Bab 21. Persitegangan saudara

1045 Words

Asraf melangkah memasuki gedung perusahaan dengan langkah mantap, meski hatinya penuh pertimbangan. Tempat ini bukan sekedar kantor, ini wilayah yang sejak lama ia janjikan tidak akan pernah ia injak lagi. Namun keadaan memaksanya melanggar janji itu. Di lantai atas, pertemuannya dengan sang papi berlangsung singkat namun tegang. Tidak ada pelukan, tidak ada basa-basi. Hanya pembicaraan dingin tentang kepentingan dan konsekuensi. Begitu pintu ruang direksi terbuka, Laura sudah berdiri di sana. Tatapan perempuan itu tajam, rahangnya mengeras. Wajahnya yang serupa namun tak sepenuhnya sama dengan Asraf, garis wajah yang berbeda, aura yang berbeda, menjadi pengingat bahwa mereka memang satu ayah, tapi tidak pernah satu dunia. “Kamu janji,” kata Laura dingin, nyaris mendesis. “Kamu bilang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD