Rosa menganggukkan kepala dia mendengar apa yang sahabatnya itu katakan. Dia hanya sedikit syok dengan semua yang terjadi. Dia pikir hidupnya itu sudah aman, damai, bahagia. Kalau bahagia memang iya. Dia bahagia dengan suami barunya tapi aman dan damai itu tidak bisa dia katakan damai karena masa lalunya terus mengikutinya.
Contohnya tadi. Mantan adik iparnya muncul dan marah dengan dirinya meminta dia kembali lagi ke rumah itu tujuannya apa? Kalau bukan untuk memanfaatkan dia. Walaupun jujur dia tidak ingin tapi gangguan dari mereka pasti membuat dirinya sangat meresahkan.
"Tidak perlu aku baik," ujar Rosa tidak perlu memanggil Abimana karena dia baik dan tidak mau Abimana marah dengan keluarga Bayu
"Ck, dasar mereka itu tidak tahu malu. Sudah jelas Rosa berpisah dari abangnya tapi masih saja berharap kamu menjadi istrinya. Niatnya itu jahat. Benar-benar luar biasa sekali itu cewek. Menyebalkan! Bisa-bisanya ada benalu seperti itu."
"Rossa, kamu harus hati-hati biasanya orang seperti itu akan bermain ilmu mistis mereka akan datang ke dukun dan mempengaruhimu. Banyak aku dengar seperti itu dia sudah bahagia dengan pasangannya eh tiba-tiba diguna-guna dan kembali lagi dengan pasangan yang menyebalkan itu."
"Dan kamu tahu dia dijadikan b***k lagi. Ih, itu banyak terjadi dan amit-amit cabang bayi. Semoga kamu tidak seperti itu, Rosa," ucap Nara yang membuat Rosa takut.
Begitu juga dengan Lia. "Aku pernah mendengar hal itu di kampungku dan itu sangat mengerikan dan ada juga yang sampai meninggal karena sakit hati ke kita. Aduh, serem lah. Sekarang ini kita doakan yang terbaik saja."
"Lagi pula,di sini korbannya itu Rosa. Dia sudah mengalah juga dan kenapa harus dia yang diganggu mereka. Sebenarnya sekarang itu masing-masing saja lah. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Begitu juga dengan Rosa. Kenapa harus ikut campur dan mengungkit masa lalu."
"Bukannya itu pilihan dari si Bayu. Bukan pilihan dari Rosa juga. Kamu jangan khawatir, Rosa perbanyak ibadah dan berdoa. Hindari mereka kalau ada mereka lebih baik pergi tidak perlu adu mulut seperti tadi. Apa kamu paham? Kalau perlu kamu berhenti saja bekerja tetap di rumah."
"Aku yakin Abimana bisa menafkahimu malah lebih dari gajimu yang sekarang. Jadi, kamu pikirkan itu. Atau diskusi dengan suamimu dulu mana enaknya." Lia mencoba untuk menenangkan Rosa agar tidak berpikir tentang hal-hal yang aneh seperti yang Nara ucapkan.
Walaupun memang ada tapi dia berharap sahabatnya ini tidak diguna-guna oleh keluarga mantan dari suaminya.
"Makasih dukungannya. Aku hanya serahkan kepada yang maha kuasa jika pun terjadi sesuatu. Aku tidak akan memaafkan mereka dan aku percaya Tuhan pasti melindungi aku dan keluarga kecilku nanti. Dan aku juga percaya kalau Bayu tidak akan melakukan itu."
"Dia tidak percaya hal-hal seperti yang kalian berdua katakan itu yang aku tahu dari dia selama hidup dengan dia. Dia tidak percaya hal-hal seperti itu tapi aku tidak tahu kalau ibunya apakah percaya atau tidak," jawab Rosa.
Nara dan Lia hanya bisa diam, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Bayu memang tidak percaya tapi kalau ibunya? Ibunya pasti percaya akan hal seperti itu terlebih lagi dia menginginkan Rosa karena Rosa sudah berubah dan kaya raya.
Sebagai orang yang materialistis tentu tidak akan melepaskan Rosa begitu saja.
"Ya sudah Rosa lebih baik kita pulang kamu bicarakan saja dengan Abimana seperti apa. Aku yakin dia pasti punya solusinya kamu jangan menyimpan ini sendiri jangan seperti dulu apa-apa sendiri."
"Kamu sudah menikah dan tentu suamimu pasti memiliki tanggung jawab atas dirimu jika terjadi sesuatu dia pasti yang akan diminta pertanggungjawabannya. Ingat, kamu harus terbuka aku yakin Abimana pasti percaya denganmu dan mendengarkan apa yang kamu katakan." Lia menasehati Rosa untuk memberitahukan kepada Abimanan tentang apa yang terjadi dengan dirinya hari ini.
Karena selama ini Rosa selalu memendam semua yang terjadi dalam hidupnya seorang diri tapi sekarang dia harus berubah untuk memberitahukan kepada Abimana kalau dia mempunyai masalah dan Abimana harus tahu itu.
Rosa menganggukkan kepala dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Abimana. Kesalahan dia dulu tidak akan diulanginya.
Ketiganya akhirnya memutuskan untuk pulang. Harusnya mereka bersenang-senang eh akhirnya gagal karena kejadian tadi hingga membuat mood mereka bertiga berubah dan mereka juga kasihan dengan Rosa jadi lebih baik mereka memutuskan untuk pulang dan akan bersenang-senang lagi nantinya.
Rosa yang sudah sampai di rumah tersenyum melihat Abimana yang sudah lebih dulu pulang.
"Kamu tidak ke kantor, Sayang ?" tanya Rosa kepada suaminya.
"Aku sudah dari kantor tadi Karena rindu denganmu jadi aku memutuskan untuk pulang. Bagaimana acara hari ini, apakah kumpul dengan kedua temanmu mendapatkan Ilham atau mendapatkan brondong muda yang lainnya untuk kedua temanmu yang jomblo itu?" tanya Abimana sambil mencolek dagu istrinya.
Abimana menarik Rosa untuk dekat dengannya dan memeluknya.
Rosa menggelengkan kepala dan mencubit perut Abimana karena berkata seperti itu.
"Aduh, Sayang. Jangan dicubit perutku nanti lepas kulitnya. Apa kamu mau kulit perutku lepas?" tanya Abimanan yang gemes dengan istrinya ini.
"Kamu juga sih nakal kami ke sana itu bukan mencari brondong. Enak saja kamu mengatakan itu. Kedua temanku itu mencari pria yang matang dan mapan jadi kedua temanku itu tidak mau berondong seperti kamu," jawab Rosa yang menatap ke arah Abimana dan mengusap pipinya.
"Benarkah begitu ? Kalau kedua temanmu itu tidak menyukai brondong sepertiku. Padahal, ya sayang aku ingin sekali memperkenalkan mereka dengan sahabatku mereka sama-sama brondong seperti aku lah."
"Mereka juga pengusaha hebat tapi karena kamu katakan kedua temanmu itu tidak suka berondong. Ya sudah aku akan cari yang lain," jawab Abimana sambil memeluk Rosa dan mencium pipinya berkali-kali.
Aroma Rosa benar-benar membuat dirinya tenang dan dia sangat menyukai aroma dari tubuh Rosa wangi Lili dan bunga mawar bercampur jadi satu hingga membuat dirinya sangat ingin dekat terus dengan Rosa.
"Alau memang ada temanmu yang baik, mapan dan juga tampan serta kaya raya kamu bisa berikan kepada kedua temanku itu tapi yang serius tidak boleh yang mempunyai sifat kekanak-kanakan dan tukang selingkuh. Berondong juga tidak apa lah."
"Aku itu tidak mau kedua temanku tersakiti. Apa kamu tahu patah hati itu tidak enak," jawab Rosa yang dianggukan oleh Abimana.
"Ya ... Ya, aku tahu patah hati itu tidak enak yang enak itu saat kita mulai naik ranjang dan bermain dengan cukup panas. Apa kamu mau, Sayang," bisik Abimana dengan cukup pelan sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Rosa mencari gundukan kenyal yang selalu dia mainkan saat tidur dan itu merupakan rutinitasnya sekarang.
Rosa yang merasa tangan Abimana sudah sampai di gundukan melotot dan dia menggelengkan kepala karena saat ini mereka ada di lantai bawah dan pelayan ada tapi di dapur. Walaupun di dapur tetap sana dia takut jika pelayan melihat kemesraan mereka.
Jangan di sini, Sayang. Banyak orang. Apa kamu tidak malu. Kamu mau tubuhku dilihat orang walaupun hanya wanita," bisik Rosa dengan pelan sambil mencubit kembali perut Abimana agar dia menghentikannya.
Tapi, Abimana tidak peduli. Dia terus bermain di gundukan kenyal miliknya Rosa sudah tidak tahan lagi dia ingin mengeluarkan suara manjanya namun berusaha untuk menahannya. Sambil mencoba untuk mengeluarkan tangan dari Abimana.
Abimana yang tahu segera mengeluarkan tangannya dan mengangkat Rosa. Dia juga sudah tidak tahan. Abimana ingin segera menikmati surgawi walaupun masih sore tidak masalah yang penting dirinya bisa bermain dengan Rosa.
Rosa yang diangkat oleh Abimanan melotot. Dan dia sangat malu karena dilihat oleh beberapa pelayan yang ada di rumah mereka dan pelayan tersebut hanya tersenyum melihat kemesraan dari majikan mereka.
"Kamu ini benar-benar ya. Malu tahu dilihat orang nanti apa yang akan mereka katakan tentang kita," rengek Rosa.
Namun, tidak dipedulikan oleh Abimana. "Memangnya kenapa kalau aku menggendong istriku. Emangnya salah kalau aku menggendong istriku tercinta ini, hmm?" tanya Abimana.
"Sangat salah terlebih lagi jika ada kami berdua," ucap seseorang dari belakang yang membuat Abimana dan Rosa saling memandang satu sama lain.