Clear

1309 Words
Beruntung BG sigap langsung menggendongnya, dan memanggil Dekka. Dekka menghampiri, bahkan ketiga sahabat BG pun mencoba menghampirinya namun tidak jadi begitu BG mengibaskan tangannya. Metta dan Cindy pun begitu terkejut, bahkan kini Metta tengah melamun dengan pandangan kosong. ======= Bagas dan Dekka membawa Abel ke UKS, beruntung ada Vina yang berjaga disana. Tanpa babibu BG meletakkan ke bed pasien, lalu bergantian Vina memeriksa dan mencoba menyadarkan Abel. Petugas UKS yang lain bahkan telah memanggil bu Windy, untuk memberikan pertolongan. Sementara itu Hp BG berdering, setelah melihat siapa yang menelphon dia segera mengangkatnya. "Hallo, iyaa om." "Nak Bagas maaf baru mengabari, tolong Abel dijaga yah, tadi berangkat agak pucat dan enggak bertenaga. Sepertinya agak kecapekan." Bahkan kini BG tak mampu berkata, harus apa, apakah dia katakan saja kepada ayah Abel jika sekarang putrinya sedang pingsan. "Baik om inshaalloh Bagas jagain, bila perlu nanti kalau enggak kuat saya ijinkan pulang." "begitu yah nak, baik terima kasih yah nak Bagas sudah membantu ayah." "Sama-sama om." Klik.. Setelah mendapat telphon dari ayah Abel BG mendapati Dekka keluar dari UKS, dengan sedikit merunduk. "Gimana Dekk..?" "Sudah sadar kok, tapi dia cuma diem aja. Gue bingung." "Ayahnya barusan telp, keknya bapaknya kerasa kalau anaknya ada apa-apa." "Beneran Gas."sahut Dekka, BG mengangguk. "Ayahnya bilang dia udah sakit dari berangkat tadi." "Pantesan dia lesu banget, kecapekan dia kayaknya." "He,embb kemarin pulangnya agak malem sihh." Tak lama bu Windy datang, dan sekedar menyapa mereka lalu masuk ke ruangan UKS. Setelah mendapat laporan dari Vina jika kondisi Abel tak baik berada disekolah, bu Windy memutuskan untuk mengijinkan dia pulang. Setelah mendapat surat pengantar dari bu Windy Vina menyerahkan kepada Bagas agar segera diantarkan pulang. "Abel Demam lebih baik dia istirahat dirumah, ini surat dari bu Windy." kata Vina. BG kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya dan Dekka. "Kev, bawa mobil." "Enggak kenapa..?" "Mau antar Abel." ucap BG lirih. Lalu dia mengeluarkan HP dan menghubungi seseorang. Tak lama dia keluar dan berpamitan pada sahabatnya. "Rik, titip kelas gue antar Abel. Ini surat dati bu Windy." "Bawa mobil siapa."tanya Kevin. "Punya Alan untung dia bawa." jawab BG. Alan adalah tetangga dekat rumah BG, dia dikelas X-3. Setelah berpamitan dengan sahabatnya BG mengambil Tas Abel dan Dekka, tanpa menghiraukan keberadaan Cindy dan Metta. Mereka berdua memandang sendu BG, dan sudah menebak pasti kenapa BG membawa Tas kedua sahabatnya. Bagas berlalu menuju kelas Alan menukar kunci dan kembali keruang UKS menjemput Abel dan Dekka. Saat masuk kedalam UKS, menyaksikan sang gadis pujaan terbaring lemah dengan bibir pucat membuat hatinya lesu. "Pulang yuk, gak enak bobok disini."Ucapnya lembut, lalu segera membopongnya. Dekka membawa Tas kedua temannya itu, lalu berpamitan pada Vina. Dalam hati Dekka berkecamuk, baru kemarin bahas, hari ini sahabatnya itu sudah terbaring lemah. Saat berada didepan lorong kelas X, banyak diantara mereka melongok keluar melihat siapa yang tengah lewat, bahkan Dekka melihat Metta pun memperhatikan keberadaan ketiganya. Dalam Hati Dekka ingin rasanya memaki sahabatnya itu agar dia sadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Namun sepertinya Metta pun sudah merasakan jika dia sudah bersalah kepada Abel. ~°~°~ Sesampainya dirumah Abel, bunda terkejut dengan kedatangan Abel dan kedua temannya. "Perasaan tadi baik-baik aja nih anak, kok jam segini udah balik."monolog bunda. "Ini kok udah pada pulang."tanya bunda "Abel demam bun."jawab Dekka "Ya alloh, kok bisa ayuk masuk."sahut bunda lalu mempersilahkan mereka masuk. Dekka mendudukan Abel di sofa ruang tamu, bunda mengambilkan alat kompresan. "Tadi berangkat kalau udah kerasa gak enak badan yah mending ijin aja nak, gini kan jadi ngerepotin temannya." ucap bunda. "Ahh enggak kok bun, kebetulan jam kosong."sahut Dekka. BG terus saja memandang gadisnya itu, dia nampak tak bersemangat jika tanpa Abel disisinya. Dalam pikirannya dia sudah tak ingin kembali ke sekolah. "Ini kalau Abel sakit pasti berhari-hari." ceplos bunda. BG dan Dekka mengernyit, jadi benar jika Abel sakit dia membutuhkan waktu yang lama untuk pemulihan. "Trus apa perlu dibawa ke rumah sakit bun."tanya BG "Enggak mesti nak, lihat kondisi jika typus yang kambuh berarti harus rawat." jelas bunda. "Kemarin telat makan kayaknya ini, trus kecapekan dan banyak pikiran juga."lanjut bunda. BG dan Dekka paham, apa yang dikatakan bundanya Abel sama seperti yang Abel katakan kemarin saat bertengkar dengan Metta. Selepas adzan dzuhur BG dan Dekka berpamitan pada bunda Abel, karena BG juga harus mengantarkan Dekka pulang. Sepulang kerja ayah begitu terkejut melihat anak gadisnya terlelap di sofa ruang tamu, bahkan sebelum bunda mengatakan kalau anak gadisnya itu diantar pulang teman-temannya ayah sudah mengira akan hal itu. Kini ruang tamu sudah di ubah menjadi kamar dadakan untuk Abel guna memudahkan bundanya merawat putrinya tanpa menguras tenaga. Mbok Yem pun diminta untuk menginap agar bisa membantu bunda. Si mbok memilih untuk ikut berbaring disisi Abel biar selalu ada saat dia membutuhkan sesuatu. "Kalau panasnya nggak turun, dibawa ke dokter aja yah takut typusnya." ucap bunda. "Panggil dokter home care aja bun yang bisa infus dirumah, biar bunda enggak banyak aktivitas kasihan adek bun" kata Abel, ayah mengangguk paham dan mengambil HP nya guna menghubungi dokter Adam. Abel memang langganan dengan dr. Adam, dia dan bunda sudah cocok dengan perawatan dari dokter Adam. Setelah Konsultasi dr. Adam menjanjikan akan datang pukul 9 malam menunggu asistennya selesai jam kerja. Untuk menjalani perawatan dirumah membutuhkan perawat yang tetap memantau terapi medis. Setelah dilakukan pemasangan infus dan terapi medis lainnya, Abel terlelap. Ayah dan bunda merasa lega. Bagaimana tidak sedari siang panasnya tak kunjung mereda. Perawat yang bertugas akan kembali saat infusan telah habis dan memberikan obat suntikan. Keesokan harinya. Abel sudah nampak sedikit membaik dari kemarin, Wajahnya terlihat tak begitu pucat. BG mengirim pesan akan menjenguk sepulang sekolah. Bubur yang sudah disuapi bunda sudah tandas, Abel tahu betul jika dia ingin cepat pulih dia harus banyak makan. Saat perawat datang mengganti infus, dan memasukan obat injeksi bertepatan dengan kedatangan BG dan para sahabatnya. "Jadi perawat enak enggak Mas." tanya Abel pada Dwiki perawat homecare. "Enak gak enak, semua pekerjaan pasti begitu, kenapa Abel mau jadi perawat." balas Dwiki pada pasien cantiknya itu. "Pengen sihh, tapi enggak tau juga ding." jawab Abel, Dwiki tergelak melihat tingkah lucunya, bahkan saking asyiknya mengobrol keduanya tak menyadari keberadaan BG dan yang lainnya. "Lhoo ini kenapa kok pada berdiri disitu, ayuk masuk."tegur bunda, Abel mendongak melihat siapa yang dimaksud. "Abel enggak tau bunda, sini sebentar yahh."sahut Abel, dan menyapa mereka. BG dan Teman-temannya melihat sudah banyak obat suntik yang sudah disuntikan melalui selang infus. Setelah selesai memberikan obat, perawat berpamitan. "Sudah enakan." tanya BG mendekati Abel. "Lumayan."jawab Abel sambil mencuri pandang pada sosok ditengah keberadaan teman-temannya. "Uhhhmm Bell..." potong Metta, lalu mendekat kearah Abel, BG yang mengerti situasi seperti itu bergerak minggir memberikan ruang untuk mereka berdua. "Maafin gue yah, gue terlalu egois."lanjut Metta yang sudah menitikan air mata. "Gue gak bermaksud Bell, sumpah, gue ada niatan nyakitin elo. Maafin gue please."ucapnya sambil sesenggukan. "Kamu gak perlu minta maaf Mett, asal kamu benar-benar tulus dan enggak pernah mencoba menghianati kata maaf dariku." "Ishh kamu ini, please otak gue cuma separuh jangan suruh mengartikan kata pusaka elo."ceplos Metta polos bahkan yang lainnya sontak tertawa. Abel pun tersenyum simpul. "Hemmm, yang penting jangan pernah coba-coba meragukanku."balas Abel, Metta pun mengangguk, memeluk Abel sambil menghapus jejak air matanya. Terdengar langkah dari arah dapur, mereka mencoba menguarkan suasana agar tidak terendus oleh bundanya Abel. Bahkan Kevin tengah membuat keributan dengan adu lempar dengan Riki. "Ayoo diminum dulu, camilannya sambil dimakan yah maaf bunda nggak punya apa-apa. Tapi tunggu sebentar bunda sudah pesanin abang-abang bakso kompleks."ucap bunda. "Wahh bunda repot-repot nih." "Iyaa bunda terima kasih." Setelahnya bunda memberikan Coklat hangat kepada Abel, karena efek obat yang disuntikan akan membuat mulut terasa pahit. Seolah sudah paham, bunda sudah mempersiapkan minuman itu untuk penawar. Sampai sore hari rumah Abel dipenuhi gelak tawa dari para sahabatnya, Abel merasa lega hubungannya dengan Metta sudah membaik. Mungkin dengan sakitnya ada hikmah dibalik semuanya. Tak hentinya Abel menyunggingkan senyum melihat tingkah konyol dari teman laki-laki dan perempuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD