Lengang, awasuara. Angin bersilir-silir membelai tiap helai rambutku dalam syahdunya. Kala pandang berangsur pulih, aku sadar diriku kini berdiri di tengah padang selesa. Hanya pasir putih yang ada. Tak hangat maupun dingin, kendati mentari bersinar terik—kendati pegunungan raksasa mengepung padang tiah ini.
Kepalaku perlahan menengadah, mengamati kaki hingga punggung nan tak kalah megah. Tiap puncaknya yang beku menantang langit biru hingga hanya zenit yang tersisa. Itu membuatku tenggelam dalam rasa takjub di tengah damainya atmosfer tempat ini.
Sreek, sreek…
Kakiku bergerak dengan sungkan, meraba-raba halusnya pasir dan terus menatapinya dalam diam. Sekonyong-konyong, pigmen merah muncul, terserak di bawah kakiku.
Aku mengerjap sejenak, sebelum kembali menggerakkan kaki lebih lebar. Pasir merah itu kian menyebar, memantik rasa penasaran. Akhirnya aku berjongkok dan lanjut menggali dengan jemariku. Tak hanya merah—pasir hijau muda, merah muda, dan kuning tampak kala lubang baru sedalam pergelangan tangan terbentuk.
Tanganku kembali meraup pasir itu. Setangkup tangan, dua tangkup tangan, tiga tangkup...
Oh, tunggu.
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di sela jemari—sesuatu yang agaknya sedikit lebih besar dari butiran pasir. Perlahan, kugerakkan tangkupan tanganku yang penuh itu, seolah-olah tengah menapis dengan pengayak. Rasa penasaranku terjawab kala tiada lagi pasir tersisa.
Itu butiran emas. Emas sungguhan!
"Wah... aku kaya mendadak!" bisikku terkekeh pelan, menatap pendar kuning berkilauan di tangkupan tanganku dengan mata berbinar.
Rasa senangku meningkat begitu saja sampai tak sadar aku sudah menggelesot di atas pasir. Entah berapa lama aku membanggakan temuanku ini, tetapi aku tak berniat membawanya. Aku tak bisa mengantonginya. Padang inilah yang berbisik demikian—melalui desir pasir yang ditiup angin, melalui merpati yang lewat.
Di situlah aku sadar, aku hanyalah petandang yang diundang untuk melihat kepenggahan serta keajaibannya.
Aku bangkit, mengembalikan butiran emas itu dan mulai melangkah. Namun, semakin jauh, semakin aku merasa kerdil. Pegunungan raksasa itu… jika dibandingkan dengan diriku, mungkin aku hanyalah sebutir salju yang jatuh di punggungnya. Aku merasa sangat kecil, tak berdaya. Sepi yang mengelilingi padang ini kian merajam.
Mengapa hanya ada aku seorang? Apakah sebab saking luasnya tempat ini hingga aku tak bisa melihat keberadaan makhluk lain?
Semesta seakan tengah berbaik hati menjawab pertanyaan itu, sebab dari ekor mataku kini, kulihat sosok putih turut berjalan tenang di sampingku. Jubahnya nan putih metah nirmala berayun pelan seiring langkah. Hanya itu yang sanggup kulihat, hanya sampai batas pundak, sebab ada cahaya yang menghalangi mataku untuk melihat kepalanya.
Namun, aku tak merasa takut ataupun terancam. Aku tetap berjalan bersamanya. Kehadirannya tak terasa asing, pun akrab. Kendatipun demikian, sudut hatiku senang karena merasa ditemani di tempat yang tak kukenal ini. Senyumku terbit.
Entah mengapa, sunyi menjadi terasa lebih baik dengan hadirnya, sampai-sampai aku tak menyadari apa pun lagi…
⊹
⁛
⊹
Kelopak mataku terangkat kala syahdu berubah sepi. Langit-langit kamar yang familier menyambutku. Rupanya aku belum kembali ke marcapada. Pinar rembulan menjadi penerangan satu-satunya dalam kelam.
Tubuhku terasa berat dan letih. Aku mencoba bangkit dan baru kusadari… lagi-lagi aku tak sendirian.
Di kursi berlengan di depan jendela, ia ada di sana. Syllain. Ia tampak nyaman dengan buku hitam di tangannya, duduk menyamping, membiarkan rembulan menerangi apa yang tengah ia baca.
"Kau tidur terlalu lama," suaranya datar tanpa emosi, netranya tetap terpaku pada buku.
Aku mengangguk pelan, kendati benakku masih bertanya-tanya berapa lama aku telah terlelap.
Hening kembali merungkup. Aku memandangnya, menunggu ia kembali bicara. Namun, ia tetap diam, membiarkan senandung jangkrik mengisi lengang—mengubah atmosfer dingin menjadi lebih hangat, lebih nyaman.
Tungkaiku perlahan bergerak ke tepi tempat tidur, namun aku tak bangkit. Hanya menatapi kakiku yang kini berayun pelan.
Aku kembali kemari, masih dengan Syllain di sisiku. Dan sosok berjubah putih itu… entah mengapa terasa begitu dekat. Jangan-jangan, sosok itu merupakan perwujudan dari malaikat pelindungku?
Tap.
Beberapa saat kemudian, ia menutup bukunya. Pelan, namun sanggup membuatku tersentak. Ia pun menoleh dengan seulas senyum yang terasa asing sekaligus akrab. Pandang kami akhirnya bersua.
Syllain bangkit dari kursinya, menyambangiku yang terdiam seperti orang bodoh. Ia membungkuk sedikit, meletakkan punggung tangannya di dahiku. Sentuhannya terasa dingin, namun entah mengapa itu justru membuat pipiku menghangat, lebih-lebih manik kelabunya menatapku seakan tengah memeriksa reaksiku.
"Jangan khawatir," bisiknya pelan dan menenangkan. "Kau aman sekarang."
Alih-alih kembali ke kursinya, Syllain justru mendaratkan tubuhnya di sisiku. Riak tilam membuyarkan lamunanku saat ia meraih toples halwa pala yang tergeletak di meja sudut, lalu membukanya di pangkuan.
Namun, alih-alih menyodorkan toples itu padaku, Syllain justru mengambil sebutir dan membawanya tepat ke depan wajahku. Aku terkejut, namun aku tetap membuka mulut, menerima suapannya.
Syllain tak langsung menarik jarinya. Ibu jarinya menekan lembut halwa pala yang menyentuh lidahku, sebelum beralih menyapu bibirku dengan teramat halus.
"Kau lapar," katanya. Setelah tergeming sejenak, ia menarik jarinya.
Aku mencibiknya dalam hati. Ya, aku sangat lapar, jadi segeralah pulangkan aku ke duniaku agar aku bisa makan dengan tenang wahai setan yang terkutuk!
"Tempat ini... akan menjadi tempat peristirahatanmu," bisiknya, seolah sanggup membaca u*****n batinku.
Aku menatapnya menuntut penjelasan, namun ia tak memberi jawaban atas kalimat ambigunya. Jemarinya justru mengusap kepalaku dengan senyum yang bertahan di wajahnya. Sorot matanya terasa tulus, namun menyimpan bahaya yang tak terukur.
"Istirahatlah… dan sampai jumpa."
Detik berikutnya, mataku yang berat kembali terpejam. Tubuhku terasa ditarik ke kedalaman yang hangat, seolah jatuh bebas di antara bintang kemintang. Hening menulikan rungu sepenuhnya, hingga aku berhasil melewati bapra marcapada yang lekas mendekapku, mengembalikanku pada raga yang telah menunggu.