Setengah jam berlalu setelah Alyandra mendapat kabar yang sangat membuatnya terpukul. Gadis itu masih menangis di pelukan sang ibu yang terus mencoba memenangkannya dan mengatakan kalau tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Tetapi, Alyandra masih tetap tidak bisa menghentikan tangisnya. Bahkan, hingga suaranya sudah mulai menghilang. Ponselnya berbunyi berkali-kali tapi ia tidak berani menjawab panggilan tersebut. Ia takut dengan segala kemungkinan yang akan ia dengar dari sana. "Al, sudah. Itu HP kamu bunyi terus, Nak. Ibu angkat, ya?" Sang ibu mulai membujuk putri tunggalnya untuk menjawab panggilan tersebut. Namun, Alyandra menggeleng lemah dan membiarkan benda pipih itu berdering terus menerus. "Siapa tau penting, Al." "Al, gak, mau, denger..." ucapnya terbata-bata. Sang ibu

