Aira
"Baru nyadar???"
Aku hanya bisa mengedipkan mataku berulang-ulang sambil menatapnya. Perlahan kuperbaiki posisi dudukku menghadap ke depan.
"Ehem.." kunetralkan suaraku.
"Kenapa?" Tanya mas Air.
"Nggak. Gapapa."
"Udah clear sekarang? Mau cuekin mas lagi ga?"
Ya ampun. Betapa malunya aku mendengar semua pertanyaannya. 'Lagian apa-apaan sih kamu, Ra! Pake acara cuekin mas Air segala dengan alasan yang sebenarnya bikin malu diri sendiri.' Batinku
"Iya. Clear!"
"Oke!"
Mas Air segera melajukan lagi mobilnya menuju puncak. Kami sudah tertinggal lumayan jauh dari rombongan. Suasana sudah mulai netral.
"Jadi intinya nyuekin mas Air karna apa, Ra?" Tanyanya lagi, sengaja untuk menggodaku. Lihat saja senyum jail yang menghiasi bibirnya itu.
"Arghhhh, udah donk maaaaassssss!!!"
"Ga suka liat mas Air deket cewek lain, iya?"
"Auk ah bodo!"
"Cemburu gitu ya, Ra?"
"Ihhhhh!!!" Mas Air pun tertawa puas. Aku kesal. Sengaja kulayangkan cubitan-cubitan kecil ke lengannya.
"Eh, eh, eh, ga boleh gitu, Ra! Mas Air lagi nyetir! Kamu minta kita menepi lagi? Apa ga usah ke puncak sekalian?!"
"Ahhh bodo! Bodo! Bodo!" Masih terdengar tawanya nyaring. Sungguh memalukan, Airaaaa!
---
Butuh waktu sekitar 2 jam, kami baru sampai ke tempat tujuan. Tiga mobil lain sudah terparkir rapi didepan. Sedangkan kami baru saja sampai setelah perdebatan panjang, yang sebenarnya, tidak ada pentingnya.
Ah! Ada! Aku jadi tau kalau aku gadis yang selama ini mas Air tunggu.
Senang? Tentu saja senang. Kalo tidak senang, pasti tadi sudah kuperjelas tentang perasaanku. Tapi untuk mengiyakan, jujur saja aku belum yakin.
Dia memang satu-satunya pria yang mungkin menyita pikiranku akhir-akhir ini.
Ya! Aku rasa perasaanku berubah! Saat mereka SMA sampai mereka kuliah, aku hanya sebatas bahagia mempunyai dua kakak laki-laki yang menyayangiku. Perasaan ini mulai berubah saat mas Air sering sekali menginap di rumah. Menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluargaku. Saat itu mereka sibuk mempersiapkan skripsi mereka.
Yang kurasakan saat itu hanya satu. Nyaman. Aku ingin seperti ini terus.
Sampai akhirnya mas Air tidak pernah muncul sama sekali setelah aku mulai kuliah. Aku mulai terbiasa tidak bertemu dengannya. Mulai terbiasa tidak memikirkannya. Dan mulai terbiasa tanpanya. Bahkan terkadang aku lupa.
Disitulah aku merasa kurang yakin dengan perasaanku. Ah mungkin memang dia hanya seorang kakak bagiku. Tapi melihatnya akhir-akhir ini berinteraksi dengan wanita lain. Aku jengkel. Aku marah. Tapi aku hanya bisa diam.
---
"Lama banget sih? Kencan dulu apa gimana?" Sambut kak Keanu.
"Ih, Kak Keanu apaan sih?!"
"Kata Abi gue suruh berjuang, Nu. Ga boleh diem aja. Berjuang aja tetep tak dianggap." Sindir Mas Air padaku dengan wajahnya yang arghhh ingin sekali aku raup!
"Wah parah kamu, dek! Ganteng gini ga dianggap!" Mas Abi pun nimbrung.
"Ih apaan sih kalian?! Kalo mau dianggap ga usah dempel-dempel cewek lain. Bikin kesel aja!!!" Jawabku sambil langsung menuju ke tempat Anin dan Iburi berada.
.
.
.
Air
"Jadi gimana? Sukses pedekatenya?" Tanya Abi padaku. Sebenarnya aku sedikit kesal padanya hanya karena dia jujur tentang masalah 'cewek parkiran' yang membuatku uring-uringan beberapa hari ini.
"Lo bilang ke dia ya, Bi.."
"Bilang apa?" Keanu yang tak mengerti apa-apa kebingungan.
"Itu si mantannya Air lagi sering ke kampus kata Aira." Jawab Abi dengan santainya. Argh benar-benar kesal dengan ceplas ceplosnya itu.
"Ahhh.. Si Cla? Ngapain dia ke kampus lo?" Walaupun Keanu tidak terlalu dekat dengannya tapi dia sedikit banyak tau tentang cerita kami.
"Ada bahas student exchange. Katanya kami pernah ketemu juga di acara lo waktu itu, Bi. Lo tau sesuatu ga? Emang yang ngurus CCP ikutan ya?" Tanyaku penasaran.
"Ga ikutan sih, Ir. Tapi biasanya kami undang. Mungkin aja dia dateng pas itu dan liat lo. Trus lo gimana? Jangan macem-macem ya, Ir! Gue ga mau adek gue kenapa-kenapa!"
Aku paham kekhawatiran Abi. Dan mungkin dia secara tidak langsung bilang kalau Aira punya rasa yang sama. Hanya saja memang dia belum mau membuka celah untuk hubungan seperti ini.
"Ya ga gimana-gimana. Beberapa hari ini memang dia ke kampus. Sering malah. Makanya Aira sempet ga ada kontak beberapa hari ini setelah tau siapa dia."
"Ehem.." Aira datang bersama Anin membawakan beberapa cemilan dan minuman. Disusul dengan Bayu dan Melky yang baru saja selesai menata barang-barang yang kami bawa.
Ayadhi dan Iburi yang masih berada di dapur mengawasi kami dari jauh.
Ini liburan pertamaku bersama keluarga Aira. Aku dan Abi sudah sering melakukan perjalanan, tapi hanya kami berdua. Setelah kuperhatikan dari jauh Ayadhi dan Iburi sepertinya mulai mengerti perubahan sikapku kepada Aira. Mereka hanya mencoba untuk tidak ikut campur.
"Gibahin Aira, ya!"
"Yeee.. Pede abis sih, Dek!" Aku hanya tersenyum menanggapi jawaban Abi.
"Kak Keanuuu, aku belom sempet kangen-kangenan nih." Celoteh manjanya untuk Keanu membuatku sedikit geram. Begitu mudahnya dia mengatakan itu di depanku. Lalu apa itu, tangannya dengan santainya dikalungkan ke lengan Keanu.
"Iya nih, Ra. Kak Keanu sibuk banget jadi jarang balik kesini. Jasmine aja ga sempet-sempet tuh."
Aira sengaja mengabaikanku yang ada di sofa sampingnya dan tetap saja fokus berbicara hanya pada Abi dan Keanu.
Aku rasa kesabaranku cukup sampai disini. Kutarik tangan Aira untuk duduk di sampingku. Mau tak mau tangan itu terlepas dari lengan Keanu.
Mereka yang melihat tingkahku hanya bisa menahan senyum. Dan anak kecil yang di sampingku ini jelas dalam keadaan jengkel.
"Ih, Mas Air apaan sih?!"
"Duduk disini, ga usah gandeng-gandeng ga jelas!"
"Mas Air juga jangan tarik-tarik ga jelas!"
Masih dengan mereka yang memandang kami dengan pandangan yang menyebalkan.
"Jadi gimana? Masih pada bahas cewek parkiran?" Aku tau Aira mencoba mengungkapkan rasa jengkelnya. Tapi bukan seperti ini caranya. Aku jelas-jelas tidak suka
"Raaa.. Udah stop ga usah bahas lagi!"
Aira hanya mencebik dan kembali mengunyah cemilannya.
Arghhhh!!!
Rasanya aku ingin tidur saja.
---
Setelah kemarin seharian menghabiskan waktu dengan barbeque-an di backyard villa Ayadhi. Pagi ini kami hanya berencana santai di villa, kemudian pulang sore harinya. Mengingat esok hari semua harus bekerja.
Aku melihat Ayadhi sedang bersantai di teras villa. Sedangkan yang lain, Abi dan Keanu masih terlelap tidur. Aira, Anin, Bayu, Melky sedang jalan-jalan pagi entah kemana. Iburi seperti biasa sibuk di dapur menyiapkan segalanya untuk kami.
"Ga ikut jalan-jalan, Yah?" Sapaku kepada Ayadhi sembari memposisikan duduk di sebelahnya
"Nggak lah biar yang muda-muda aja. Kamu kenapa ga ikut?"
"Abi sama Keanu masih tidur gitu, Yah. Air nunggu mereka bangun aja."
"Nunggu mereka ya siang, Ir. Abi kalo udah wiken gini kesempatan tidur lama."
Akupun mengiyakan.
"Air juga kadang gitu kok, Yah. Mumpung libur. Sebelum kerja lagi."
"Iya bener. Rencana kamu apalagi, Ir? Sekolah udah lengkap, kerjaan udah ada, ada rencana apa dalam waktu dekat? Kata Abi kamu lagi pengen bisnis. Bener?"
"Ah iya,Yah. Tapi masih draft kasar, belom Air lanjutin lagi. Masih sibuk sama urusan kampus."
"Jangan sibuk-sibuk, nanti kayak si Abi tuh. Kerjaaa terus, tiap Ayah tanya soal jodoh bilangnya mau fokus kerja dulu. Lha kalo fokus sekolah, Ayah masih bisa ngerti, kalo fokus kerja ya sampe kapan?."
Wahhh. Ayadhi sudah mulai curhat soal anaknya yang memang belum mau ribet dengan urusan percintaan. Walaupun pada akhirnya nasibku dan Abi sekarang sama saja. Tapi paling tidak aku punya seseorang yang aku suka. Abi? Belum ada sama sekali. Keanu? Jangan tanya soal dia, dia sudah lama melepas masa jomblonya.
"Abi susah-susah gampang, Yah. Memang ga bisa di paksa."
"Kamu gimana, Ir?"
"Gimana apanya, Yah?"
"Udah mikir kesana? Kalian tuh udah dua puluh tujuh loh. Paling ga kayak Keanu tuh, udah ada gandengan."
"Cari jodoh kan harus selektif, Yah!"
"Iya, cari mantu juga selektif. Apalagi buat anak cewek. Jadi persiapkan diri ya, Ir!
Ayadhi kemudian beranjak dari kursi meninggalkan aku yang masih bingung. 'Maksud Ayadhi apa nih?'
---
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku melihat rombongan Aira turun dari mobil dan segera masuk membawa beberapa belanjaan.
Aku mengamatinya dari jauh. Aira dan aku punya beberapa kesamaan. Circle kami terbatas. Melihatnya hanya bertemankan Melky, Anin, dan Bayu seperti melihatku dulu bersama Abi dan Keanu.
Juga Cla.
Ingatan seperti ini membuatku gusar. Pasalnya intensitas Cla ke kampus akhir-akhir ini sangat sering. Menurutku bukan masalah besar jika dia datang hanya membahas pekerjaan. Tapi setelah urusan pekerjaannya selesai dia selalu saja memaksaku untuk mendengarkan semua alasannya.
Sesaat aku tersadar karena tepukan keras di pundakku. Aku melihat sekitar sudah sepi. Hanya tersisa aku dan Aira di teras vila
"Ngelamunin siapa? Cewek parkiran?" Fiuh.. Pembahasan Aira dari kemarin tidak jauh dari topik itu.
"Kenapa sih, Ra?" Tanyaku lembut, mencoba untuk bersabar.
"Kayaknya libur dua hari berasa lama ya sekarang. Ga ada yang bisa ditemuin disini. Kalo di parkiran kampus kan ada?!"
"Masih mau bahas itu, Ra?" Aira begidik sembari mengangkat kedua bahunya.
"Kalo mau bahas itu mas Air masuk dulu ya."
Aku melenggang masuk meninggalkan Aira dengan ekspresi yang sangat tidak ramah.
'Masih ga ngerti juga sih, Ra? Kalo udah ada aku sama kamu kenapa harus ngomongin dia?'