Cahaya matahari menyelinap tipis dari balik tirai, jatuh di dinding dan lantai, membuat ruangan terasa lebih hangat dari malam sebelumnya. Prisha sudah sadar sepenuhnya. Wajahnya masih pucat, tapi demamnya turun. Ia bersandar setengah duduk di ranjang, selimut menutup tubuhnya hingga d**a. Asraf duduk di kursi dekat jendela, secangkir kopi yang sudah dingin di tangannya. Ia tidak benar-benar meminumnya. Sejak Prisha sakit, ada banyak hal di kepalanya yang terasa lebih berat dari urusan perusahaan mana pun. Prisha memperhatikan punggung Asraf lama sebelum akhirnya berbicara. “Asraf.” Asraf langsung menoleh, refleks yang terlalu cepat untuk seseorang yang katanya sedang lelah. “Kenapa, Sayang? Kepalamu pusing lagi?” Prisha menggeleng. “Tidak. Aku cuma… mau bicara.” Asraf berdiri, me

