Terbang Jauh

2007 Words
Celine melihat kalau Dyroth sangat ingin menunjukkan tempat itu padanya. Hanya saja kendaraan yang tidak memadai, membuat Dyroth mengurungkan niatnya. Tapi untuk menghargai niatan Dyroth, Celine mengatakan untuk pergi ke tempat tersebut meski harus berjalan kaki. "Ayolah, aku sudah tidak sabar," ajak Celine. "Jangan menyesal nanti," ledek Dyroth. "Kakiku kuat, tenang saja," jawab Celine sambil memukul kakinya agar Dyroth tahu kalau dia kuat. Dyroth tersenyum. Kemudian dia memegang tangan Celine untuk menuntun jalan yang akan mereka tuju. Saat melangkah, seseorang yang berlari tidak sengaja menyenggol lengan Celine. Dia tampak terburu-buru, hingga jalannya tidak beraturan. "Auuchh," rengek Celine spontan ketika wanita itu menyenggol lengannya. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dyroth. Dia langsung memegang kedua bahu Celine dan melihat wajahnya apakah ada yang lecet dibagian tubuhnya. "Tidak," jawab Celine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu hanya membungkuk lalu pergi begitu saja. Dia sama sekali tidak meminta maaf, walau dia sudah membungkukkan badannya, namun terlihat tidak sopan. Dyroth tampak tidak senang dengan ketidaksopaan wanita itu. Kakinya melangkah hendak mengejar wanita itu. Untungnya Celine langsung menarik tangan Dyroth lalu mengajaknya langsung. "Sebentar," ucap Dyroth. "Jangan lama, nanti kita tidak bisa bermain sepanjang hari," ucap Celine. Saat itu juga Dyroth pergi. Entah kemana, dia tidak jelaskan pada Celine. Yang pasti, dia hanya sebentar. Berita heboh tentang kematian sekelompok orang itu masih sangat gempar. Banyak kerumunan manusia yang menonton jasad dari para mayat itu. Karena terlalu lama menunggu Dyroth, Celine akhirnya berjalan mendekati tempat kejadian perkara kematian tersebut. Dari tadi dia juga sudah penasaran melihat mayat-mayat itu, hanya saja katena ada Dyroth yang takut dengan hal itu, membuatnya mengurungkan niatnya tersebut. Celine menepi-nepi, menyeruduk masuk melewati kumpulan orang-orang yang sedang melihat mayat tersebut. Hingga karena penasarannya itu, dia sampai di depan. Tepat di depan mayat tersebut. Betapa terkejutnya dia karena melihat para manusia yang sudah mati bersimbah darah. Bahkan kepala dan tangan sudah tidak tentu tempatnya dimana. Organ dan tulangnya sudah berserakan entah kemana. Tidak tentu lagi bagiannya. Hanya saja yang paling membuat Celine tercengang adalah ketika melihat pakain yang dikenakan oleh mayat-mayat tersebut. Meski dari segi wajah sudan tidak bisa dikenali lagi, tapi pakaian yang mereka kenakan sedikit banyaknya Celine mengingatnya. Jika tidak salah, tadi dia menumpahkan tinta ke pakian mayat-mayat tersebut. Dia jelas mengingat bahwa sekelompok mayat itu adalah orang-orang yang mengejarnya tadi. Antara percaya dan tidak, akhirnya Celine menanyakan pada orang di dekatnya. "Paman, apa mereka sudah lama matinya? Kira-kira berapa hari?" "Mereka baru saja mati. Seseorang melihat jasad mereka baru saja tadi," jelas penduduk di sana yang sedang menyibukkan diri dengan urusan kematian mayat-mayat tersebut. "Tidak salah lagi," decak Celine. Benar-benar amat jelas di ingatan Celine bahwa orang-orang yang mati itu adalah sekelompok orang yang mengejarnya. Pantas saja ketika melihat pakaian mayat tersebut, Celine merasa ada yang janggal. "Apa pembunuhnya sudah ditemukan?" Tanya Celine lagi. "Tidak ada yang tahu siapa yang membunuh mereka," jawab penduduk tersebut. Ketika sedang sibuk mengurus kematian itu, tiba-tiba seseorang dari belakang menarik tangan Celine. Tidak sempat melihat wajahnya, orang tersebut terus menarik tangannya. "Astaga … Dyroth. Kau buatku terkejut saja," ucap Celine. "Ayo," ajaknya. Ketika dia berjalan, Celine tidak sengaja tersandung batu, hingga membuatnya tidak seimbang dan akhirnya hampir jatuh, untungnya Dyroth memegang perutnya, dan dia tidak jadi terjatuh. Mata Celine tidak sengaja melihat setitik noda berwarna merah di tangan baju Dyroth. Celine langsung menarik lengan baju itu, lalu menghapus hapusnya mencoba menghilangkan noda tersebut. "Apa ini?" Tanya Celine. Dyroth langsung menjauhkan tangannya itu kemudian menutupi dengan telapak tangannya. "Entahlah," jawab Dyroth. Dyroth langsung membuka bajunya, lalu membuangnya ke keranjang sampah di dekatnya. "Astaga! Brengzek kau! Cepat pakai bajumu," suruh Celine lalu menutup matanya. "Kenapa?" tanya Dyroth merasa tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan. "Pakai bajumu!" suruh Celine. "Aku tidak suka bajunya," balas Dyroth enteng. "Apa kau gila?! Orang-orang melihatmu," umpat Celine. "Benarkah? Apa mereka merasa jijik dengan itu?" tanya Dyroth dengan muka polosnya itu. Celine menarik telinga Dyroth, lalu dia menginjak kaki pria itu dengan sekuat tenaga kakinya. "Mata wanita-wanita centil sana melihatmu." Bagaimana tidak ada yang memperhatikan Dyroth. Badannya yang terlalu indah itu sangat menarik perhatian. Mata wanita tidak ada yang lepas dari tubuh dan wajah Dyroth. Semua orang berbisik memuji Dyroth. Bahkan sebagian dari mereka hendak mendekati Dyroth, tapi tidak jadi karena melihat Celine di sampingnya. Hal yang membuat Celine semakin kesal adalah ketika wanita-wanita yang bibirnya terlalu tajam itu mengejek dan menjatuhkan Celine. Bukannya memuji, wanita-wanita yang iri pada Celine malah mencemooh dirinya. Dyroth kemudian meraih pinggang Celine, sehingga mereka berhadapan. Mata mereka saling bersatu. Tangan Celine yang tidak sengaja terhayung menyentuh perut Dyroth yang cantik bentuknya. Tangannya Celine bahkan merasa nyaman karena menyentuh perut pria itu. Sampai dia saja tidak bisa mengontrol diri untuk melepaskan tangannya dari sana. "Seperti punya Darchen," celetuk Celine dalam hati. Setelah tersadar, Celine langsung menjauhkan diri dari Dyroth. "Apa yang kau lakukan?" "Agar orang tidak melihatku lagi," jawab Dyroth dengan mata tidak merasa bersalah. Seolah dia tidak menganggap yang dia lakukan itu adalah kelewat batas. Pria itu terlalu polos bahkan sampai batas hubungan pertemanan itu dia tidak paham. Celine sampai memukul keningnya sendiri karena merasa tidak berdaya. Hendak dimarahi pun tidak ada gunanya, pria itu tidak akan paham. "Orang akan beranggapan lain," ucap Celine sambil menutup mukanya, mencoba memaklumi kepolosan dari pria tersebut. "Hmmm? Aku hanya tidak ingin mereka memandangku seperti itu," balas Dyroth. Dia baru sadar kalau banyak mata yang meliriknya. Dia kemudian menutup tubuhnya dengan menyilangkan tangannya. "Dasar bodoh!" Cemooh Celine. Celine memengang tangan Dyroth lalu sedikit menyembunyikan tubuh pria itu. Walau hanya sedikit yang tertutup karena badann Dyroth yang terlalu tinggi, tapi setidaknya tidak terlalu menarik perhatian orang-orang. Celine memanggil kereta yang berlalu lalang, kemudian membayar kusir tersebut. Dia menyuruh kusir kuda itu untuk membawa mereka ke toko baju terdekat. "Naik," suruh Celine. Dyroth naik ke kereta mendengarkan perintah Celine. Dia teramat patuh pada Celine, sampai Celine merasa kalau pria itu memiliki gangguan jiwa. Sikapnya benar-benar tidak ada dewasa dewasanya. Celine merasa sedang bergandengan dengan anak kecil saja. Setelah beberapa menit di atas kereta, mereka tiba di pusat perbelanjaan. Celine memilih toko paling mewah. Bukan karena royal atau apapun itu, Celine hanya takut kalau di toko kecil tidak ada ukuran tubuh Dyroth. Badan pria itu seperti seorang pangeran, mungkin di toko kecil tidak kan ada ukuran baju seperti badannya itu. "Aku tidak pernah beli pakaian sebelumnya," sebut Dyroth saat pertama kali masuk ke dalam toko. "Ha? Yang benar kalau bicara. Celan dan bajumu tadi terlihat mewah," sangkal Celine. "Benarkah? Ini pemberian orang," jawabnya. "Dermawan sekali yang kasih. Aku salut jadinya," kata Celine. Sambil berbincang, Celine mangambil baju dan celana yang terpanjang. Dia menyuruh Dyroth mencoba. "Ayo coba," suruh Celine. Dyroth dengan muka linglung masuk ke ruang ganti untuk mencoba pakaian yang diberikan oleh Celine. Betapa terkejutnya Celine ketika melihat Dyroth dengan pakain berwarna serba hitam. Dia teramat tampan, sampai mulutnya tidak tertutup. Celine berdiri mendekati Dyroth. Lalu dia membuka kancing baju Dyroth beberapa, sampai d4d4nya terlihat. Celine menutup mulutnya kagum kemudian menggigit jarinya. "Astaga … aku harus membawamu ke duniaku," celetuk Celine hampir terharu melihat wajah Dyroth. "Hmm?" "Aku akan jadi manager hahahah." Celine tertawa tidak jelas. Pikirannya melayang-layang membayangkan sesuatu. Dia berangan bisa menjadi manager dari Dyroth. Entah berapa penghasilannya nanti jika pria setampan dan sesempurna Dyroth menjadi artisnya kelak. Mungkin dollar berada di tangannya. Bahkan Celine sudah membayangkan kalau dia akan kipas dollar dan juga tidur bersama dollar. "Ada apa denganmu?" tanya Dyroth. "Huh … kau pakai ini saja," hela Celine kemudian tersenyum menunjuk baju yang dipakai Dyroth. Segera mereka membayar pakian tersebut lalu pergi dari dalam toko. Mereka berjalan menjauhi Negeri Athiam, untuk pergi ke tempat dimana Dyroth ingin menunjukkan pada Celine. "Apa sejauh itu? Sampai kau sempat mengurungkan niat mengajakku ke sana," tanya Celine. " Kau sudah lelah?" Tanya Dyroth balik. "Tidak terlalu. Keringatku sudah keluar, bikin malas saja," umpat Celine. "Apa kau perlu digendong?" "Heeeeh! Gendong … gendong. Tidak usah, aku tidak lumpuh," balas Celine dengan mulut cerewetnya. Dyroth tidak menerima penolakan dari Celine. Dia mengangkat tubuh Celine lalu menggendongnya sambil berjalan. "Hey! Turunkan aku!" "Hussst … tenanglah sebentar," ucap Dyroth. "Aku tidak bisa tenang," jawab Celine membangkang. "Tutup mata dan jangan buka sampai aku menyuruhmu membukanya," perintah Dyroth. Celine langsung menutup matanya. Entah mengapa dia malah menuruti perintah pria polos itu, padahal dia yang selalu menuntun pria itu, kini dia malah terperintah. Ketika matanya Celine tertutup. Dia merasa terhayun. Seperti ada guncangan, tapi terasa lembut. Karena penasaran Celine membuka mataya. Dia hanya berniat membuka sebentar untuk memeriksa asal guncangan tersebut. "Ahhhhh!" Celine berteriak keras. Dia melihat ke bawah dan tanah tampak jauh dari perpijakan. Mereka berada di atas batang pohon yang tinggi dan besar. Celine langsung merasa pusing dan tidak bisa bernafas lagi. Dia terlalu takut karena ketinggian tersebut. Bisa-bisanya mereka sampai di sana, padahal tadi Celine masih menginjak tanah. "Jangan lepaskan tanganmu," ucap Dyroth. Celine langsung merangkul Dyroth. Dia melingkarkan tangannya di atas leher pria itu agar erat. Dia sudah membayangkan bagaimana jadinya jika sampai dia terjatuh. Mungkin nyawanya tidak akan bisa diselamatkan. Dengan rasa takut dalam hatinya, bahkan sampai tangan dan kakinya bergetar, membuat Celine tidak berani membuka apalagi melepaskan tangannya dari rangkulan itu. Dia menyembunyikan wajahnya dan terus mendekap erat Dyroth. Bahkan sampai pria itu tercekik pun dia tidak akan melepaskan tangannya dari dekapan itu. "Aku takut …" Celine merintih membisik. Dia sangat ketakutan sampai suaranya terdengar lirih dan bergetar. Setelah kata itu terucap dari mulut Celine, beberapa saat itu pula kaki Dyroth sampai ke tanah. Pria itu kemudian menyuruh Celine membuka matanya. "Ah, aku tidak mau. Tidak mau pokoknya," tolak Celine berkali-kali. Dia meronta-ronta dan terus mendekap Dyroth. Dia tidak berani sama sekali membuka matanya. "Sudah sampai … aduh, hentikan, aku bisa mati," ucap Dyroth. Pria itu hampir mati karena sesak dipeluk oleh Celine. Terlalu kencang sampai Dyroth tidak bisa bergerak. Ditambah berat Celine yang tidak ringan, membuat Dyroth hampir tercekik mati. "Nanti jatuh bagaimana?!" "Kita sudah sampai," jawab Dyroth. Celine pelan-pelan membuka matanya. Ternyata mereka telah menginjak tanah. Celine langsung melepas dekapnnya berpura-pura seolah tidak butuh bantuan Dyroth lagi. Dia membenahi gaunnya yang pendek itu, lalu memperbaikinya ikatan rambutnya yang rusuh. "Ekhem." Celine mendeham berpura-pura batuk agar tidak terlalu malu. Celine saat itu masih berputar kepalanya. Dia pusing dan tidak dapat fokus saat melihat. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali normal. Penglihatannya juga tidak berputar lagi. Dia disuguhi pemandangan yang begitu indah. Bunga-bunga yang bermekaran dan berwarna-warni membuat padang rumput itu indah sekali. Udara yang sejuk itu membuat Celine betah di sana. Dia tidak henti berdecak kagum melihat tempat itu. Terlalu indah jika hanya dikatakan dunia, bagai surga. Celine melihat Dyroth sambil tersenyum. Dia hendak mengatakan kalau dia bahagia sekali. "Sangat indah … indah sekali," puji Celine terus-menerus. Dia mengulangi kata-katanya tersebut bahkan sampai Dyroth tergelitik. "Tidak henti-hentinya kau mengatakan seperti itu," celetuk Dyroth sambil tersenyum. "Handphone ku tinggal di duniaku. Jika saja ada, mungkin aku akan memfoto tempat ini," ucap Celine. "Kenapa kau terus berbicara tentang duniamu? Aneh sekali," celah Dyroth tidak paham. Celine diam tidak memberi penjelasan. Dia sudah disibukkan dengan pemandangan di sana. Pikirannya tidak lagi tentang masalah apapun kini. Dia terlalu bahagia sampai tidak mendengarkan perkataan dari orang lain. "Kemari!" ajak Celine. Dia menarik tangan Dyroth hendak menunjukkan bunga yang amat langka baginya. Celine sekaligus ingin menanyakan jenis bunga apa itu. Berwarna ungu tua dan berdaun putih. Batangnya yang ramping membuat tampilan bunga tersebut sangat cantik. Seperti rose, tapi lebih indah bentuknya. Tidak dapat tergambarkan. "Apa namanya?" tanya Celine sambil menunjuk bunga itu. "Sezelia," jawab Dyroth. "Sezelia? Waw … cantik seperti namanya," balas Celine. Mereka menghabiskan hari di sana. Saling bertukar cerita dan melukis momen bersama. Dyroth tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang diberikan oleh Celine kepadanya. Bukan karena tidak bisa, hanya saja dia terlalu ditakuti oleh orang-orang sampai mereka lupa bagaimana memperlakukan Dyroth layaknya manusia. Dyroth pun heran melihat Celine. Bahkan sudah dikatakan tentang dirinya yang menakutkan itu, wanita itu tetap tidak menjauh. Wanita itu bisa dikatakan dapat menerimanya dengan lapang hati. "Apa kau akan terus bersamaku?" tanya Dyroth tiba-tiba pada Celine. "Yah, tapi kalau aku sudah kembali ke duniaku, kita mungkin akan berpisah," jelas Celine. "Aku tidak suka berpisah," balas Dyroth.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD