5. Gundah

1465 Words
Aira -Air- Ini Air, Ra! Mas Air Air Daniswara Mas Air??? w******p??? Dududu. Kenapa jadi senyum-senyum sendiri gini. Yang jelas aku senang saudara-saudara. Dari jaman SMA sampai sekarang, ini pesan pertama Mas Air. -Aira- Mas Aiiirrrr.. Mas Abi disitu ya? Pulang jam berapa? Tanyain ya.. -Air- Abi udah balik dari tadi Ini udah sendirian lagi di apartemen Besok kuliah, Ra? -Aira- Kuliah pagi, Mas.. Jam 9 Kenapa? -Air- Makan siang bareng lagi ya.. Janjian di parkiran aja, hehe See u -Aira- Okayyyy!!! "Deeekkk.. Airaaa.." aku juga dengar suara pintu kamarku diketuk. Ah Mas Abi sudah datang, saatnya sesi curhat. Maklum sesi curhat yang jadwalnya sepekan dua kali jadi numpuk karna Mas Abi harus ke Aussie 3 pekan kemarin. Sebenernya sesi curhat ini cuma obrolan ringan aja sih. Ga selalu ada masalah yang dicurhatin dan ga cuma aku yang cerita. Mas Abi pun terkadang cerita apa saja yang dia lalui sepekan ini. Waktu itu pernah Mas Abi cerita tentang bawahannya yang selalu memberi perhatian lebih. Namanya Mba Amel. Sampai sekarang juga masih kerja di kantor yang sama dengan Mas Abi. Karakter Mas Abi yang ceplas ceplos (sama sih kayak aku) bikin Mbak Amel keki dan memutuskan untuk berhenti pdkt-in Mas Abi. "Mas Abi baru sampe?" "Iya, Iburi nitip belanja dulu" jawabnya sambil melangkah masuk ke kamarku. "Aira tadi ketemu Mas Air. Sengaja sih Aira samperin, trus maksi bareng deh." "Iya, tadi Air juga cerita. Tumben dek, kamu keluar fakultas. Lagi sangat sangat kurang kerjaan ya?" "Ga tau deh, pengen aja ketemu Mas Air. Penasaran kenapa kemarin jutek. Mas Abi denger kan kemarin doi manggil Aira pake nama lengkap?" "Denger. Trus udah sembuh penasarannya?" "Katanya lagi capek aja. Masih aneh sih sebenernya, tapi ya mungkin emang gitu. Mas Abi ngapain aja hari ini?" "Pagi antar Iburi sekalian berangkat kantor. Trus jam limaan ke apartemen Air. Nothing special! Kamu ngapain aja, dek?" "Kuliah pagi, trus maksi sama Mas Air, trus kuliah lagi, trus sore ke toko buku itu sama Mas Dimas." "Dimas kayaknya naksir ya, dek? Rajin gitu kesini, walopun bukan malem minggu." "Mau tau aja apa mau tau banget???" "Dihhh. Kalo ga mau terima jangan kasih harapan loh, dek. Ga baik." "Iya iya, Aira ngerti kok. Mas Abi ga ada kepikiran gitu suka sama cewek? Mas Air aja ada yang ditaksir." Oke, aku emang sengaja bilang seperti ini ke Mas Abi. Mancing doi kali aja bocorin siapa orang yang beruntung dapet perhatian seorang Air Daniswara. "Ya ada lah, dek! Tapi kan ga semudah itu suka sama orang. Air tuh dari dulu ceweknya itu-itu aja, udah 4 tahunan mungkin suka sama tuh cewek. Itu cukup membuktikan 'move on itu sulit'." "Empat tahun??? Siapa? Siapa?" "Tanya sendiri donk ke orangnya. Udah dulu ya, Mas capek, besok jumat biasanya hectic." Begitulah selesainya sesi curhatku. Ya, aku harus maklum Mas Abi masih lelah. Mau tak mau akupun bersiap untuk tidur. Ting -Mas Dimas- Ra, besok maksi bareng yuk! Sekilas k****a dari homescreen w******p dari Mas Dimas. Ah, aku balas besok saja. Toh, aku sudah ada janji dengan Mas Air. Kuletakkan lagi hapeku di nakas tak lama setelah itu mataku pun terpejam. --- "Pagiii, Iburiii!" "Pagi, cantik! Kuliah jam berapa? Sarapan dulu sini." "Jam 9, Bu. Ayadhi mana? Mas Abi belum turun?" "Ayadhi masih urusin tanaman, sebentar lagi paling gabung. Mas Abi masih di atas. Panggil sana." "Abi udah turun, Bu. Berangkat sama siapa, dek, hari ini?" Kamipun menoleh ke arah suara. Mas Abi sudah siap dengan baju kerjanya. "Melky, Mas. Katanya bentar lagi sampe, mo ikutan sarapan disini aja." "Oh, rame deh sarapan pagi ini." Tak lama setelah itu Melky datang. Bersama Ayadhi memasuki rumah sambil ngobrol. Melky tinggal di kos, lima belas menit dari rumah. Om Hanzi dan Tante Mirya tinggal di Magelang, tanah kelahiran Om Hanzi. Maka dari itu Ayadhi dan Iburi selalu memperlakukan Melky layaknya anak sendiri. Melky pun sering berkumpul bersama kami di malam minggu. Jaman SMA dia sering menghabiskan waktu disini bersama Mas Abi dan Mas Air. Hidupku hanya dikelilingi orang yang sama. Dan merekapun saling mengenal dekat. Itulah yang membuatku selalu merasa aman. "Haiiii, Anak Kooossss!" Sapaku saat Melky memposisikan duduk di sebelahku. "Apa lo? Ibuuuu masak apa? Melky laper dari semalem belom makan." "Masak kesukaan lo, Mel. Tuh sepanci sop daging." Jawab Mas Abi. "Asekkk asekkk asekkk. Yok cepet sarapan, Ra! Abis itu langsung cus ya! Gue mo ke perpus bentar sebelum kelas." Kutanggapi dengan anggukan. Setelah sarapan kamipun pamit ke semuanya. "Lo nyetir ya, Ra! Gue ngantuk semalem kurang tidur." "Hmmm, alesan!" Akupun segera memposisikan diri dibelakang setir dan kami segera melaju ke kampus. "Mel, ntar pulang jam berapa lo?" "Sore kayaknya jam 5-an, kenapa?" "Gapapa, kalo jam 3-an bareng." "Katanya cuma kuliah satu doank? Bukannya jam 12 kelar?" "Iya, mo maksi dulu sama Mas Air, abis itu ada janji sama Mas Dimas katanya ada yang mo ditanyain." "Ikutan donk maksi sama Mas Air. Ya?!" "Ogah, males. Lo sama Anin n Bayu aja ya maksinyaaa" "Tuh dua anak ribut mulu, Ra!!! Berisik tiap maksi." Bayu, kembaran Anin. Aku belum cerita ya? Jadi mereka berdua saudara kembar yang jarang akur. Tiap hari selalu berdebat dari letak parkiran mobil, jam pulang bareng, siapa yang nyetir, semua jadi masalah buat mereka. Walaupun begitu kami sering menghabiskan waktu berempat di kantin kampus. Kalau kalian bilang hidupku ga seru. Kalian salah! Walaupun hanya punya segelintir teman, tapi mereka sukses membuat hidupku berwarna. . . . Air "Pulang jam berapa nanti, Ra?" "Aira udah selesai kelas kok, Mas. Tapi abis ini mau janjian sama temen dulu. Ada mau bahas novel yang jadi bahan skripsi dia, kebetulan Aira udah baca. Sharing thoughts aja sih. Dia juga ada kuliah jam 3. Ya abis itu Aira balik." "Kok udah skripsi aja temen kamu?" "Ituloh yang kemarin Mas Air ketemu di rumah juga. Mas Dimas." Aira menjelaskan semuanya, tidak kurang dan tidak lebih. Entah kenapa penjelasannya pun secara tidak langsung membuatku kesal. Dia sekarang ada di depanku membicarakan lelaki lain meski telah dia labeli sebagai "teman". Aira memang pintar, tapi aku yakin sebagai sesama lelaki, Dimas tidak mungkin mendekatinya hanya karena hal itu. Sorot mata Dimas jelas sekali menunjukkan ketertarikannya ke Aira. Tapi siapalah aku sekarang? Hanya teman seorang kakak yang telah mengenal Aira lebih dulu, bahkan sempat melewatkan dua tahun perkembangan gadis di depanku ini. Apakah wajar jika aku kesal? Apakah wajar jika aku marah? Sedangkan mungkin Dimas lebih banyak menemaninya daripada aku yang baru bertemu lagi. "Pulang bareng siapa nanti?" Tanyaku penasaran. "Ga tau, ojek kayaknya, nunggu Melky kesorean, Aira males kelamaan di kampus." "Bareng Mas Air mau?" "Emang Mas Air pulang jam berapa?" "Udah selesai kelas, tapi nunggu kamu sebentar gapapa." "Ga lah, ngrepotin." "Ya udah bareng Mas Air aja ya? Kayak tadi janjian di parkiran." "Beneran gapapa? Ga ngrepotin?" "Raaaa, sejak kapan ga enakan?" "Hehe.. Oke nanti kalo Aira udah selesai, Aira telpon ya?!" Akhirnya aku tersenyum lega. Ditengah makan siang kami Dimas datang menghampiri kami yang sedang asik berbincang. Raut wajahku memang tidak bisa diajak kompromi di saat-saat seperti ini. "Ra, udah daritadi?" Tanyanya yang masih tidak menyadari keberadaanku. "Udah, Mas. Sini duduk dulu. Tunggu aku selesai makan ya. Oh iya, Mas.. Kenalin ini yang namanya Mas Dimas." Aira memperkenalkanku dengan Dimas. Seketika Aira terlihat kikuk berhadapan dengan kami. Entahlah apa maksudnya, mengatur janji seperti ini. Setelah makan siang denganku, dia ada janji dengan lelaki lain. Ya Tuhan! Apa dia menganggapku lelaki? Lagi-lagi baginya aku hanya seorang kakak. Abi benar, Aira tidak akan mengerti semua sikap yang aku tunjukkan padanya bukanlah sikap seorang kakak kepada adik jika aku tidak memperjelas semua. Tapi semua ini terlalu cepat untuk kuutarakan sekarang. Aku hanya ingin sedikit demi sedikit Aira tau bagaimana perasaanku. Dan akupun tidak ingin muncul sebagai orang yang tiba-tiba mengobrak abrik hobinya. Aku sangat tahu kecintaan Aira kepada belajar dan sekolah. Masih teringat ketika Aira menghadapi ulangan atau ujian, semua aktifitasnya berakhir di kamar. Bahkan saat aku sering menginap di rumah Abi untuk mengerjakan skripsi, sering pula Ayadhi, Iburi, Abi, bahkan aku sendiri mengantarkan makanan ke kamar Aira. "Oh, saya Air. Aira sering panggil Mas Air. Panggil saja seperti itu." Akupun mengulurkan tanganku ke arahnya. Tak apalah, yang tua yang ngalah. "Saya Dimas. Pak Air kan ya? Ngajar matkul bahasa indo di semester bawah kan? Yang ketemu di rumah Aira juga ya Pak?" "Iya benar. Saya temennya Abi." "Oh, baru ngeh, Pak. Pas kemarin di rumah Aira liat sekilas aja." "Iya gapapa, ya sudah kalo gitu saya balik dulu ke kampus. Kamu bareng Dimas atau gimana, Ra?" "Iya bareng Mas Dimas aja, nanti kalau udah selesai Aira hubungi Mas Air, ya?" Kuanggukkan kepalaku kemudian pamit. Rasanya sudah malas berbasa-basi terlalu lama. Bukankah sudah terlihat jelas ketidaksukaanku. Lebih baik segera menghindar daripada harus meladeni pertanyaan-pertanyaan Aira nanti. Setelah memarkir mobilku, aku memutuskan untuk menunggu Aira di ruanganku saja. Ah, baiklah. Hari ini cukup membuat perasaanku up and down. Moodku pun sekarang mendadak buruk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD