Pelepas Rindu

1770 Words
Raja Eroga dan Raja Sendas dalam semalam merangkai rencana untuk membantai dan membersihkan Yumiro di muka bumi. Bukan hanya mereka saja yang sibuk mengeluarkan seluruh siasat, tetapi petinggi, bahkan penasehat ikut serta di dalamnya. Kerusakan yang terjadi bukanlah kejadian biasa nantinya. Harus dengan penuh pertimbangan, mengingat kekuatan milik Pemimpin Yumiro yang muncul secara tiba-tiba. Ditambah beribu Yumiro terlahir entah dari mana asalnya. Kekuatan para b***k Yumiro itu kini bertambah seiring dengan kedatangan Pemimpin mereka. "Apa dia akan baik-baik saja?" decak Celine cemas membayangkan Darchen kini tengah berada di ambang kematian. Setelah semalaman dia tidak pulas tidurnya, pagi tiba menghadang dengan teriknya. "Genah," panggil Celine. "Ada apa, Nona?" "Apa Darchen sudah balik?" tanya Celine. "Belum, Nona. Kemungkinan besar Pangeran Darchen pulang saat malam Acara Perdamaian nanti," jawab Genah. "Berarti besok, yah? Lama juga," terka Celine. "Baiklah," gumam Celine dengan suara pelan sambil memegang dagunya. Genah melihat Celine pagi-pagi sudah keluar dari kamarnya, yang biasanya dia tidak pernah keluar pintu kamar sebelahnya. "Anda hendak kemana, Nona?" tanya Genah. "Hanya ingin jalan-jalan," jawab Celine dengan terus berjalan. "Perlukah hamba temani?" "Tidak tidak … aku sendiri saja," tolak Celine. "Baiklah, jangan pergi terlalu jauh, Nona," peringat Genah. Celine kemudian berjalan menuju tembok belakang Istana Athiam untuk masuk ke kolam bening dengan gugur bunga di tanah pinggiran kolam tersebut. Dia menarik daun menjulang ke bawah yang menutupi portal masuk ke dalam kolam. Dia dengan mudahnya melewati portal yang telah disegel kuat oleh Darchen itu. Celine tidak tahu kalau sesungguhnya Genah mengikuti dirinya dari belakang dikarenakan takut kalau Celine pergi terlalu jauh. Apalagi karena semalam Genah melihat kalau Celine baru saja bertemu dengan orang kuat. Hanya saja Genah tidak bisa merasakan aura dari orang tersebut. Entah itu karena magis Celine atau karena orang yang bertemu dengan Celine itulah yang terlalu kuat hingga aroma bahkan auranya tidak bisa tercium. Genah melihat Celine tiba-tiba hilang begitu saja. Padahal jelas-jelas hanya ada tembok kokoh di depan majikannya itu. Namun sekejap mata itu pula Celine menghilang dari pandangannya. Genah langsung berlari mendekati tembok besar dan kokoh itu. Memastikan apa yang telah terjadi. "Kemana Nona Celine perginya?" Genah melihat sekeliling dan tidak mendapati ada yang aneh di sana. Tidak ada orang ataupun sihir yag berada di sana. Tidak mungkin pula kalau kehilangan Celine secara misterius itu merupakan perbuatan Putri Erica. Genah menyentuh tanah untuk merasakan sesuatu dari getaran bumi. Namun dia tidak menemukan apapun. Kemudian dia mulai menyentuh tembok itu. "Ah!" Tangannya tiba-tiba terpental saat menyentuh tembok tersebut. Seolah ada magis yang menolak ke dagangannya. Sekarang dia sudah mengerti. Celine ternyata melewati tembok tersebut, bukan hilang secara misterius. "Inikah segel milik Pangeran Darchen?" Genah akhirnya paham. Dia tidak perlu mencari ataupun mencemaskan Celine lagi. Sebab kini Celine berada di tempat seaman-amannya persembunyian. Tidak akan ada yang dapat menembus segel itu kecuali pemiliknya sendiri atau orang yang lebih kuat dari si pembuat segel. "Artinya, Nona Celine sangatlah kuat sampai bisa menembus segel milik Pangeran Darchen," simpul Genah. Sebenarnya, Celine tidak akan mempan apabila terkena sihir magis orang lain. Karena memang sifat dan dasar magisnya adalah menyerap. Sebab itu dia dengan mudahnya keluar masuk dari segel kuat milik orang lain. Selain itu, segel tidak akan berpengaruh padanya, karena memang dirinya bukanlah bagian dari dunia itu, dia hanya tidak sengaja masuk ke dalam dan terperangkap di sana. Sihir atau magis orang-orang dari dunia itu hanya menyegel mereka yang berasal dari sana, sementara Celine berasal dari dunia berbeda. Sudah tentu sihir bukanlah hal yang perlu ditakutkan baginya. Peraturannya memanglah seperti itu. Namun jika sudah lebih dari satu bulan dia tinggal di sana dan tidak juga keluar. Dia akan semakin menyerap segalanya, termasuk adaptasi dari dunia tersebut. Semakin lama, semakin tersiksa pula dirinya. Hingga akhirnya dia akan terjebak selamanya di dunia yang bukan dunianya. Beberapa sihir akan berpengaruh pada Celine, dengan catatan jika si pemilik magis berada di kelas yang tinggi. Hingga efek sihirnya dapat dirasakan oleh Celine. Itu sebabnya Darchen bisa menyegel Celine sebab dia memiliki sihir yang kuat, meski efeknya hanya sesaat. Sekiranya Celine dapat mengatur dan melatih sihirnya, dia bisa menjadi orang kuat dari dunia itu. Hanya saja dia tidak tahu potensi yang ada pada dirinya, hingga sihir dan magis itu hanya hiasan belaka. Namun mengingat jenis magisnya, Celine terkadang diperugikan. Sihir terkadang menjadi kutukan dan terkadang menguntungkan. Sementara bagi Celine sihirnya adalah kutukan, sebab dia semakin sulit kembali karena sudah menjadi bagian dari dunia tersebut. "Huh! Sudah lama tidak menghirup udara sejuk kolam ini," ucap Celine sambil menarik nafasnya panjang. Dia duduk bersandar di batang pohon sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menghanyutkan dirinya ke dalam ketenangan. Sesekali Celine melihat ke arah atas pohon itu untuk mencari binatang apa saja yang ada di sana. Dia masih belum mengerti mengapa bisa tidak ada seekor serangga pun hinggap di sana. Dia mulai menunduk ke arah rumput dan tanah untuk mencari cacing atau apalah yang ada di sana. Namun dia tidak menemukan apapun di sana. "Aku seperti orang stres saja," celetuk Celine sambil menghardik dirinya yang sedang pontang-panting mencari mahluk hidup lain di lingkungan kolam itu. Sudah hampir gelap, tapi dia benar-benar tidak menemukan apapun di sana. Tanah digalinya, rumput dicabutinya, bahkan yang paling parah dan ekstrim adalah ketika dia memanjat pohon lalu menguliti batang pohon tersebut. "Apa yang kau lakukan?!" Sontak Celine langsung berbalik. Tangannya yang kotor karena baru saja mengorek tanah, bahkan gaun yang dipakai olehnya bergetah karena memanjat pohon. "Darchen?" sebutnya dari atas pohon. Celine langsung turun dengan melompat dari atas sana kemudian berlari ke arah Darchen. Dia melompat dan langsung memeluk Darchen dengan erat. Dia menciumi aroma tubuh pria itu demi melepaskan kerinduan dan kecemasannya. Sungguh dia begitu terpuruk karena khawatir, bahkan dia menjadi gila beberapa hari karena tidak bisa dan tidak tahu harus melampiaskan kesedihannya pada siapa. "Kau bau sekali," hujat Darchen ketika Celine tengah erat memeluk tubuhnya. Celine langsung membuka matanya dan melepaskan dekapannya," Eh?" ucapnya. Dia kemudian mengepakkan tangannya lalu mencium aroma dari ketiaknya. Dia membau gaunnya dan mencari asal bau ditubuhnya. Darchen tidak sengaja melihat tangan Celine kotor berabu, bahkan kukunya saja coklat dipenuhi tanah. Dia tidak tahu apa yang baru saja dilakukan wanita itu seharian di dalam kolam. Tapi yang pasti, Celine pasti melakukan hal bodoh. Darchen menarik tangan Celine dan menyapu telapak wanita itu untuk membersihkan kotoran itu. "Kau sedang gali sumur?" "Tidak, aku hanya mencari cacing di sini," jawab Celine dengan jujur. Plak! Darchen menjetik kepala Celine. "Apa kau bodoh?" "Kenapa? Aku hanya memastikan saja," balas Celine. "Kau benar-benar bodoh," tambah Darchen lagi. Pria itu kemudian menuntut Celine berjalan ke dasar kolam. Lalu dia menyuruh wanita itu duduk diam jangan bergerak sama sekali. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Celine curiga. Darchen turun ke dalam kolam dengan genangan air jernih itu. Perlahan-lahan dia membawakan air di telapak tangannya sebagai alat untuk menampung. Dia membasuhkan tangan Celine yang kotor itu. Pipi Celine tiba-tiba memerah. Dia sungguh tidak menyangka kalau Darchen sedang memperhatikan dirinya. Dengan lembut Darchen memperlakukan dirinya seperti seorang ratu. Wanita mana yang tidak akan luluh dengan perlakukan seperti apa yang telah dilakukan Darchen padanya. "Aku bisa melakukannya sendiri," timpal Celine merasa segan sekaligus tersipu. "Jangan bergerak!" Perintah Darchen tanpa menoleh ke arah Celine. Dia terus meninga air itu dan menyiramkannya ke tangan Celine. Celine spontan terdiam dan tengang seketika. Dia seperti sedang disihir agar tidak bisa bergerak, padahal itu adalah bawaan dari hatinya karena terlalu canggung untuk menghancurkan keromantisan mereka saat ini. Angin terus memberikan ketenangan pada mereka. Sesekali rambut indah Darchen terganggu oleh angin yang berpamitan lewat dari sana. Wajahnya yang tampan itu begitu menyatu dengan alam. Kibasan rambutnya begitu melemahkan. Sampai Celine pun tidak berani menoleh sedikit pun dari pandangannya. Bahkan pada angin saja Celine cemburu. Dengan mudah angin bisa menyentuh Darchen tanpa perlu terlihat. Celine ingin menyentuh wajah milik Darchen, dia ingin mengelus rambut indah itu, dia ingin memegang tangan Darchen yang hangat dan ingin merasakan pelukannya yang erat. Celine menginginkan segalanya. Namun dia terlalu serakah jika berbuat seperti itu. Mungkin saja waktunya akan segera habis dari dunia tersebut. Hingga mereka akan terpisah dan tidak akan bisa bersama. "Ekhem … Darchen," panggil Celine. "Hmmm?" "Apa kau terluka?" tanya Celine. "Ehm," jawab Darchen mengangguk. "Benarkah? Apa mereka sekuat itu hingga kau tidak bisa melawan mereka?" tanya Celine. "Tidak," balas Darchen. "Lalu, apa?" "Aku terlalu merindukanmu, sampai saat bertarung hanya wajahmu yang terbayang," ucap Darchen ringan. Dia bahkan tidak menatap mata Celine saat sedang mengatakan hal demikian. Celine terdiam saat mendengar kata-kata dari mulut Darchen. Untaian itu begitu indah di telinga. Bahkan sampai menggetarkan hati Celine. Meski Darchen terlihat cuek dan dingin seperti itu, terdengar ketulusan dibalik kalimat tersebut. Kruuk-Kruuuk! Bunyi perut Celine terdengar keras. Seharian penuh dia tidak makan. Tentu saja perutnya bergemuruh keras seperti itu. "Kau belum makan?" tanya Darchen dengan muka garang. Matanya menggambarkan ketidaksenangan karena ulah Celine yang bodoh. "Sudah," jawab Celine meyakinkan Darchen. Dia tidak akan kuat jika sampai amarah pangeran itu terpancing. "Katakan sekali lagi!" Darchen semakin marah karena Celine berbohong. "Be-Belum," jawab Celine jujur sambil menunduk ketakutan. Darchen kemudian naik dari dalam kolam yang tinggi airnya hanya sampai betis kakinya saja. Lalu menarik tangan Celine dengan paksa. Belum sempat Celine berdiri, tapi Darchen langsung menarik tangan wanita itu. "Aduh," rengisnya merintih. Darchen tetap tidak menoleh dan mengabaikan Celine. Celine cepat-cepat mengikuti langkah kaki Darchen agar tidak terseret. Dia begitu tergesa-gesa ketika mengikuti langkah Darchen. Darchen ternyata hendak menjumpai Genah yang tengah berdiri di depan lorong kamar Celine. "Apa yang kau kerjakan seharian ini?" tanya Darchen pada Genah dengan muka mengamuk. "Ampun, Pangeran. Hamba baru saja memantau pergerakan Yumiro di sekitar istana ini," jawab Genah sambil menunduk dan membungkuk. "Itukah tugasmu?" tanya Darchen. Genah tersadar dengan kesalahannya kini. Bukan perkara menjaga keamanan, masalah yang dibuatnya adalah kelalaian dalam menjaga Celine. Genah sekarang paham asal kekesalan Pangeran Darchen. "Maafkan hamba, Pangeran. Ini merupakan kesalahan hamba dalam menjaga Nona Celine," balas Genah. Celine yang masih bingung dengen situasi itu hanya bisa menyimak dengan wajah bodohnya. "Kenapa kau tiba-tiba mengamuk?" tanya Celine dengan bingung. "Urus wanita bodoh ini!" Perintah Darchen pada Genah. Pangeran tersebut pergi begitu saja dari hadapan mereka. Celine bahkan belum sempat paham dengan mereka, tapi pria itu sudah langsung angkat kaki dari lorong tersebut. "Ada apa dengannya?" tanya Celine pada Genah dengan raut bingung tidak paham apa-apa. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona. Oh ya, apa Anda sudah makan?" tanya Genah. "Belum, aku lapar," jawab Celine sambil merengek. Keduanya kemudian pergi berjalan ke dalam kamar agar bisa makan bersama di sana. "Nona," panggil Genah. "Ada apa?" "Apa yang Anda lakukan seharian ini? Kenapa baju Anda begitu kotor?" tanya Genah sambil menatap Celine dari ujung kaki hingga rambut. "Hahaha … tidak ada. Aku ganti baju dulu, yah," timpal Celine sambil tertawa dan bergegas mengganti pakaiannya yang terkena getah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD