Lampu kamar dibiarkan redup, hanya cahaya temaram yang membentuk dua siluet di balik tirai tipis. Bayangan itu saling mendekat, menyatu dalam pelukan yang hangat. “Asraf…” suara Prisha lirih, hampir tenggelam oleh sunyi malam. Asraf menunduk, dahinya menyentuh kening Prisha. “Aku di sini,” ucapnya pelan. “Tenang.” Tangan Asraf mengusap punggung Prisha dengan gerak perlahan, seolah meminta izin di setiap sentuhan. Prisha menutup mata, napasnya beradu dengan napas Asraf, lalu ia meraih kerah kemeja pria itu, mendekatkan diri. “Jangan pergi malam ini,” bisik Prisha. “Tidak,” jawab Asraf mantap. “Aku tak ke mana-mana.” Siluet mereka bergerak selaras, seperti dua nada yang akhirnya menemukan harmoni. Tak ada kata-kata berlebihan, hanya desah tertahan, genggaman yang menguat, dan jeda-jeda

