6.

2086 Words
Bell's POV Pulang ke rumah Jerry sebenarnya sudah sering aku lakukan. Rumah sepupuku yang satu ini sering kali dijadikan tempat berkumpul oleh Romeo, Daffa, dan aku. Selain memiliki banyak cemilan, Jerry juga memiliki paviliun di belakang rumahnya yang biasanya menjadi basecamp kami. Bisa dibilang Jerry sangat dimanja oleh om dan tanteku. Dia merupakan anak satu-satunya. Jadi wajar saja jika apapun yang ia inginkan akan terpenuhi. Aku memasukkan tanganku pada saku jaket karena merasa udara siang ini sangat menyengat. "Loh? Apa ni?" gumamku ketika merasakan ada suatu benda yang aku yakini adalah dompet, pada saku jaket ini. Aku mengeluarkan benda tersebut dan menemukan dompet lipat berwarna abu-abu gelap. Ternyata seseorang yang jenius bisa ceroboh juga. Berani meminjamkan jaket tetapi tidak mengecek kembali barang berharganya. Tidak ingin mengambil resiko dengan melihat isi dompet ini dijalan, aku pun kembali memasukkan dompet tersebut ke dalam saku jaket. "Eh, Bell. Lo mau tau sesuatu ga?" tanya Jerry ketika kami berhenti pada lampu merah. Aku yang semula duduk tegap pun membungkuk sedikit dan merapatkan diri ke arahnya. Aku menajamkan pendengaran ku dengan menyanggah  daguku pada pundaknya. "Apa?" tanyaku yang justru mendapat toyoran keras darinya. Nyaris saja aku terjatuh dari atas motor karena toyoran itu. "Lo apa-apaan sih?! Katanya mau kasi tau sesuatu, kok gue ditoyor sih?!" kesalku yang dijawab dengan tawa olehnya. Aku menghela nafas kesal lalu merapikan posisi helm ku yang ikut tergeser dari posisinya sedikit. "Ya lagian lo ngapain begitu? Udah tau gue gelian anaknya" omelnya lalu kembali menjalankan motornya setelah lampu merah telah berubah menjadi warna hijau. "Yaudah jadi apa?" sahutku sedikit berteriak agar suaraku tidak teredam oleh angin dan ia dapat mendengarnya. "Ha? Lo ngomong apa?!" jawabnya lebih keras dari suaraku. Kalau saja ini bukan di jalan, sudah aku layangkan sebuah hantaman pada helmnya. Aku sudah mengeraskan suaraku masih saja ia tidak mendengarnya. "Ya tadi lo mau ngomong apa?!" tanyaku lagi, kali ini benar-benar berteriak. Dia yang dapat mendengar suaraku pun tertawa dan mengangguk. "Nah gitu kan jelas lo ... apaan. Si ... sama Arsen ... tau waktu ... mau ... tas lo di kelas.." ucap Jerry yang sebenarnya tidak terdengar begitu jelas karena teredam suara kendaraan lain juga angin.  "Hah?! Ga kedengeran!" Jawabku dan ia tampak menghela nafasnya kesal.  "Tau deh!" sahutnya yang tidak aku jawab. Kami tidak melanjutkan percakapan di sisa perjalanan. Lagi pula percuma, tidak ada yang dapat mendengar suara satu sama lain.  Aku menghabiskan sisa perjalanan dengan merenungi kejadian di kantin tadi bersama Arsen. Bukan karena sikapnya yang mendadak lembut, manja, dan aneh yang aku pikirkan, tetapi sikapku yang bisa-bisanya tidak meledak padanya. Padahal jelas-jelas yang ia lakukan itu bukanlah hal yang aku sukai. Jika Kakakku atau teman-temanku berlaku seperti itu, reaksiku tetap akan marah bahkan bisa memukuli mereka. Kenapa justru aku merasa nyaman walaupun aku kesal dengan tingkahnya itu? Entahlah, tidak terlalu penting untuk dipikirkan.  "Sampaii.." ucap Jerry ketika motor yang kami kendarai memasuki halaman rumahnya. Aku turun dari motornya dan langsung melangkahkan kakiku masuk ke rumah minimalis ini lewat pintu depan, sedangkan si pemilik rumah kembali melajukan motornya menuju garasi. Tante Tania menyambut kedatanganku dengan senyuman hangat layaknya karakter ibu penuh kasih sayang pada cerita novel ataupun kartun. Berbeda dengan mama, yang selalu menyambut kedatanganku dengan omelan ataupun berbagai komentar lainnya. Aku memberikan senyum terbaikku untuk tante favoritku, melepaskan helm, dan menyalami tangannya.  "Tante makin hari kok makin cantik sih. Ga kayak mama yang kerutannya makin banyak." candaku yang dibalas dengan cubitan gemas pada pipi kiriku dan aku menyengir menampilkan dereten gigiku yang rapi. "Kamu ya, tante bilangin mama kamu nanti. Mama kamu juga cantik. Lebih awet muda dari Tante.." ucap Tante Tania membela mama. Aku tertawa pelan dan meletakkan ransel serta helm yang aku pakai di sofa.  "Jangan dong, tante. Nanti aku dijewer mama. Abisan mama galak sih, ga kayak tante kan kalau aku ke sini dapet senyum lembut terus." aduku yang membuat Tante Tania tertawa.  Aku melepaskan jaket kulit tersebut dan menyimpannya di atas ranselku.  "Ya, lo-nya aja kayak singa betina, masa mama lo mau jadi kucing persia? Yang ada dimakan ntar Tante Zinia sama lo." sahut Jerry lalu memeluk pundak Tante Tania dari belakang. Dia menjulurkan lidahnya mengejekku. "Wah belagu ni anak. Ngatain mama kayak kucing persia." kesalku dan memberikannya tatapan tajam. Kalau saja dia sedang tidak menempel seperti anak monyet pada Tante Tania, sudah aku terkam dia detik ini juga.  "Sudah-sudah. Ayo makan dulu. Tante masak Nila Bakar loh, kesukaan Anya 'kan?" ucap Tante Tania menengahi adu tatap antara aku dan Jerry. Tatapan tajamku seketika berubah menjadi mata yang berbinar penuh kebahagiaan ketika mendengar ada salah satu makanan kesukaanku tersaji di meja makan keluarga Jerry. Sedangkan Jerry menghembuskan nafasnya kesal, karena merasa kasih sayangnya terbagi. Ya, sepupuku ini tidak senang jika Tante Tania membagi kasih sayangnya padaku. Baginya, dia adalah satu-satunya yang harus dimanjakan. "Yang anak mami itu, aku atau Bell sih? Harusnya makanan kesukaan aku loh yang dimasakin." kesal Jerry mengeratkan rangkulannya, memanyunkan bibirnya, dan mendusel-dusel bahu Tante Tania. "Anya itu tamu, sayang. Tamu adalah raja. Kamu adalah anak mami. Udah gede, jangan ngerengek gini ah. Makanan kesukaan kamu juga udah mami siapin. Ayo Anya.." ucap tante lalu merangkulku menuju ruang makan. Aku melirik Jerry dan memberikan senyuman kemenangan padanya. Kali ini dia yang memberikanku tatapan tajam dan kubalas dengan kedipan mata (wink). Sangat senang dapat memanas-manaskanmu sepupuku sayang.  Semakin dekat dengan ruang makan, semakin aroma masakan yang tersaji di meja memenuhi indra penciumanku. Bau bumbu nila bakar dan rempah masakan lainnya mendominasi ruang makan yang membuat siapa saja akan tergugah seleranya. Terlihat berbagai macam menu telah tersaji di sana. Ada nila dan ayam bakar, tumis kangkung, sambal, udang cumi yang digoreng tepung, bakwan, kerupuk udang, serta es jeruk besar sebagai minumannya. Sebagai orang yang sangat suka makan, aku sudah tak tahan untuk melahap segala lauk pauk yang tersaji. Bunyi perutku bahkan kembali terdengar, walaupun tadi baru saja aku isi dengan nasi goreng. "Huu! Beuteung karet !" sahut Jerry menggunakan bahasa sunda yang sama sekali tidak aku mengerti. Jerry sangat fasih berbahasa sunda karena ia mendapatkan darah sunda dari Om Tommy. Jadi, sering sekali ia menggunakan bahasa sunda ketika kesal denganku atau mengejekku.   "Itu artinya apa?" tanyaku sambil mencuci tanganku di westafel dan menatapnya curiga dari pantulan cermin. "Cantik. Wle!"  Jawabnya disertai dengan juluran lidah. Dasar anak monyet! Aku yakin, sahutannya kali ini berupa ejekkan untukku.  "Stt.. Udah udah. Kalian ini di sekolah akur di rumah berantem. Udah ini makan dulu.." ucap Tante Tania menengahi. Aku dan Jerry duduk berhadapan dengan tatapan kami yang telah teralihkan menjadi sangat fokus pada lauk pauk yang tersedia di meja, terutama Nila bakar yang merupakan incaranku dan Ayam bakar yang merupakan incarannya. Sementara Tante Tania sibuk mengambilkan nasi ke piring kami.  "Lauk di rumah tante emang the best!" ucapku sambil mengacungkan kedua jempol. Tanpa berpikir panjang aku langsung saja memindahkan satu ekor ikan nila bakar ke piringku. Aku juga mengambil tumis kangkung, bakwan, dan tentu saja kerupuk udang. Aku mencubit daging ikan lalu menyocolkannya ke sambal dan memakannya bersama nasi juga kangkung, tak lupa juga mengigit kerupuk udang sebagai pelengkap. Ah! Nikmat mana lagi yang engkau dustakan kawan! Ini mungkin terdegar lebay tetapi aku merasa seperti terbang ke langit. Aku mengigit bakwan yang tadi aku ambil. Semakin lengkap kebahagiaanku. Sangat enak.  "Yaudah kalian lanjutin dulu ya makannya. Mami mau ke kamar dulu ya, mau bobo siang." pamit Tante Tania lalu meninggalkan aku dan Jerry yang sedang tenggelam dalam kenikmatan makan siang.  "Oh iya! Untung inget. Soal tadi yang di motor.." ucap Jerry memecahkan keheningan. Aku melihatnya sekilas menandakan bahwa aku mendengarkan lalu kembali menyuapkan makanan enak ini ke mulutku. "Si Arsen sama Romeo berantem. Waktu Arsen mau ambil tas lo di kelas." jelasnya. Sepele sekali ternyata cerita yang mau disampaikan Jerry. Aku tidak terkejut karena memang begitulah Romeo. Dia sedikit protektif padaku. Tentu saja ia tidak akan menyerahkan barang-barangku dengan mudah pada Arsen. "Kirain apaan. Romeo 'kan memang begitu. Wajar kalau berantem sama Arsen gara-gara tas gue. Apalagi Arsen ga izin ke gue dulu.." jawabku sambil menuangkan es jeruk besar yang ada di teko ke gelasku. "Bukan soal itu, tapi si Arsen. Ternyata dia jago banget adu fisik. Fisik dan otaknya jago. Romeo aja kalah sama dia. Makanya Romeo pasrah ngasihin tas lo ke Arsen tapi tetap pakai syarat, lo tetap harus balik sama gue." ucapnya menatapku yang tetap fokus menghilangkan urusan dahagaku daripada masalah ini. "Romeonya aja yang lemah bukan Arsen yang jago. Romeo lawan gue juga menang gue. Dah ah, abis makan ini gue mau balik ke rumah deh.." jawabku lagi yang kali ini dihadiahi sebuah toyoran dari Jerry.  "Lu apaan sih?! Sembarangan toyor-toyor orang! Nih.. Nih.. Rasain!" kesalku lalu mengembalikan hadiahnya dua kali lipat.  "Woi tangan lu abis makan ikan! Aduh duh! Rambut gue bau ikan nanti!" pekiknya berusaha menutupi kepalanya agak tidak terkena toyoran dariku. Siapa suruh dia melakukannya duluan. Sudah pasti akan mendapat balasan dariku. "Siapa suruh lo rese?" sahutku lalu beranjak dari meja makan ke tempat cuci piring. Aku mencuci piringku sendiri agar tidak merepotkan asisten rumah tangga Tante Tania. Sedari kecil aku dididik oleh mama untuk tidak merepotkan siapapun. Ya, walau kuakui aku sangat meresahkan di rumahku sendiri. Aku mencuci tangan dan kembali ke meja makan setelahnya untuk pamit dengan Jerry yang masih melanjutkan makannya. "Gue mau balik dulu, bilang ke tante ya gue pamit. Kunci rumah gue digantung di tempat biasakan?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan oleh Jerry. "Lo kira rumah gue warteg, abis makan pulang. Yaudah Hati-hati sana.." jawabnya ketus. Aku mengacak-acak rambutnya lalu berlari ke ruang tamu untuk mengambil kunci rumah yang dititipkan juga barang-barangku. Aku mengenakan jaket kulit serta ransel hitam dengan cepat, takutJerry mengamuk dan menyusulku ke ruang tamu. Aku mengambil kunci rumahku yang tergantung pada hiasan rak dinding lalu memasukkannya pada saku jaket.  "Oh iya, dompet." gumamku lalu mengeluarkan dompet tersebut dari saku. Aku kembali duduk pada sofa ruang tamu rumah ini untuk melihat isi dompet milik anak paling jenius di sekolahku. Awalnya tidak ada yang aneh dari dompet berwarna abu-abu ini, tampak sama dengan isi dompet pada umumnya. Uang tunai, kartu identitas, atm, dan kartu penting lainnya. Yang menjadi perhatianku adalah foto yang terselip di dompet ini. Foto itu sudah tidak dapat dilihat lagi gambarnya, 80% tintanya sudah luntur. Apakah orang jenius memang senang menyimpan barang rusak seperti ini? Mungkin. Mana tau kejeniusannya dapat mengembalikan foto itu menjadi bagus. Aku mengambil kartu identitasnya untuk melihat alamat tempat ia tinggal. Tak ada gunanya aku harus menyimpan jaket juga dompetnya, lebih baik segera aku kembalikan agar aku dan anak jenius itu tidak ada urusan apa-apa lagi. Karena alamat rumahnya cukup jauh, sebaiknya aku meminjam motor pada Jerry. Aku mengembalikan dompet tersebut ke dalam saku dan mengenakan helm. Baru saja aku akan kembali ke ruang makan untuk menemui Jerry, ia sudah lebih dulu menemukanku yang ternyata belum pulang dari rumahnya. "Lah? Gue kira lo udah balik. Baru gue mau ngunci pintu.." ucapnya menatapku bingung. Aku memamerkan deretan gigi putih rapihku. "Jer, gue pinjem motor lo ya? Mau ngembaliin ini.. dompet Arsen. Mana tau dia butuh." izinku pada Jerry. Dia menghela nafas lalu berjalan mendekatiku. Plak! "Arghh! Sakit bodoh!" pekikku ketika Jerry menoyor kepalaku dengan kuat. Yang membuat rasanya menjadi sakit dan sedikit pusing adalah karena aku sudah memakai helm dan itu menambah beban kepalaku. Aku menatapnya sinis dan dibalas dengan senyuman puas olehnya. Mengesalkan sekali rasanya ingin aku smackdown dia sekarang juga.  "Harus dibayar lunas dulu perbuatan lo tadi baru boleh pinjem. Nih kuncinya. Jaga motor gue baik-baik.." ucapnya lalu mendorongku pelan keluar dari rumahnya. Aku berbalik menghadapnya yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menutup pintu jika aku macam-macam. "Apa lagi? Mau tutup pintu ni,  jangan aneh-aneh.." tanyanya dan aku jawab dengan mengangkat kedua tanganku lalu menyatukan jari telunjuk dan jempolku membentuk simbol Love yang sedang naik daun dikalangan anak jaman sekarang. Jangan bertanya kenapa Bell yang sangat anti berbuat manis bisa sealay ini. Adegan alay sudah biasa aku lakukan jika meledek seseorang, terutama Jerry. "Pengen gue timpuk rasanya pake ini vas bunga.." bisiknya sambil tersenyum geram. Blam! Pintu di hadapanku pun tertutup rapat. Aku tertawa puas dan langsung berlari menuju motor Jerry yang terparkir di garasinya. Aku menaiki motor tersebut dan menyalakannya. Sedikit berkaca pada spion untuk memastikan bahwa aku tetap keren dengan helm yang jujur saja sedikit kebesaran di kepalaku. Andai saja ada kacamata hitam, pasti aku sudah seperti anak motor yang siap untuk riding. Sayangnya aku tidak memiliki barang-barang seperti itu. Ada, tapi jarang sekali aku gunakan. Bahkan,  sudah beralih kepemilikan menjadi milik Angga. Okay, semuanya sudah siap. Saatnya kita meluncur ke kediaman Arsen si laki-laki jenius itu. Semoga dia tidak menyebalkan jika di rumah. To Be Continue.. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD