Hanya Penasaran

1972 Words
"Sialan! Lama banget sih tuh orang!" Arsen mengumpat kesal diiringi kekehan Rafael di sampingnya. Gavin yang juga berada di sisi  Arsen yang lain, hanya melirik sekilas tanpa minat. Mereka bertiga sedang menunggu Bastian yang sedang mengambil mobil sport keluaran terbaru miliknya yang berharga selangit itu. Bastian memang merupakan anak dari pemilik perusahaan otomotif dan transportasi terbesar di Indonesia. Hampir setiap hari, Bastian pergi ke sekolah menggunakan mobil yang berbeda-beda. Katanya sih, daripada mubadzir di rumah tidak ada yang memakai. Padahal alasan yang sesungguhnya adalah, Bastian ingin memamerkan mobil-mobil kerennya kepada mereka bertiga. Benar! Sungguh sayang sekali dia hanya ingin pamer pada tiga temannya itu, bukan untuk menggaet seorang gadis manapun karena semua tau manusia penghuni sekolah tau bagaimana orientasi seksual seorang Bastian. "Tau gini mending gue tadi bawa mobil sendiri." Arsen masih saja mengumpat kesal. Dia lelah harus menunggu panas-panas di depan gerbang sekolah. "Yang sabar aja, bro! Lagian kena matahari dikit juga warna kulit lo nggak bakal berubah jadi hitam," cetus Rafael menepuk bahu Arsen. Memang benar. Arsen mempunyai kulit yang putih bersih, begitupun dengan Gavin dan Bastian. Hanya Rafael seorang saja yang berkulit sawo matang. "Bukan masalah itu," decak Arsen. Kini ia menyandarkan tubuh ke tembok sisi gerbang sekolah. Dia menyampirkan blazer hitam yang ia lepas ke bahu kanannya. Arsen memang tidak suka terlalu lama memakai blazer. Gerah rasanya. "Hari ini ke tempat lo kan, Gav?" Rafael mengabaikan Arsen, berbicara pada Gavin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dengan ekspresi datar pada siswa-siswi yang lewat di depan mereka. Banyak dari mereka yang memekik senang atau bahkan tersenyum malu-malu ketika tak sengaja bertemu pandang dengan Arsen maupun Gavin di sana. Tapi dua orang itu sama sekali tak mempedulikan tatapan memuja dari para siswi itu. Rafael mendesah. Dia menyadari fakta yang menohok hatinya. Sialan! Gue kalah ganteng kalau ada di sisi Arsen sama Gavin. Nggak bisa dibiarin, nih. Bisa-bisa reputasi gue sebagai penakhluk hati kaum hawa nomor satu di dunia musnah seketika. Wah, wah, wah! Nggak bener nih. Serius! Berdehem pelan tapi pasti, Rafael mencoba menarik perhatian beberapa siswi yang lewat itu. Rafael memasang senyum sejuta mautnya pada para siswi itu dan ... pria itu tersenyum semakin lebar ketika para siswi itu berhasil dibuatnya salah tingkah. Hahaha! Pesona gue emang beda! Nggak bakal ada cewek yang tahan sama pesona gue. Eh, kayaknya gue udah terlalu lama jomblo. Udah seminggu, ya? Wuah, gue harus cari mangsa baru. Harus lebih cantik dari yang kemarin. Rafael mengedarkan pandangannya, mengawasi setiap siswi yang keluar menuju gerbang sekolah. Tak lama kemudian, matanya melebar ketika menemukan sosok seorang gadis cantik berambut lurus sepinggang yang sedang berjalan bersama temannya. Gadis itu tampak sesekali tertawa menanggapi ocehan temannya. Rafael yang melihat ikut tersenyum. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari sebelum melancarkan aksinya. "Guys! Gue cabut bentar, ya. Ada urusan negara." Tanpa menunggu jawaban dari Gavin maupun Arsen, Rafael sudah berlari ke arah gadis itu. Gadis itu tampak bingung sejenak, tapi tak lama kemudian ekspresinya berubah jadi senyum malu-malu. Ya ... Rafael sudah memulai aksinya. Merayu gadis dengan senyum dan gombalan recehnya. Tak lupa juga mengeluarkan beberapa batang cokelat dari dalam ransel, hasil dari merampok Gavin untuk diberikan pada gadis itu. Jadi ... begitulah nasib cokelat-cokelat tak berdosa para secret admirer kedua pria bernama Arsenio Danial Afranzy dan Gavin Samudra Aldiansyah. Yang sabar ya, ladies ... cokelat kalian disalah gunakan oleh dua orang somplak itu. Setidaknya, Tuhan mencatat amal baik kalian. Amiin. *** "Oke! Gue bakal buktiin kalau gue udah nggak cinta lagi sama lo! Lo lihat ini baik-baik!" Bentakan seorang gadis yang berdiri tak jauh dari tempat Arsen berada, menyita perhatian Arsen sepenuhnya. Arsen sedikit mengangkat sebelah alisnya ketika melihat seorang siswi yang tampak familiar baginya. Gadis itu membalik badan 180 derajat dan kini dia sedang menatap Arsen lekat-lekat dari jarak beberapa meter. Arsen meneguk salivanya kasar. Arsen tau gadis itu. Dia yang selama ini dianggap oleh para korban bully-nya sebagai sosok Malaikat. Cuih ... Malaikat katanya? Bulshitt! Arsen selalu berdecih tak suka jika ada yang menyebut gadis itu bagaikan sesosok Malaikat. Helloo?? Mana ada malaikat nyungsep di bumi? Nggak punya sayap pula? Mana ada malaikat yang gender-nya perempuan? Karena Arsen sangat yakin 100% jika semua malaikat itu ber-gender laki-laki. Atau ... Argh! Lain kali dia harus menanyakannya pada Pak Sholeh, guru agama di kelasnya. Arsen mengerutkan dahi saat melihat gadis itu berjalan mendekat kearahnya. Tatapannya terlihat sangat kosong, tepat ke arah ia berada. Dan saat itu juga, alarm tanda bahaya tiba-tiba muncul di kepala Arsen. Mendadak perasaannya tidak enak. Arsen ingin beranjak dari sana dan menghindar tapi entah kenapa kedua matanya justru terpaku. Hati terkutuknya justru ingin tau pada apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Ia penasaran ... Gadis itu berjalan semakin mendekat dan dekat. Hingga dia berhenti tepat satu langkah di depan Arsen. Arsen sedikit memiringkan kepalanya karena bingung dengan sikap gadis itu. Tapi, gerakan gadis itu selanjutnya membuat Arsen terkejut bukan main. Jantungnya melompat ingin keluar dari tubuhnya. Perutnya terasa sedikit menegang dan kedua bola matanya melebar dengan sempurna. Tanpa Arsen duga, gadis itu menarik dasinya dan menjatuhkan bibirnya tepat di bibir Arsen. Tubuh Arsen menegang dan kaku untuk beberapa detik. Dia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Bola matanya bergerak, mengamati siluet wajah seorang gadis yang tengah terpejam dengan bibir yang masih menempel di biribirnya. Fuck! Bibir gue! Arsen mengumpat dalam hati. Dia baru ingin mendorong tubuh gadis itu namun gadis itu justru semakin memperdalam ciumannya. Tangan kanannya masih memegang erat dasi Arsen, sedangkan tangan kirinya kini dengan berani meraih tengkuk belakang kepala Arsen. Sebuah reaksi yang membuat Arsen kembali membeku. Hanya perlu tiga detik dan kini Arsen justru ikut memejamkan mata. Tanpa sadar, dirinya ikut larut dalam ciuman gadis itu. Arsen membalas ciuman gadis itu perlahan. Agak sedikit kaku karena itu merupakan ciuman pertamanya. Arsen membiarkan instingnya mengambil alih. Dia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis itu. Arsen menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Beberapa saat kemudian, Arsen merasakan ada yang hilang. Arsen tau jika gadis itu sudah melepaskan tautan bibirnya. Arsen berusaha mengatur detak jantung dan napasnya yang memburu. Baru kemudian, ia membuka kedua matanya dengan perlahan. Seketika itu juga, tepat saat Arsen membuka kedua matanya, dia mendengar suara riuh di sekelilingnya. Arsen mengumpat, baru menyadari jika dia baru saja berciuman di depan gerbang sekolah. Tentu saja semua siswa-siswi menyaksikan hal tersebut. Arsen mencoba tidak peduli. Beberapa murid tampak melongo tidak percaya dengan kejadian barusan dan beberapa lagi sudah memekik histeris. Arsen juga sempat melihat wajah tercengang seorang Gavin dan juga Rafael yang berdiri mematung dengan ponsel di tangan, tepat di samping dua orang gadis yang tadi ia hampiri. Menggerakkan bola mata, Arsen mengamati wajah gadis itu yang justru melihat ke sisi lain. Arsen tidak ingin tau apa yang sedang dilihat oleh gadis itu. Manik matanya lebih tertarik untuk bergerak kebawah hingga dia menemukan name tag gadis itu yang terpasang rapi pada seragam blazer kanan bagian atas. Fania Azalia Putri. Dan sudut bibir kanan Arsen sedikit terangkat. Dia akan mengingat nama itu baik-baik. *** Fani segera melepaskan ciuman bibirnya ketika ia mulai kehilangan napas. Sejenak, dia mengatur detak jantung dan napasnya yang sedikit memburu. Setelah agak tenang, Fani menoleh ke samping. Dia memperhatikan Eza yang berdiri tegang dengan kedua tangan terkepal. Raut wajahnya tampak memerah menahan amarah dengan rahang mengeras. Tentu saja Eza melihat semua dengan jelas. Pria itu mengumpat kasar sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam mobil sport putihnya. Tak butuh waktu lama, mobil itu telah melesat jauh dari sekolah Fani. Fani menghela napas lega. Matanya terlihat sedikit nanar. Sebenarnya Fani tidak ingin menyakiti hati Eza, tapi dia harus melakukannya. Lagipula jika dipikir-pikir, ini adalah jalan yang terbaik. Dengan begini maka Eza tidak akan mengganggu hidupnya lagi dan Fani bisa lebih cepat untuk melupakannya. Melupakan rasa sakit di hatinya. Benar, ini yang paling baik. Semuanya sudah berakhir, batin Fani. "Cantik." Bisikan lembut di telinga Fani membuat kesadaran Fani pada dunia sekitar kembali. Fani mengerjabkan mata beberapa kali dan melihat banyak siswa-siswi yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Gue suka ciuman lo." Fani tercekat mendengar bisikan pengakuan itu. Tubuh Fani menegang dan kaku seketika. Wajahnya berubah pucat pias. Fani berharap bumi mau menelannya hidup-hidup saat itu juga karena malu terhadap apa yang baru saja ia lakukan. "Lo ... suka sama dasi gue? Sampai kapan lo mau narik dasi gue terus?" Fani terkesiap mendapati tangan kanannya masih memegang erat dasi Arsen. Ia pun segera melepaskan tangannya. "S-so-sorry," cicit Fani gugup. Satu sudut bibir Arsen terangkat naik mendengarnya. Iris hitamnya terus menatap lekat ke wajah Fani yang kini terlihat sedikit memerah. Menyadari Arsen terus menatapnya  membuat Fani menjadi semakin gugup dan salah tingkah. Dia pun berniat untuk membalikkan badan dan segera lari kabur dari sana. Akan tetapi, baru sedikit bergerak saja, Fani sadar jika ada dua buah tangan yang sedang melingkar sempurna di pinggangnya. Dengan detak jantung yang tidak karuan, Fani memberanikan diri untuk mendongakkan kepala. Menatap tepat di manik mata hitam seorang Arsenio. Arsen sedikit terkejut ketika Fani kini menatapnya balik. Pasalnya, sedari tadi Fani sama sekali tidak berani mengangkat wajah. Tersenyum miring, Arsen mendekatkan kepala tepat di telinga Fani. "Ingin mencoba lagi?" Kedua bola mata Fani terbelalak sempurna dan secepatnya dia mendorong tubuh Arsen agar menjauh darinya. Arsen yang awalnya sedikit terkejut kini jadi terkekeh geli. Wajah Fani semakin merah seperti tomat karena malu. "Sorry." Sekali lagi Fani bergumam meminta maaf. Fani menundukkan wajahnya dalam-dalam tidak berani menatap Arsen. "Permintaan maaf ditolak!" goda Arsen sembari terkekeh geli. Fani mendesah panjang. Ia meneguk saliva dengan kasar sebelum mencoba sekali lagi untuk berani menatap Arsen. "Arsen." Fani menatap Arsen dengan tegas dan serius, membuat Arsen saat itu menghentikan kekehannya dan ikut menatap Fani dengan sebelah alis terangkat. "Anggap saja tadi nggak terjadi apa-apa." Fani menghela napas pelan. "Gue benar-benar minta maaf. Tadi itu nggak sengaja dan nggak seperti yang lo bayangin. "Sekali lagi, maafin gue dan lupakan yang terjadi hari ini. "Gue juga nggak akan nganggep ciuman itu sebagai apa-apa." Fani menganggukkan kepala dengan kaku sebelum berbalik dan pergi dari sana dengan wajah menunduk dalam-dalam. Fani benar-benar malu dan tidak siap melihat reaksi siswa-siswi yang sedari tadi menyaksikan mereka berdua. Memikirkannya saja dia tak mampu. *** Arsen masih diam mematung setelah mendengar semua perkataan Fani barusan. Dia hanya bisa menatap punggung belakang Fani yang tertutupi dengan ransel hitam kian menjauh. Ada sedikit rasa tak suka ketika mendengar ucapan Fani yang terakhir. Gue juga nggak akan nganggep ciuman itu sebagai apa-apa. Arsen mendengus kasar dan mengumpat dalam hati. Sial! "KYAAAA ...!!" teriakan heboh seorang Rafael membuat seluruh kepala yang berada di sana beralih menatapnya. Rafael acuh saja. Pria itu segera berlari meninggalkan gadis yang akan menjadi 'calon gebetannya' menuju tempat Arsen. Bodo amat. Yang penting gue udah dapet ID LINE-nya. "ARSENIO DANIAL AFRANZY! TEMAN GUE YANG PALING CAKEP SEANTERO SEKOLAH!! ELO ... ELO ..." Rafael menunjuk Arsen dengan kedua mata membulat sempurna dan bibir terbuka lebar. Rafael berakting dengan menunjukkan wajah paling dramatis yang sering dia lihat di sinetron FTV layar kaca Indonesia. Arsen mengerutkan dahi tak mengerti maksud dan tujuan dari seorang Rafael. Arsen menatap Rafael dengan bingung seolah bertanya 'lo gila?' Rafael yang ditatap bingung oleh Arsen mengabaikannya. Dia justru menoleh ke arah Gavin dengan wajah yang masih berekspresi dramatis seperti tadi. "Vin, Lo lihat kan apa yang barusan Arsen-" Rafael tidak melanjutkan pertanyaannya pada Gavin. Ia justru kembali menatap Arsen. Rafael menutup mulutnya dengan tangan sejenak lalu berteriak dengan kencang. "ASTAGANAGAAA! DEMI RUMPUT TETANGGA GUE YANG LEBIH HIJAU DAN ENAK DIMAKAN MESKIPUN GUE NGGAK DOYAN KARENA GUE BUKAM SAPI ATAU KAMBING... ARSEN GUE UDAH GEDE!! ALHAMDULILLAH YA ALLAH YA RABB! AKHIRNYA BIBIRNYA UDAH NGGAK PERJAKA LAGI. HUAHAHAHAHA!" Ingin sekali Arsen menonjok mulut Rafael saat itu juga. Namun, baru saja Arsen ingin melaksanakan niat tersebut, mendadak terhenti ketika mendengar celetukan kejam dari Gavin. "Apa gunanya? Nyatanya cewek tadi langsung nolak Arsen." Anjiirrrr!! Arsen mengumpat pelan, mengeluarkan semua sumpah serapah yang ia ketahui selama ia hidup. Ia menatap tajam pada Gavin dan terus mengutuknya, berkata tegas jika dia tidak ditolak. Harga dirinya benar-benar sedang dipermalukan.  Seperti tau diri, Rafael pun menghentikan tawanya. Ia mengusap dagunya pelan dengan dramatis sambil mengangguk-angguk kecil. Membuat Arsen dan Gavin yang melihat menatapnya dengan jijik. "Benar juga, sih." Rafael menepuk bahu Arsen pelan. "Yang sabar, ya. Bastian pasti siap kok buat nampung lo kalau lo butuh belaian." "Sialan lo!" umpat Arsen menempeleng kepala Rafael. Sekali lagi seluruh kata-kata kotor keluar dari mulut remaja itu. Dalam hati Arsen terus berkata, Nggak! Gue nggak akan biarin lo lepas gitu aja setelah nyuri ciuman pertama gue! Liat aja besok, Fania Azalia Putri ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD