“Siap-siapa ayahnya?” Pertanyaan terbata sekaligus menyelidik itu membuat Ara menyipitkan matanya heran. Sang sepupu yang biasanya sangat anti membahas mengenai mantan sekretaris magangnya itu tiba-tiba menjadi begitu tertarik setelah mengetahui putri semata wayang Alice. “Mm-maksud aku, kapan dia nikah?” ralat Andra masih terbata. Detak jantungnya yang selama tiga tahun terakhir begitu konstan dan tenang secara tiba-tiba ritmenya terus meningkat. Jika terus seperti ini, Andra bisa saja terkena serangan jantung tiba-tiba. Ara segera mengalihkan pandangan dan tampak tak acuh. “Punya anak gak harus nikah ‘kan? Nikah pun belum tentu punya anak, kayak kamu, Mas,” jawabnya. Andra belum puas, tetapi ia bahkan kesulitan merangkai kata untuk menyampaikan rasa penasarannya. Wajar saja, ia ada

