sudah gugup tidak bisa mengendalikan diri memilih untuk tetap diam. Perasaannya semakin tak terbendung lagi. Sudah cukup lama ia menyimpan cinta sepihak pada pria cuek dan dingin itu. Matanya tidak bisa beralih sama sekali. Setiap detik jarum jam berputar, hasrat untuk memiliki pun semakin memuncak. Meski ia sadar kalau hubungan mereka tak akan pernah berhasil. "Aku takut akan suka lagi pada pria b******k ini," umpat Celine dengan suara pelan. "Apa kau sedang menggerutu padaku?" tanya Lyn yang samar-samar mendengar ucapan Celine. "Terkadang kau terlalu perasa. Aku bahkan tidak memikirkan mu sama sekali. Jangan terlalu berharap," ledek Celine mengelak. Walau faktanya sekarang hati bahkan pikirannya hanya tertuju pada Lyn. ~Dua puluh menit kemudian~ "Sebenarnya aku heran mengapa kau malah membawaku ke rumah," pungkas Celine dengan mata datar dan nada rendah. "Bukannya kau mencari lukisan karya anonim itu?" sahut Lyn memandangnya balik. "Apa kau berniat mempertemukan aku dengan Paman Sam agar dia bisa mengamuki aku, lalu mengejekku?" tanya Celine datar. "Aku tidak sekeji itu," jawabnya spontan. Kemudian Lyn menuntun Celine ke ruangan dimana lukisan dan barang-barang almarhum ayahnya berada. Ruangan itu dikunci rapat dan tidak pernah dibuka sudah lima tahun lamanya, bahkan semasa ayah Celine masih sakit-sakitan, ruangan itu sudah dikunci dan tidak diperbolehkan masuk ke dalamnya, siapa pun itu. Kecuali dapat izin dari Almarhum Ayah Celine. "Kenapa kau membawaku ke gudang, ha?" tanya Celine ketakutan. Ia menebak kalau Lyn memiliki niat jahat padanya. Dengan sigap ia langsung menutupi dadanya dengan tangan yang menyilang lalu menjegilkan pandangan tajam ke arah Lyn. Melihat respon bodoh Celine, Lyn memukul kepala wanita itu lalu menariknya masuk ke dalam gudang. "Lukisannya ada di balik kain putih sana," tunjuk Lyn. Dengan setengah rasa percaya dia membuka kain putih itu. Tidak disangka ternyata benar lukisan anonim yang ia cari cari memang ada di sana. "Dasar Paman kikir, dia memiliki lukisannya tapi tidak memberi tahu ku. Aku akan memberinya perhitungan walau dia ayah kandungmu," umpat Celine dengki lalu menatap Lyn dengan sinis. "Aku juga berharap kau menghukumnya dengan sadis," jawab Lyn yang tampak mendukung Celine. "Kenapa kau bisa tahu lukisannya ada di sini?" tanya Celine bingung. "Aku tahu dari dulu bahkan sebelum kau tinggal di rumah ini," jawab Lyn. Dahulu ayah Celine memang selalu melukis di gudang itu. Ia sangat tertarik melihat kegiatan Ayahnya Celine di dalam sana. Ia dengan penasaran sering kali masuk ke dalam gudang tanpa sepengetahuan Ayah Celine. Suatu hari ayah Celine membawa lukisan pemandangan yang begitu tampak nyata bahkan terasa hidup ke dalam ruangan itu. Lyn melihat lukisannya ditutupi kain putih dan disembunyikan di balik tumpukan kertas yang ada di dalam gudang itu. Awalnya Lyn heran mengapa ayahnya Celine menyembunyikan lukisan itu padahal sangat indah. Karena sangat suka dengan lukisan yang sekilas terlihat di matanya, Lyn dengan penasaran ia masuk ke dalam tanpa sepengetahuan Ayah Celine. Ketika tangannya hendak membuka kain penutup berwarna putih itu, ayah Celine datang dan menghentikan niatnya. "Lyn, ayahmu sudah menunggumu di atas," ucap ayah Celine. Sesaat setelah melihat Ayah Celine yang terlintas di pikirannya adalah," Mengapa lukisannya disembunyikan padahal sangat bagus?" Lyn menanyakan hal demikian pada Pamannya itu. Namun Almarhum Ayah Celine hanya melemparkan senyum padanya tanpa sepatah kata pun terucap. *** "Aku akan bawa lukisan ini ke apartemenku, atau mungkin ditaruh di pemakaman ayahku," kata Celine. "Apa kau berniat membawanya?" "Tentu saja, apa menurutmu aku akan mengikhlaskan lukisan ini berada di sini? Lihat betapa kumuhnya gudang ini, bahkan udara pun enggan masuk. Arwah ayahku tidak akan tenang jika tahu lukisan ini diletakkan di sini,"jelas Celine judes. "Kenapa kau cerewet sekali," balas Lyn terdiam. Celine langsung membawa lukisan itu dan berniat menempatkannya di ruang apartemennya. "Antar 'kan aku pulang," suruh Celine pada Lyn. "Aku akan panggilkan taksi," jawab Lyn. "Wah, Lyn, kau sungguh kejam. Padahal kau hanya perlu mengantarkan aku pulang, tapi kau tidak mau. Cukup sampai di sini saja perkenalan kita," ucap Celine mengumpat. " Kau tidak perlu memanggil taksi untukku. Aku punya kaki dan mulut untuk memanggil sendiri, bye." Celine langsung mengangkat lukisan itu dan pergi dari hadapan Lyn yang amat dingin padanya. "Aku hanya bercanda," jawab Lyn dengan wajah kaku. "Bercanda? Cih, bahkan aku tidak bisa membedakan ketika kau lagi serius atau bercanda. Apalagi orang lain? Pantas kau masih sendirian di usia segini," ejek Celine merendahkan Lyn. "Kau sendiri bahkan tidak ada yang mau," balas Lyn mengejek. "Apa?! Wah, aku menolak semua laki-laki itu, kenapa? Jangan sepele melihatku, banyak pria yang menginginkanku, tapi aku menolaknya," bual Celine. " Sudahlah, jangan bahas itu. Antar 'kan aku pulang," sambung Celine sambil mengangkat lukisan itu ke dalam mobil Lyn. ~Apartemen~ "Letakkan di samping jendela sana, lukisannya harus terkena udara dan sinar matahari dengan baik. Jangan sampai lecet apalagi terjatuh, atau kau akan menanggung akibatnya," ucap Celine cerewet sambil mengatur Lyn yang sedang menggantung lukisan itu. "Bisakah kau tidak bicara sebentar? Aku tidak bisa fokus," balas Lyn sambil menutup telinganya. "Hussst ... kau tahu aku sangat menghargai karya anonim ini. Jadi jangan protes," sambung Celine yang tidak ingin dibantah. "Sudah selesai, aku harus ke kantor, sudah terlambat," ungkap Lyn lalu melihat jam yang sedang dia kenakan. "Oke, pulang kerja nanti bawakan aku spaghetti depan gang sana. Sausnya yang banyak ...." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Lyn sudah menutup mulut Celine. "Aku lebih tua darimu. Panggil aku kakak. Kemudian jangan menyuruhku lagi. Kau sudah besar dan bisa pergi sendiri," timpal Lyn membungkam mulut Celine. Celine langsung memukul tangan Lyn yang menutup mulutnya lalu menginjak kaki pria cuek itu dengan sekuat tenaga. Wanita itu amat kesal melihat tingkah Lyn yang semakin menutup diri darinya. Semakin bertambah usia mereka, Lyn pun berubah padanya. Semakin dingin dan semakin dingin lagi. "Bagaimana mungkin aku memanggilmu kakak, jika aku masih berharap bisa menjadi pasanganmu, sialan," celetuk Celine dalam hati. Ia melemparkan tatapan tajam pada Lyn sambil berkata," Rasakan! Ini akibat kau terlalu dingin padaku, lain kali bukan hanya kakimu saja yang ku injak ...." "Lalu apalagi yang kau injak?" tanya Lyn memotong kalimat Celine. "Issss, pergi sana ke kantor. Kau bisa terlambat. Hus hus," usir Celine sambil mendorong tubuh Lyn keluar dari apartemen miliknya. "Jangan lupa bawakan spaghetti," teriak Celine sambil melambai pada Lyn. Celine mengunci pintu dan masuk ke dalam ruang tengah, dimana ia meletakkan lukisan itu. Celine memandangi betapa indahnya lukisan itu. Semakin dalam dia menatap lukisan itu, sesuatu seperti memanggil dirinya untuk mendekat. Ketika angin berhembus, gambar pohon di dalam lukisan itu tampak bergoyang. Daun-daun di dalamnya tampak gugur akibat hembusan angin. "Aish ... kenapa lukisannya seakan bernyawa," gumam Celine sambil mengedipkan sebelah matanya lalu memiringkan sedikit kepalanya. Saat Celine memperhatikan setiap sudut dari lukisan itu, tiba-tiba daun berwarna coklat terbang masuk di dalam apartemennya entah dari mana asalnya. Ketika Celine menyentuh dan mengamati daun itu, matanya tertuju pada pohon yang ada di dalam lukisan itu. Daun yang gugur dalam lukisan itu persis sama dengan daun yang sedang ia pegang. "Tidak mungkinlah daunnya keluar dari lukisan, haha," ucap Celine sambil tertawa paksa. Meski dia sangat takut saat itu. "Tapi ... aish, dari mana ini berasal?" sambung Celine bertanya-tanya pada dirinya. Dia berjalan melihat ke luar jendela dengan niat mencari asal daun itu. Rasanya tidak mungkin ada daun terbang hingga sampai di apartemennya. Bahkan jika pun ada pohon di lingkungannya, tidak mungkin bisa terbang hingga masuk ke dalam ruangan itu. Apartemennya berada di lantai 6. Mustahil jika ada daun masuk ke dalam apartemennya. BERSAMBUNG ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD