Episode 19

2259 Words
Tiga Minggu sudah mereka pindah ke apartemen. Bukan semakin dekat, hubungan mereka malah semakin jauh. Agha yang selalu pulang malam dan lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor. Sangat jarang mereka makan malam bersama bahkan hampir tak pernah. Hari ini, kebetulan Agha pulang sore. Hanya ingin menjadi istri yang baik. Resha, sengaja memasak untuk Agha dan setelah selesai, Resha memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Agha karena sedari tadi Agha tak kunjung juga keluar kamar. Tok tok tok... Resha mengetuk pintu kamar Agha. "Masuk" balas Agha dari dalam. clek, Resha membuka pintu kamar Agha. Tak melangkah kedalam ataupun keluar, Resha masih berdiri di tempatnya. Agha tersenyum miring. "Kenapa? Senang ya lihat pemandangan indah?" Ini kali pertamanya Resha melihat tubuh apik suaminya. Selama menikah, jika Agha mandi, sudah di pastikan Resha akan keluar. Tak di pungkiri, Resha memang terpesona akan pemandangan indah yang ia lihat. "Masuklah Resha" ucap Agha sembari mengambil baju yang ada di lemarinya, seketika pula Resha membuang pandangannya. Tidak, Resha tak ingin masuk walau Agha menyuruhnya. Ia memilih berdiri di ambang pintu. "Makan malamnya sudah siap mas, Resha permisi dulu" katanya yang langsung meninggalkan kamar Agha, sebelumnya tak lupa Resha menutup kembali pintu kamar Agha. "Resha, apa kamu benar-benar tak menginginkanku" batin Agha. Mereka makan malam dengan diam. Hanya suara sendok yang mengiringi makan malam mereka. Ya, seperti orang asing. Selesai makan, Resha mengumpulkan piring lalu mencucinya. Selesai membereskan dapur, Resha ingin langsung masuk ke kamar namun Agha lebih dulu memanggilnya. "Re?" panggil Agha yang membuat Agha menghentikan langkahnya. "Mau tidur?" tanya Agha ketika Resha menoleh ke arahnya. "Tidak" jawab Resha. "Bisa temani aku nonton tv?" pinta Agha yang di anggukan oleh Resha. Tanpa banyak bicara, Resha duduk di sebelah Agha. Resha lebih memilih diam walau dalam hati, banyak yang ingin ia tanyakan. Namun ia urungkan. Agha, menggonta-ganti acara tv karena tak ada menarik baginya. Resha, tak mengerti dengan Agha. Pria itu memintanya untuk menemaninya nonton tv namun tak jelas acara yang di lihatnya. "Mas?" panggil Resha pelan tapi lembut. Dengan cepat Agha menoleh ke arah Resha. "Iya, kenapa re?" balas Agha tak kalah lembut. "Ee mas, boleh Resha minta ijin?" tanya Resha hati-hati, takut Agha tersinggung. "Buat?" balik tanya Agha. "Resha, mau jalan sama teman-teman besok" pupus sudah harapan Agha, padahal besok Agha mau mengajaknya jalan berdua tapi Resha sudah lebih dulu membuat janji. "It's ok" balas Agha singkat. Agha tidak boleh egois. Semenjak menikah dengannya, Resha memang tidak pernah jalan. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Lagian, Resha cuma jalan sama temannya, beda dengan dirinya yang terkadang masih suka menemui Qainara di belakang Resha. "Makasih ya mas" ucap Resha dengan bahagia dan spontan memeluk Agha. Gadis itu langsung melepaskannya ketika ia sadar. Resha, tersenyum canggung. "Maaf mas, kelepasan" ucap Resha sedikit malu. "Gak papa, bahkan kalau kamu mau peluk lagi, aku siap kok. Bahkan kalau kamu mau lebih aku akan memberinya dengan senang hati" goda Agha dengan senyum jahilnya. "Itu mah maunya mas Abi?" ledek Resha. "Memang kamu gak mau?" tanya Agha yang kini mengubah posisinya untuk bisa menatap Resha. Tak marah, Resha malah menimpali candaan Agha. "Mas Abi, tidak pernah memintanya" Seakan mendapat lampu hijau dari Resha. Agha menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Resha, perlahan Agha mendekatkan bibirnya dengan bibir Resha dan bibir mereka saling menyatu. Resha, kaget ketika Agha menyatukan bibir mereka namun perlahan, Resha membuka bibirnya. Memberi akses untuk Agha untuk memperdalam ciuman pertama mereka. Ciuman yang begitu lembut tapi memabukkan. Ini kali pertamanya mereka berciuman setelah menikah. Resha, tak menolaknya bahkan jika meminta haknya pun Resha tak menolak, ia tau betul kewajiban seorang istri. Baik Resha maupun Agha sama-sama menikmatinya. Tak munafik, Agha sudah menantikannya sedari lama dan kali ini, Agha tak ingin menyia-nyiakannya. Entah sejak kapan tangan Agha sudah berada di daerah sensitif Resha. Tak ada larangan dari Resha, Resha membiarkan tangan Agha bermain-main di lehernya. # Di kantor Agha tak bisa fokus akan kerjaannya. Ciuman semalamnya dengan Resha masih terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan bibir Resha masih sangat terasa di bibirnya. Berkali-kali ia memegangi bibirnya lalu tersenyum sendiri. Tak pernah terlintas dalam pikiran Agha jika Resha akan melayaninya sebaik itu. Agha juga tak menyangka jika Resha sangat pandai melakukannya. Gadis itu dengan mahir memainkan lidahnya di dalam mulut Agha. "Resha, di balik ke polosanmu ternyata kau begitu lincah" ujar Agha dengan senyum yang entah apa artinya. Agha, tak tau apa yang terjadi dengan dirinya dan ini juga bukan ciuman pertamanya tapi kenapa ciuman itu susah untuk ia lupakan. Apa karena seorang Resha? Agha terus melamunkan ciumannya semalam. "Loe kenapa gha?" tanya Arif yang baru datang yang membuat Agha kaget. "Bisa gak loe kalau masuk ketok pintu dulu?" tanya Agha dengan wajah kesal. Arif tersenyum. "Gue udah ketok sampe tangan gue pegel tapi tidak ada sahutan dari loe" balas Arif. " Tidak taunya loe lagi melamum?" lanjutnya dengan senyum menggoda. "Loe pasti lagi melamunin Resha ya?" "Iya dan loe mengganggunya" jawab Agha datar. "Mau apa loe kesini?" tanya Agha. "Danu sama Ical ngajak nongkrong tar malam katanya mereka kangen sama loe" "Sama loe juga?" "Yoi, mumpung gue lagi free" "Loe gak malam mingguan sama Ayu?" "Resha, gak bilang sama loe kalau mereka mau jalan?" "Ya dia semalam sudah minta ijin" Arif tersenyum. "Berarti tar malam kita cabut?" "Iya, bawel" *** Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya. Resha, Ayu, Salsa dan Edo memilih cafe sebagai tempat mereka untuk sekedar mengobrol. Sama halnya seperti Resha dan kawannya. Arif dan teman-temannya memilih cafe sebagai tempat menghilangkan penat dan kumpul bersama teman. Itu lebih baik dari pada menghabiskan waktu di club malam. Hari ini, kebetulan ada cafe outdoor yang baru buka ibukota ada band lokal juga untuk mengisi acara. Dan, cafe itu menjadi pilihan Agha dan yang lainnya. "Loe kemana aja gha, kagak pernah kelihatan batang hidung loe?" sambut Danu saat Agha baru datang. Sudah satu bulan lebih Agha tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan ini, kali pertamanya ia kembali menghabiskan waktu bersama temannya setelah menjadi seorang suami. "Banyak kerjaan" bohong Agha yang langsung ikut gabung bersama Danu, Ical dan juga Arif. "Kerja wajib gha tapi jangan terlalu di porsir juga" ucap Ical. "Lagian loe kerja terus, siapa yang loe cariin bro?" timpal Danu. "Istrilah masak istri orang" celetuk Arif yang mendapat tatapan tajam Agha. "Ya kali dia doyan bini orang" Ical menimpali kembali. "Loe pikir gue pebinor" balas Agha. Suasana cafe sangat ramai, karena cafe memang baru di buka hari ini dan pastinya, banyak promo makanan maupun minuman. "Sepertinya kita memang jodoh?" ucap Danu tiba-tiba. "Najis gue berjodoh sama loe" balas Agha yang masih menikmati makanan yang tadi ia pesannya. "Bukan loe, tapi dia?" ucapnya sembari menunjuk ke arah seorang gadis. Agha mengikuti arah jari Danu, mata Agha langsung terbelalak ketika melihat gadis yang di maksud Danu adalah Resha, istrinya. Entah kebetulan atau apa, tapi dua kali Danu bertemu dengan Resha dan selalu bertemu di cafe. "Dia sungguh cantik bak bidadari. Senyumnya, masya Allah membuat hati adem" puji Danu. Seketika wajah Agha berubah. Dia tidak suka ada laki-laki lain yang memuji Resha di depan matanya. Tapi, malam ini Resha memang beda. Gadis itu terlihat lebih cantik dan segar. "Eh Rif, itu Ayu cewek loe bukan?" tanya Danu yang melihat Ayu bersama Resha. "Iya, kenapa?" tanya balik Arif. "Boleh dong, loe mintain nomer telepon tu cewek sama Ayu" pinta Danu. "Bisa di atur" balas Arif sengaja. Ya, dia sengaja memanas-manasi Agha. Dia tau, jika sahabatnya mulai menaruh hati pada Resha namun tak berani mengungkapkannya. "Awas aja sampe loe ngasih nomer Resha sama Danu, gue pastiin hidup loe kelar" bisik Agha penuh ancaman. Arif tersenyum. "Cemburu?" bisik Arif saat melihat raut aneh di wajah Agha. "Makanya kalau punya istri tu diakui. Tar kalau udah di ambil orang lain, nyesel" lanjut Arif dengan senyum jahilnya. "Diem loe" balas Agha kesal. @@@@ "Sesuai kesepakatan kita kemarin, kita habiskan waktu bersama sampai pagi?" ujar Ayu. "Enggak, gila loe. Sebelum jam sepuluh gue udah harus di rumah" balas Resha cepat. "Gak seru loe Re, biasa juga loe iya-iya aja pulang pagi" protes Salsa. "Ya sekarang beda. Gue sekarang udah ada suami. Bisa dicincang gue sama suami gue kalau pulang pagi" balas Resha sembari menyeruput minumannya. "Alah bilang aja kalau loe takut suami loe di kelonin wanita lain" timpal Edo. Resha tertawa. "Otak loe emang cuma seputar kelonan doang, do" Ayu yang membalas dengan masih tertawa ringan. "Enak Re ya jadi loe, biar loe udah nikah tapi suami loe masih ngebolehin loe nongkrong" ucap Salsa. "Loe mau tau kenapa suaminya ngijinin dia jalan sendiri?" Salsa menggelengkan kepalanya. "Karena suaminya juga mau jalan dengan ceweknya" lanjut Edo dengan tawanya. Tak marah atau protes, Resha justru ikut tertawa dengan candaan temannya. Ia tau Edo tak pernah serius tapi terselip pertanyaan di dalam hati kecilnya. 'Apa benar yang di bilang Edo?' Sepertinya, lagu yang di bawakan band itu sangat pas malam ini. Ya mereka membawakan lagu Slank 'Ku tak bisa'. Semua pengunjung menikmatinya dan tak sedikit mereka yang ikut nyanyi namun dengan pelan. Tapi tidak dengan Edo. Dengan pede laki-laki itu ikut menyanyikan dengan keras untuk Resha. Sabar-sabar aku coba sabar Sadar-sadar seharusnya kita sadar Kau dan aku tercipta, tak boleh berpisah. Dan tak bisa jauh-jauh darimu Ku tak bisa jauh.. jauh... darimu "Edo malu?" ucap Resha saat melihat banyak pengunjung yang memperhatikan mereka. Tapi, di luar dugaan. Mereka memuji sikap Edo yang begitu manis dengan ke kasihnya. Resha, tersenyum menahan malu namun lucu bagi Resha. Kekonyolan Edo kali ini benar-benar di luar nalarnya. "Parah loe do, mereka pasti ngira kalau kalian pacaran" ujar Salsa setelah pengunjung kembali fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. "Tau loe, Do" timpal Ayu. "Bilang aja kalian iri pengen gue nyanyiin juga" balas Edo masih dengan senyum konyolnya. "Tapi loe emang parah Do, kalau suami gue lihat bisa mampus loe" kata Resha. Senyum konyol itu berubah menjadi sendu. "Janganlah kau bawa-bawa suamimu Resha. Aku tak masih tak rela melepas orang yang ku cinta bersama orang lain" ucap Edo dengan wajah yang di buat-buat semelas mungkin. Tak sedih, Resha justru tertawa ngakak melihat ekspresi Edo yang seperti itu. Bukan hanya Resha, Ayu dan Salsa pun di buat sakit perut oleh tingkah sahabatnya itu. "Wajah loe jangan loe buat begitu, udah jelek jadi tambah jelek" ejek Ayu, dan mereka kembali tertawa bersama. Arif tersenyum puas melihat wajah Agha yang tak karuan seperti itu. Sudah bisa di pastikan, Agha termakan api cemburu. Tak pernah Agha melihat Resha tertawa selepas itu dan yang membuatnya tak senang, bukan dirinya yang membuat Resha tertawa tapi orang lain. Apa yang laki-laki itu lakukan hingga membuat Resha bisa tertawa lepas seperti itu? dan kenapa Resha, tidak marah saat laki-laki itu tadi melakukan hal konyol? kenapa Resha malah tertawa seperti itu? Entahlah, kepala Agha pusing memikirkan itu semua. Di tambah lagi, Danu yang sedari tadi memuji dan memperhatikan Resha terus. Agha, menyabet kunci mobilnya lalu berdiri. "Mau kemana loe gha?" tanya Ical. "Pulang" jawab Agha singkat. "Ini baru setengah sepuluh bro, lagian besok juga hari Minggu, masak iya loe mau kerja lagi" kata Danu. "Kepala gue sakit. Gue pengen istirahat" bohong Agha. "Ya udah loe hati-hati. Ada perlu apa-apa loe telpon aja gue" ucap Arif yang mengerti mod Agha yang sedang terbakar cemburu. "Hm" balas Agha dan langsung pergi. Setelah sampai parkiran dan masuk dalam mobilnya. Agha mengirim pesan pada Resha, meminta gadis itu untuk menemuinya. My wife. Aku tunggu di parkiran cafe. Sekarang. Agha menunggu balasan dari Resha, namun ada sepuluh menit menunggu, tak ada balasan dari Resha bahkan batang hidung Resha pun juga tak kelihatan menghampirinya. Agha berdecak kesal. Mengingat Resha sebahagia itu karena teman laki-lakinya itu. Tak sabar lagi menunggu, Agha menelpon Resha. "Aku tunggu di parkiran cafe" ucap Agha ketika panggilannya tersambung. Hanya itu dan Agha mematikan kembali ponselnya. Tak perlu menunggu lama lagi, Resha sudah berada di parkiran. Namun, gadis itu terlihat clingak-clinguk dan Agha membunyikan klakson mobilnya, memberi tau keberadaanya pada resha. Dengan segera Resha menghampiri suaminya dan ikut masuk ke dalam mobilnya setelah Agha menyuruhnya untuk masuk. "Mas Abi kok_" "Siapa laki-laki tadi?" potong Agha sebelum Resha menyelesaikan kalimatnya. Resha, mengerutkan keningnya. Tak mengerti maksud Agha. "Yang merayu kamu tadi" lanjutnya dengan wajah kesal. Resha, bukan anak kecil. Ia tau Agha tidak suka. "Maksud mas, Edo?" "Hm" jawab Agha hanya dengan deheman. "Dia teman Resha, mas" jawab Resha jujur. "Tidak ada yang namanya murni teman antara laki-laki dan perempuan Resha" balas Agha dengan nada kesal. Resha, tersenyum. "Mas Abi cemburu ya?" goda Resha. Tak di pungkiri, Agha memang cemburu bahkan sangat cemburu namun ia gengsi jika harus mengakuinya. "Ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Agha sembari menatap lekat istrinya itu. "Hanya hubungan pertemanan mas. Lagian Edo tidak mungkin suka sama Resha. Resha bukan type Edo" balas Resha mencoba menjelaskan. "Aku laki-laki Resha, aku bisa lihat kalau Edo suka sama kamu?" Resha balas menatap Agha. "Aku tau siapa Edo mas. Dia bukan type laki-laki yang gampang suka dengan temannya sendiri apalagi dia tau kalau aku sudah menikah. Jadi sangat tidak mungkin kalau dia suka sama Resha" balas Resha. "Kalau kamu, apa suka sama dia?" "Mas Agha cemburunya sama orang yang salah" jawab Resha. "Aku sukanya sama oppa oppa Korea" jawab Resha dengan senyum jahilnya. Agha, tersenyum miring. Ada rasa lega juga di hatinya. Tapi kini yang jadi masalah tinggal Danu dan juga Qainara? Ia akan menyelesaikan urusannya dengan Qainara setelah itu memberi tau Danu tentang siapa Resha. Agha, ingin hidup tenang dan bahagia bersama Resha. Dia juga sudah merencanakan bulan madu bersama Resha dan dia akan menyatakan semuanya pada Resha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD