Bab 41. Menolak Apapun

1040 Words

“Bos, Nyonya menolak makan.” “Kenapa?” “Dia tidak lapar katanya,” jawab Yana. Prisha mengurung diri di kamar. Makanan yang disiapkan pelayan dibiarkan utuh di meja. Ia tidak lapar atau mungkin terlalu lelah untuk merasakan apa pun. Perutnya kosong, tapi dadanya jauh lebih sesak. Asraf melihat piring yang tak tersentuh, gelas air yang tetap penuh. Namun malam itu ia memilih diam. Tidak ada teguran, tidak ada bujukan. Amarah dan gengsi masih duduk terlalu tinggi di dadanya. “Biarkan,” katanya singkat ketika pelayan melapor. “Kalau dia tidak mau makan, jangan dipaksa.” “Tapi, Bos, apakah tidak keterlaluan?” “Keterlaluan? Apanya yang keterlaluan? Dia yang menolak, bukan aku yang melarangnya.” Jafar menyikut istrinya dan menggelengkan kepala. “Maaf, Bos,” ujar Yana menundukkan kepala.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD