Alan Jordan tidak memberikan jawaban pada Nenek Joel perihal perubahan sifat pada anaknya itu. Dia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut. Dia yakin anaknya yang nakal itu akan kembali normal lagi setelah beberapa hari.
"Alan, katakan saja," desak Nenek Joel.
"Tidak ada, Bu. Biarkan saja dia, besok juga akan membaik," tukas Alan bersikeras tidak akan memberitahu.
"Apa kau tidak kasihan melihat anak itu? Kau tidak pernah sempat mengurusnya karena pekerjaan, dan dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu karena wanita keji itu meninggalkan kalian. Lantas kenapa kau tidak memberinya sedikit pengertian? Dia masih anak kecil, dia hanya butuh kehangatan," jelas Nenek Joel. Ia amat berharap kalau anaknya yang keras kepala itu lebih memberikan Joel pengertian. Sifatnya yang terkadang nakal juga akibat ingin diperhatikan ayahnya. Semua dilakukan agar ayahnya itu dekat dengannya. Tapi Alan yang terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya tidak peka terhadap Joel. Alan terus mendidik Joel dengan keras dan tegas. Sementara anaknya itu baru berusia lima tahun, yang masih butuh kelembutan dan kehangatan dari orang tuanya.
Melihat ibunya yang sudah bersikukuh, Alan pergi ke kamar Joel dan menanyakan keadaannya anaknya tersebut.
"Ada apa denganmu?" tanya Alan lalu duduk di kasur Joel sambil menatap anaknya tersebut.
"Tidak ada! Aku tidak butuh apapun!" tegas Joel lalu menutup mukanya dengan selimut. Joel merasa tidak ada gunanya mengatakan pada Alan tentang keinginannya. Toh juga tidak akan dituruti. Lebih baik ia diam daripada harus sakit hati nantinya.
"Aku akan bawakan kakakmu itu ke sini," ucap Alan lalu pergi dari anaknya itu. Ia tahu sejak awal apa yang diinginkan anaknya tersebut. Hanya saja ia tidak berani meminta bantuan pada wanita yang sama sekali belum ia kenali. Anaknya itu juga tidak tahu kenapa meminta wanita tersebut, sekian banyak pengasuh yang dulu ia perintahkan mengurus Joel, tidak satu pun yang cocok dengannya. Ia terus-terusan meminta ganti pengasuh dengan alasan orang-orang tersebut adalah orang jahat. Akhirnya Alan kewalahan dan memutuskan untuk tidak menyewa pengasuh lagi. Nenek Joel inisiatif mengurusi cucunya itu karena tahu kalau keinginan Joel adalah kasih sayang keluarga.
"Apakah Ayah akan mengajak kakak tinggal di sini?" tanya Joel dengan suara pelan dan malu.
"Ya, makanlah dulu, nanti jika wanita itu datang, kau sudah punya tenaga untuk bermain-main," ucap Alan.
Mendengar perkataan Alan, Joel langsung bangkit dari ranjangnya lalu mengambil talam makanan yang diantar pelayan tapi tidak kunjung dihabiskan. Sekarang ia lahap memakan semua tanpa sisa sedikit pun. Ia terlalu bersemangat untuk bermain dengan Celine, kakak baru yang ia temui kemarin.
Alan langsung pergi menuju posisi keberadaan Celine dan berharap ia dapat dengan mudahnya mengajak wanita itu untuk bertemu Joel saja. Untungnya kemarin ia memasang segel penanda pada tubuh Celine sehingga ia dapat melacak keberadaan wanita tersebut. Ia dapat menerawang posisi Celine meski dalam jarak yang cukup jauh.
Ketika ia hendak berangkat dengan kudanya dan sudah sampai di depan gerbang kediamannya, ia berpapasan dengan Darchen Valerio, pangeran dari Istana Athiam. Tidak tahu angin apa yang membawa anak raja terhormat itu datang ke kediamannya. Namun dengan ramah menyambut. Meski mereka bisa dikatakan cukup saling mengenal, tapi sampai saat ini Alan Jordan tidak ingin berhubungan banyak dengan Darchen.
"Gerangan apa yang membawa, Pangeran Darchen kemari?" tanya Alan lalu sambil turun dari kudanya.
"Hanya mengunjungi Nenek Zoe dan hendak menanyakan beberapa hal padanya," jawab Darchen.
"Ibuku ada di dalam sana, ia sedang senggang, Pangeran bisa langsung menemuinya. Apa perlu aku antarkan?" suguh Alan dengan santun.
Sebenarnya Darchen sangatlah dekat dengan Nenek Zoe. Dulu wanita tua itulah yang mengurusnya saat kecil. Ia menjadi pengasuh Darchen sampai usianya menginjak 12 tahun. Setelah tidak lagi mengurus Darchen, Nenek Zoe mengundurkan diri dari istana. Raja Erogha sebenarnya tidak ingin melepaskan Nenek Zoe dikarenakan masih perlu dalam urusan kerjaan. Nenek Zoe memiliki kemapuan membaca garis tangan yang tentunya akan sangat berguna bagi kedamaian istana.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Darchen. Ia tidak ingin merepotkan Alan yang tampaknya sedang sibuk. "Kemana kau akan pergi?" tanya Darchen menyambung kalimatnya.
"Ada urusan yang tidak terlalu penting, Pangeran. Aku hendak pergi ke hutan Maleni," jawab Alan.
"Untuk apa kau ke sana?" tanya Darchen. Ia langsung teringat dengan letak kastilnya.
"Menjemput seseorang. Baiklah, Pangeran, aku undur diri," pamit Alan. Ia langsung memacu tali kuda dan pergi menjemput Celine yang berada di hutan Maleni.
Darchen terpikir dengan Celine namun ia masih belum yakin saja kalau wanita itulah yang sedang ingin dijemput oleh Alan. Tidak pernah ia mengetahui kalau Celine memiliki kenalan dengan orang lain di negara mereka. Lalu mengapa bisa Alan mengenalnya. Darchen menutup pemikirannya tersebut lalu melanjutkan urusannya dengan Nenek Zoe.
Sementara Celine di pagi hari yang cerah itu berada di kastil Darchen untuk mencari keberadaan pintu pulangnya. Ia tidak letih untuk mengusahakan jalan pulang ke dunia nyata. Jika terus berada di dunia Athiam itu, bisa-bisa ia menjadi bagian dari kisah kerajaan tersebut dan merusak alur di dalamnya.
Genah yang khawatir dengan keselamatan Celine mengikuti majikannya itu. Namun dikarenakan tidak bisa masuk ke dalam kastil, Genah menunggu di luar sebentar selama Celine berada di dalam.
"Aish, tidak ada apapun di sini. Kenapa Darchen tidak punya buku itu," decak Celine sambil membongkar rak buku Darchen. Ia mencari buku tetang kalung yang tidak bisa dilepas dari lehernya itu.
Celine keluar dari kastil lalu menemui Genah yang tampak sedang memperhatikan keadaan hutan.
"Genah, kita pulang saja," usul Celine. Ia sudah capek terus pergi ke hutan Maleni tapi tidak menemukan jawaban sama sekali.
"Baik, Nona," angguk Genah.
Ketika mereka hendak melangkah pergi dari hutan, tiba-tiba pria berkuda dengan kuda gagahnya menghentikan langkah mereka. Ia turun dari punggung kuda tersebut lalu menatap Celine.
"Bisakah kau membantuku?" tanya Alan langsung tanpa basa-basi.
"Eh, siapa kau?" Celine terkejut karena ada pria asing yang tidak ia kenali langsung meminta bantuan. Ia merasa tidak pernah menemui pria itu ataupun berhubungan dengannya.
Genah yang sudah mengenal Alan Jordan sebelumnya, langsung membungkuk memberi salam padanya. Ia tahu betul kalau Alan merupakan salah satu orang terkemuka di kota. Sihirnya yang kuat, status keluarga yang dari dulu selalu memegang bisnis terkaya di masanya, dan memang bisa dibilang cukup dekat dengan anggota kerajaan.
Namun setelah perjelas kembali barulah Celine sadar kalau pria tersebut adalah ayah Joel.
"Aku sudah ingat, kau ayah Joel, bukan?"
"Ya, terima kasih sudah mengingatku."
"Tentu saja aku ingat. Bahkan tidak pernah lupa dengan sikapmu," celetuk Celine dengan mata menyudut ke kanan.
"Maaf atas sikapku terakhir kali kita bertemu."
"Iya, terserah. Bantuan apa? Joel dimana?" tanya Celine sambil melihat sekeliling Alan.
"Dia tidak ikut, ada sesuatu masalah," kata Alan.
"Ha? Masalah apa?" tanya Celine penasaran.
"Untuk itu, aku berharap kau membantuku. Joel meminta agar kau datang mengunjungi dia. Dia tidak mau makan jika aku tidak membawamu," jelas Alan.
"Aku begitu populer di sini, hahaha. Resiko jadi orang baik," celetuk Celine dalam hatinya sambil tersenyum.
"Jadi bagaimana? Apa kau bisa?" tanya Alan.
"Hmmm, tentu saja," angguk Celine menyetujui. Ia juga ingin menemui Joel yang amat lucu itu. Ia senang jika bisa bertemu dengan Joel.
"Nona, Anda sebaiknya …."
"Hust … aku tahu, tidak akan lama," timpal Celine langsung. "Oh yah, aku naik kereta bersama Genah saja. Agar dia bisa tenang hatinya," ucap Celine pada Alan.
"Baiklah, terima kasih, dan maaf karena merepotkan."
Mereka langsung pergi ke kediaman Alan untuk bertemu dengan Joel. Alan dengan kudanya, Celine dan Genah naik kereta kuda. Dari depan Alan menuntun jalan kusir agar tidak tersesat.
Saat dalam kereta, Celine terpikir akan suatu hal. Karena bingung, Celine langsung menanyakan pada Genah.
"Kenapa pria itu tahu keberadaanku?" tanya Celine heran.
"Tuan Jordan adalah salah satu orang terhebat di kota, tentu saja banyak yang mengenalnya. Selain tampan dan berbakat ia juga pandai dalam usahawan, banyak orang yang mengaguminya," jelas Genah.
"Ha? Benarkah? Pantas saja kemarin dia memakai penutup wajah," ungkap Celine baru sadar.
"Begitulah, Nona. Hamba juga sempat berpikir mengapa Tuan Jordan mengenal Anda. Ternyata karena anaknya," simpul Genah.
Sepanjang jalan mereka hanya berbincang menggosip tentang Alan. Mereka membahas masalah hidup Alan dengan istrinya. Mereka dihadapkan berbagai masalah hingga memutus hubungan suami-istri. Wanita alias istri dari Alan meninggalkan dirinya saat Joel masih sangat balita. Sampai sekarang wanita itu tidak muncul lagi barang sekali melihat anaknya yang beranjak tumbuh.
Tidak terasa waktu tersita di jalan, akhirnya mereka sampai di kediaman Alan.
"Genah, kau ikut saja. Nanti sekalian berkenalan dengan Joel. Dia anak yang imut," ajak Celine.
Genah mengangguk menuruti perintah majikannya itu. Mereka masuk ke dalam rumah yang teramat besar dan mewah tersebut lalu ditunjuk untuk langsung menemui Joel yang berkurung diri di kamarnya.
"Joel ada di dalam, semoga kau bisa memaklumi sikapnya," tunjuk Alan. Ia meminta Celine masuk dan menemui Joel.
Celine mengetuk pintu lalu membukanya. Ia langsung melihat Joel sedang rebahan di atas ranjangnya sambil merenung. Ia tampak murung dan badannya lebih kurus dibanding kemarin saat terakhir kali bertemu.
"Joel!" sapa Celine sambil tersenyum. Ia melambaikan tangannya dengan girang dengan gaya anak kecil.
"Kakak!" sorak Joel gembira. Ia langsung bangkit dari ranjangnya lalu berlari ke arah Celine. Sangking senangnya ia melompat agar Celine menangkap tubuhnya.
"Kau kurus sekali," decak Celine.
"Iya, ini karena ayahku. Dia tidak beri makan anaknya sendiri," jawab Joel mengadu.
"Hah? Ayah bodoh, nanti kita masak sama-sama," ajak Celine.
"Baiklah, hahaha." Joel tampak senang dengan kedatangan Celine. Ia tidak kesepian lagi karena Celine dan Genah berada di sisinya.
"Oh ya, siapa dia?" tanya Joel menunjuk Genah.
"Dia temanku, dan juga temanmu," jelas Celine.
"Oh, iya. Oh yah, Kak. Aku belum tahu namamu dan nama temanmu itu," kata Joel dengan tingkah lugunya.
"Aku Celine Morgithen, panggil saja Celine. Dia Genah Syif, panggil saja Genah," jelas Celine memperkenalkan.
"Nanti aku akan kenalkan nenekku pada kalian. Tapi kita masak dulu, aku lapar," tukas Joel.
Joel dengan senang hati menarik tangan Celine menuju dapur dan memasak di sana. Ia dengan antusias menunjuk semua benda-benda bagus di kediamannya itu dengan niat agar Celine terkesan padanya. Ia juga menceritakan sedikit pengalamannya.
"Hmmm, Kakak, wangi sekali," puji Joel.
"Benarkah? Kakak jago masak, kau mau makan apa saja Kakak bisa masakkan," celetuk Celine membanggakan diri.
"Wah! Aku mau kakak masak makanan setiap hari padaku," balas Joel.
"Hahaha … iya, Kak Genah juga akan memaksakan padamu, dia juga jago," ucap Celine.
"Yeee! Aku bisa makan banyak!"
"Hamba bisa mengajari Anda bela diri, Tuan muda Jordan," tambah Genah.
"Kau juga bisa bela diri?" tanya Joel tercengang.
"Bisa, Tuan muda," angguk Genah sambil tersenyum.
"Oh ya, kenapa kau bicaranya sama seperti pelayan kami?"
"Karena kau adalah boss, makanya dia bicara seperti itu," timpal Celine menjawab.
"Hahaha … aku ingin seperti ayahku, bukan jadi boss," elak Joel dengan polos.
"Sudah, masakannya jadi. Kita makan di taman saja, pasti seru," usul Celine.
Mereka pun akhirnya membawa makanan tersebut dengan dibantu para pelayan dalam menyiapkan berbagai peralatan makan.
~Taman kediaman Zoe~
"Hmmm, enak sekali! Aku tidak pernah makan ini sebelumnya," puji Joel sambil melahap masakan yang dibuat oleh Celine.
"Tentu saja, bahkan Genah saja baru ini memakannya. Bukankah begitu, Genah?"
"Benar, Nona. Bahkan hamba tidak tahu ada jenis masakan seperti ini.
"Tentu saja, karena ini hanya ada di era modern saja," jelas Celine sambil tersenyum lalu menuangkan masakannya yang masih baru bagi Joel dan Genah ke piring mereka masing-masing.
"Habiskan semua, yah," ucap Celine.
Setelah makanan itu habis semua, Joel langsung mengajak Genah berdiri untuk menunjukkan beberapa gerakan bela dirinya.
"Heh, jangan banyak gerak dulu, perutmu bisa sakit," nasehat Celine.
"Tidak akan, ayo, Kak Genah," ajal Joel tidak mendengarkan.
Joel yang terlalu antusias itu mulai menunjukkan gerakannya pada Genah. Ia dengan bangganya memperlihatkan semua jurus yang selama ini ia pelajari. Ia menyuruh Celine juga ikut menonton agar mendapat pujian darinya.
"Sudah, kembali duduk Joel, nanti perutmu sakit. Kenapa kau bandel sekali," umpat Celine mengingatkan. Celine yang cerewet itu mulai mengamuki Joel karena tidak mendengarkan sama sekali.
Hingga akhirnya ia berhenti bergerak karena merasa mual. "Kakak, aku ingin muntah," ucap Joel sambil menutup mulutnya.
"Astaga, sudah begini baru mau berhenti. Makanya jangan bandel," umpat Celine cerewet. Ia langsung meletakkan Joel di pangkuannya lalu memijat kepala anak tersebut agar mengurangi rasa mualnya.
Bukannya mengurangi rasa mual, Joel malah semakin tidak bisa menahan perutnya dan mengeluarkan semua yang mengganjal di perutnya. Ia muntah di baju Celine.
"Huaaa … perutku sakit," rengek Joel menangis. Ia takut kalau Celine marah karena sudah mengotori bajunya. Ia menangis tidak henti-hentinya.